Building a Small Business That Works

"The E-Myth" is a classic business book, originally written in 1986 by Michael Gerber. This book is about why most small businesses don't work and what to do about it. The author updated this book in 2004 as "The E-Myth Revisited". I read this book few years ago when I felt frustrated at work due to balancing my role as entrepreneur, manager, and technician. This book helped me figure out that frustration is common among business owners and how to overcome it.

My team at Suitmedia Jakarta

This blog post is my collection of favourite paragraphs from Michael Gerber's "The E-Myth" as my personal reminder. I will also add some other videos – not from The E-Myth – but still relevant to this concept.



The Entrepreneurial Myth
The myth that most people who start small businesses are entrepreneurs, while there is a fatal assumption that an individual who understands the technical work of a business can successfully run a business that does that technical work. The fact is that most small business are run by Technicians and that technical work of a business and a business that does that technical work are two totally different things.



The Entrepreneur, the Manager, and the Technician
Everybody who goes into business is actually three-people-in-one: The Entrepreneur, The Manager, and The Technician.
  1. The Entrepreneur is our creative personality—always at its best dealing with the unknown, prodding the future, creating probabilities out of possibilities, engineering chaos into harmony.
  2. The managerial personality is pragmatic. Without The Manager there would be no planning, no order, no predictability.
  3. The Technician is the doer. “If you want it done right, do it yourself” is The Technician’s credo.


My Year in Review: 2019

"You don’t always get to choose what you work on, but you can choose how you work on it." – Jason Fried

This blog post is an annual review of what happened in my life in 2019, what went well and what went wrong. Hope we can learn something from here.

Sunset at Lapasi Beach, Lakoakelamo (West Halmahera)

Intermezzo: Google Year-in-Search is my most favourite year-in-review video in the last few years. Check it out!



January
I spent my new year's eve in Seminyak, Bali in a spontaneous end-of-year vacation, which I booked few hours before. I think it's a good idea to start a new year in a relaxing place, so we can think strategically what we should do in the upcoming 365 days.


At work, we finally had outing for the both business units together in Lembang, Bandung. It was two-days company gathering to know more about each other since we separated into two units. I learned that communication, collaboration, and good habits are very important for our growth, not only in professional life but also in personal life.


Tips Memulai Podcast

Podcast merupakan salah satu format konten yang sedang naik daun beberapa tahun terakhir. Kepopulerannya pun semakin meningkat di tahun 2019, antara lain ditandai dengan akuisi Gimlet & Anchor oleh Spotify, serta macOS Catalina pun mem-breakdown aplikasi iTunes menjadi Music, Apple TV, dan Podcasts.

Bagi yang belum familiar, kata "Podcast" sebenarnya berasal dari kata "iPod" + "broadcast". Awalnya, sekitar tahun 2004, Podcast memang dipopulerkan oleh pengguna iPod yang mendengarkan konten audio dari sebuah website. File-file audio ini disindikasi dalam format RSS, sehingga umumnya berisi beberapa eposide yang biasanya di-upload secara berkala. Pendengar bisa men-download podcast per episode, atau langsung semua episode sekaligus.

"Great minds discuss ideas; average minds discuss events; small minds discuss people." – Eleanor Roosevelt

Kali pertama saya mendengarkan Podcast mungkin sekitar tahun 2009. Saat itu 37signals (web development agency di US) baru launching podcast nya, obrolan seputar teknologi. Selain itu, saya juga beberapa kali mendengarkan podcasts buatan orang Indonesia, yaitu Teman Macet. Topiknya pun juga seputaran teknologi. Sayangnya, Teman Macet sudah tidak update lagi sejak 2011.

Saat itu mobile Internet belum secepat sekarang, jadi masih jarang orang yang streaming podcast secara mobile. Berbeda kondisinya dengan sekarang, di mana akses Internet jauh lebih baik, sehingga orang-orang sudah terbiasa streaming audio (Spotify, Joox, dsb) bahkan streaming video (YouTube, Netflix, dsb) secara mobile. Hal ini juga membuat Podcast kembali dinikmati.



Mengapa Podcast?

1. High Growth & Multi Platform
Di US, lebih dari setengah warganya mendengarkan podcast, dan bahkan 32% warganya mendengarkan secara reguler setiap bulan. Trend yang sama kemungkinan besar akan diikuti oleh netizen di Indonesia, dimulai dari kota-kota besar. Selain itu, ada berbagai platform yang sedang berlomba-lomba mempopulerkan konten podcast nya, antara lain Spotify, Apple Podcasts, Google Podcasts, SoundCloud, dsb. Hal ini tentu saja akan membuat penetrasi podcast semakin tinggi di masa yang akan datang.

2. Higher User Engagement
Orang-orang cenderung mengonsumsi konten lebih lama dengan podcast daripada dengan media yang lain. Ada banyak podcast yang memiliki durasi lebih dari satu jam per episode, dan surprisingly banyak juga yang mendengarkannya selama itu! Hal ini tentunya jauh sekali dibandingkan tulisan di blog yang umumnya cuma dibaca sekitar 2-3 menit, atau video di YouTube yang umumnya ditonton sekitar 4-5 menit.

3. Multitasking & Mobility Friendly
Podcast cocok dengan audience yang memiliki kesibukan dan mobility tinggi. Kita bisa mendengarkan dan belajar sesuatu dari podcast yang berfaedah, sambil mengerjakan hal-hal lainnya. Saya biasanya mendengarkan podcast sambil beres-beres apartemen, sambil sepedaan di CFD, atau sambil berkendara di tengah kemacetan Jakarta. Hal ini tidak bisa atau sangat sulit kita lakukan jika kita mencoba belajar dari YouTube karena ada unsur visual yang biasanya menyita lebih perhatian kita.

4. Communication Skill
Podcasting membantu melatih kemampuan komunikasi saya, mulai dari persiapannya sampai ke proses produksi. Saat persiapan, saya harus melakukan research terlebih dahulu terhadap topik yang akan saya bicarakan. Saat produksi, saya harus melatih diri untuk memperbaiki diksi, alur cerita, artikulasi, dan intonasi suara saya. Menghilangkan "hm.." atau "eee.." dalam berkomunikasi adalah hal yang tidak mudah bagi saya, jadi ini harus sering dilatih. Selain itu, podcasting juga membantu saya meningkatkan relasi pertemanan saya, di mana saya akan mengundang teman-teman saya sebagai narasumber yang inspiratif.