11 Lessons Learned from "The 4-Hour Workweek"

"The 4-Hour Workweek" is the first Tim Ferriss' books that I read three years ago. This book has some good insights which I agree and some I disagree. Actually there are even more insights from Tim's other books such as "Tools of Titans" and "Tribe of Mentors". But here are some lessons I learned from T4HWW.


Chilling at Nusa Dua, Bali (March 2017)


#1 - Different is better when it is more effective or more fun.

If everyone is defining a problem or solving it one way and the results are subpar, this is the time to ask, What if I did the opposite? Don’t follow a model that doesn’t work. If the recipe sucks, it doesn’t matter how good a cook you are.


#2 - What you do is infinitely more important than how you do it.

Effectiveness is doing the things that get you closer to your goals. Efficiency is performing a given task (whether important or not) in the most economical manner possible. Doing something unimportant well does not make it important. Requiring a lot of time does not make a task important. Efficiency is still important, but it is useless unless applied to the right things.


#3 - Focus on being productive instead of busy.

Doing less meaningless work, so that you can focus on things of greater personal importance, is NOT laziness. Being busy is a form of laziness—lazy thinking and indiscriminate action. Being overwhelmed is often as unproductive as doing nothing, and is far more unpleasant. Being selective—doing less—is the path of the productive. Focus on the important few and ignore the rest. It’s easy to get caught in a flood of minutiae, and the key to not feeling rushed is remembering that lack of time is actually lack of priorities.


Persiapan Resesi: Tetap Sehat, Terus Semangat!

Resesi artinya kelesuan kegiatan ekonomi, yang secara teknis ditandai dengan penurunan produk domestik bruto selama dua triwulan berturut-turut.


Perekonomian kita sebenarnya perlahan mulai pulih di triwulan ketiga ini. Di triwulan kedua yang lalu kita mengalami perlambatan ekonomi, di mana produk domestik bruto kita turun 5,32%. Di triwulan ketiga, saya melihat banyak bisnis mulai bangkit, meskipun belum sepenuhnya pulih.


Namun, selama akar permasalahan krisis ekonomi yang kita alami – yaitu krisis kesehatan akibat pandemi – belum diselesaikan, maka krisis ini belum akan berkesudahan. Ditambah lagi dengan ketidakcakapan pemerintah pusat dan pemprov DKI Jakarta dalam penegakan protokol kesehatan, PSBB terpaksa kembali dilaksanakan, dan hal ini pasti berdampak pada perekonomian kita.


Saya mencoba menggambarkan apa yang perlu kita lakukan saat ini (sebagai individu) supaya kita bisa lebih tahan resesi.



Memaknai Kemerdekaan

Tujuh puluh lima tahun yang lalu Soekarno, Hatta, dan para pejuang lainnya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dengan adanya proklamasi tersebut berarti bangsa Indonesia menyatakan diri sebagai bangsa yang bebas, melepaskan diri dari penjajahan. Para pejuang kemerdekaan menyatakan untuk berdaulat atas bangsa kita sendiri, mau membangun negara ini, tanpa campur tangan negara lain. Kita bersama-sama bertekad untuk membawa Indonesia maju, menjadi bangsa yang lebih baik daripada sebelumnya saat masih dijajah oleh bangsa lain.


Tahun ini acara 17-an di kantor cukup unik. Karena kita masih disarankan untuk bekerja dari rumah, jadi semua acarapun diadakan secara virtual, termasuk upacara bendera virtual. Tahun ini pula saya kali pertama diminta untuk membawakan amanat pembina upacara. Saya jadi merenungi sebenarnya apa makna kemerdekaan yang sesuai dengan konteks yang kita alami saat ini.


Upacara Bendera Virtual – Suitmedia 2020