Bersyukur: Sebuah Nilai Universal

Sama seperti sedekah, bersyukur juga merupakan salah satu ajaran yang bersifat universal. Jika sedekah itu lebih berfokus pada hubungan interpersonal (antar sesama manusia), bersyukur itu lebih berfokus pada hubungan intrapersonal (dengan diri sendiri) dan dengan Sang Pencipta.


Tulisan ini merangkum berbagai referensi yang saya pelajari tentang pentingnya memiliki rasa syukur (gratitude/thankfulness). Semoga bisa menjadi pengingat bagi diri sendiri bahwa hanya dengan rasa syukur lah kita bisa mencapai kebahagiaan dalam hidup.


Photo by Gabrielle Henderson


Bersyukur menurut Judaism

"Hakarat HaTov" (הכרת הטוב) merupakan istilah dalam bahasa Ibrani tentang bersyukur, yang makna harfiahnya adalah "mengenali kebaikan".

  • Kewajiban ini tidak sekadar mengucapkan terima kasih, tetapi juga mengakui kebaikan sekecil apapun meskipun di situasi yang tidak menyenangkan. Contoh: Seandainya kita kehilangan pekerjaan tapi masih memiliki kesehatan dan keluarga, berarti kita masih patut bersyukur, dsb.
  • Dalam tradisi Rabinik ada doa "Modeh Ani" yang diucapkan saat bangun pagi, bahkan ketika masih di tempat tidur.


Tips Menurunkan Berat Badan

Tahun lalu berat badan saya terus bertambah. Dari yang awalnya sudah overweight sejak 2017, saya sempat hampir obesitas (87 kg) di awal masa pandemi. Usaha untuk menurunkan berat badan tidaklah mudah. Saya beberapa kali melakukan intermittent fasting dan high-intensity interval training, tetapi tidak berhasil karena tidak dilakukan dengan benar.

Singkat cerita, akhirnya pada awal Agustus 2020 saya mulai memperbaiki gaya hidup dan berhasil menurunkan berat badan 15 kg dalam 3 bulan. Berat badan saya turun dari 87 kg (Agustus 2020) menjadi 72 kg (Oktober 2020), dan sekarang (Mei 2021) stabil di sekitar 68 kg.

@ Tanah Lot, Bali (2020)

Berikut ini adalah hal-hal yang saya lakukan, sekaligus menjawab pertanyaan banyak orang ketika melihat perubahan saya yang cukup signifikan.

#1 - Temukan motivasi yang tepat.
Saya sempat mengalami fase denial dengan menerapkan mindset bahwa kelebihan berat badan itu tidak apa-apa, yang penting kita bahagia.. Itu tidak tepat. Cari apa yang menjadi pain point utama kita. Setiap orang punya pain point yang berbeda-beda: masalah penampilan, masalah kesehatan, masalah apa kata orang, dsb. Pain point saya ternyata adalah masalah kecepatan berpikir, apalagi sejak terjadi perlambatan ekonomi tahun lalu saya seharusnya bisa berpikir lebih cepat (dan lebih baik).

Setelah tau pain point nya apa, segera take action! Motivasi itu hanya titik awal, action akan menghasilkan momentum yang kita perlukan untuk membangun kebiasaan baru.

#2 - Hitung target Indeks Massa Tubuh.
Indeks Massa Tubuh / Body Mass Index (BMI) bisa dihitung dengan cara membagi tinggi badan kita (kg) dengan kuadrat tinggi badan kita (m2). Contohnya, tinggi badan 172 cm dan berat badan saya saat itu 87 kg, berarti BMI = 87 / (1.72 x 1.72) = 29.4, yang berarti saya overweight dan memiliki risiko kesehatan level menengah. BMI normal kita berkisar antara 18.5 dan 24.9, yang berarti berat badan normal saya seharusnya berkisar antara 54.8 kg dan 73.6 kg.

#3 - Konsultasi dengan ahli gizi.
Mula-mula saya riset dulu tentang semua makanan yang wajib dihindari dan yang dianjurkan untuk diet sehat. Saya banyak membaca artikel kesehatan, terutama dari Klikdokter, Alodokter, dan Halodoc, karena tulisannya sudah ditinjau oleh dokter sebelum dipublikasikan. Setelah itu, saya konsultasi dengan dokter ahli gizi (nutrisionis), sekaligus mengkonfirmasi validitas artikel yang saya baca, serta mendapatkan rekomendasi yang lebih personalized dengan kebutuhan saya.

#4 - Hindari makanan yang tidak sehat.
Daftar makanan ini umumnya tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi oleh siapapun, apalagi bagi orang-orang yang sedang menerapkan diet sehat.
  • Karbohidrat sederhana: gula, tepung-tepungan
  • Lemak jenuh dan lemak trans: gorengan
  • Margarin, lemak dari daging, kulit ayam, jeroan

My Year in Review: 2020

It never gets easier, you just get better. 💪


This year is not that good for almost everyone. Many people lost their loved ones due to health situation. Many people also lost their jobs due to economic crisis.


Year 2020 showed us what essentials in our life and why we should be grateful. If we are still alive and have good relationship with our loved ones, these are more than enough to be thankful.


This blog post is an annual review of what happened in my life in 2020, what went well and what didn't go well, so I can learn something from the past year experiences.


Suitmedia Goes to Bali (2020)


January

I spent end-year vacation in Bali to attend my friend's wedding, returned to Jakarta on January 1st, and was greeted a flood. Our flight couldn't land at HLP and had to land at CGK airport. 😅


This month I felt productive since I wrote summaries of two my favourite books : The E-Myth and ReWork. Those are two of the most influential books for my professional life.


February

On February 10, we had a blessing to have a company retreat in Bali. We stayed in Bali for 3 days and some people extended their holidays. I feel really grateful for working with my current teammates.



On February 19, I joined Kelas Inspirasi Bandung and this time I took role as teaching volunteer after three years of being facilitator. This volunteering event was also the only Kelas Inspirasi that I involved in 2020 because there is no direct interaction in school during pandemics.