How to Get the Right Things Done

Peter F. Drucker was the inventor of "management by objectives" and has been described as the founder of modern management. He wrote some management books that I considered as must-read classics for all managers who want to get the right things done.


This blog post is my summary from "The Effective Executive", which was originally published in 1966, but still relevant to date.


To be effective is the job of the executive.

The executive is expected to get the right things done. Intelligence, imagination, and knowledge are essential resources, but only effectiveness converts them into results.


Photo by Brooke Lark


There are five practices that have to be acquired to be an effective executive:


#1 - Manage Your Time


Know where your time goes.

Do work systematically at managing the little of your time that can be brought under your control.


Start with finding out where your time actually goes.

Cut back unproductive demands on your time. Consolidate your discretionary time into the largest possible continuing units. Time is the limiting factor. The output limits of any process are set by the scarcest resource.


Identify and eliminate the things that need not be done at all.

Those are usually caused by lack of system (recurrent crisis), overstaffing, malorganization (excess of meetings), or malfunctioning information. Delegate activities that could be done by somebody else just as well, if not better. Eliminate the things that waste other people's time.


Control your time management perpetually.

Not only keep a continuing log and analyze it periodically, you should also set deadlines for the important activities, based on your judgment of your discretionary time.

Bersyukur: Sebuah Nilai Universal

Sama seperti sedekah, bersyukur juga merupakan salah satu ajaran yang bersifat universal. Jika sedekah lebih berfokus pada hubungan interpersonal antar sesama manusia, bersyukur lebih berfokus pada hubungan intrapersonal dengan diri sendiri dan dengan Sang Pencipta.

Tulisan ini merangkum berbagai referensi yang saya pelajari tentang pentingnya memiliki rasa syukur (gratitude/thankfulness). Semoga dapat menjadi pengingat bagi diri sendiri bahwa hanya dengan rasa syukur kita bisa mencapai kebahagiaan dalam hidup.


Photo by Gabrielle Henderson


Bersyukur menurut Judaism

"Hakarat HaTov" (הכרת הטוב) merupakan istilah dalam bahasa Ibrani yang menggambarkan bersyukur, dengan makna harfiah "mengenali kebaikan". Kewajiban ini tidak hanya sebatas mengucapkan terima kasih, tetapi juga mengakui segala kebaikan meskipun dalam situasi yang sulit. Sebagai contoh, jika kita kehilangan pekerjaan namun masih memiliki kesehatan dan keluarga, kita masih memiliki alasan untuk bersyukur. Dalam tradisi Rabinik, ada doa "Modeh Ani" yang diucapkan saat bangun tidur pagi, bahkan sebelum kita beranjak dari tempat tidur.

    Tips Menurunkan Berat Badan

    Tahun lalu berat badan saya terus bertambah. Dari yang awalnya sudah overweight sejak 2017, saya sempat hampir obesitas (87 kg) di awal masa pandemi. Usaha untuk menurunkan berat badan tidaklah mudah. Saya beberapa kali melakukan intermittent fasting dan high-intensity interval training, tetapi tidak berhasil karena tidak dilakukan dengan benar.

    Singkat cerita, akhirnya pada awal Agustus 2020 saya mulai memperbaiki gaya hidup dan berhasil menurunkan berat badan 15 kg dalam 3 bulan. Berat badan saya turun dari 87 kg (Agustus 2020) menjadi 72 kg (Oktober 2020), dan sekarang (Mei 2021) stabil di sekitar 68 kg.

    @ Tanah Lot, Bali (2020)

    Berikut ini adalah hal-hal yang saya lakukan, sekaligus menjawab pertanyaan banyak orang ketika melihat perubahan saya yang cukup signifikan.

    #1 - Temukan motivasi yang tepat.
    Saya sempat mengalami fase denial dengan menerapkan mindset bahwa kelebihan berat badan itu tidak apa-apa, yang penting kita bahagia.. Itu tidak tepat. Cari apa yang menjadi pain point utama kita. Setiap orang punya pain point yang berbeda-beda: masalah penampilan, masalah kesehatan, masalah apa kata orang, dsb. Pain point saya ternyata adalah masalah kecepatan berpikir, apalagi sejak terjadi perlambatan ekonomi tahun lalu saya seharusnya bisa berpikir lebih cepat (dan lebih baik).

    Setelah tau pain point nya apa, segera take action! Motivasi itu hanya titik awal, action akan menghasilkan momentum yang kita perlukan untuk membangun kebiasaan baru.

    #2 - Hitung target Indeks Massa Tubuh.
    Indeks Massa Tubuh / Body Mass Index (BMI) bisa dihitung dengan cara membagi tinggi badan kita (kg) dengan kuadrat tinggi badan kita (m2). Contohnya, tinggi badan 172 cm dan berat badan saya saat itu 87 kg, berarti BMI = 87 / (1.72 x 1.72) = 29.4, yang berarti saya overweight dan memiliki risiko kesehatan level menengah. BMI normal kita berkisar antara 18.5 dan 24.9, yang berarti berat badan normal saya seharusnya berkisar antara 54.8 kg dan 73.6 kg.

    #3 - Konsultasi dengan ahli gizi.
    Mula-mula saya riset dulu tentang semua makanan yang wajib dihindari dan yang dianjurkan untuk diet sehat. Saya banyak membaca artikel kesehatan, terutama dari Klikdokter, Alodokter, dan Halodoc, karena tulisannya sudah ditinjau oleh dokter sebelum dipublikasikan. Setelah itu, saya konsultasi dengan dokter ahli gizi (nutrisionis), sekaligus mengkonfirmasi validitas artikel yang saya baca, serta mendapatkan rekomendasi yang lebih personalized dengan kebutuhan saya.

    #4 - Hindari makanan yang tidak sehat.
    Daftar makanan ini umumnya tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi oleh siapapun, apalagi bagi orang-orang yang sedang menerapkan diet sehat.
    • Karbohidrat sederhana: gula, tepung-tepungan
    • Lemak jenuh dan lemak trans: gorengan
    • Margarin, lemak dari daging, kulit ayam, jeroan