Persiapan Resesi: Tetap Sehat, Terus Semangat!

Resesi artinya kelesuan kegiatan ekonomi, yang secara teknis ditandai dengan penurunan produk domestik bruto selama dua triwulan berturut-turut.


Perekonomian kita sebenarnya perlahan mulai pulih di triwulan ketiga ini. Di triwulan kedua yang lalu kita mengalami perlambatan ekonomi, di mana produk domestik bruto kita turun 5,32%. Di triwulan ketiga, saya melihat banyak bisnis mulai bangkit, meskipun belum sepenuhnya pulih.


Namun, selama akar permasalahan krisis ekonomi yang kita alami – yaitu krisis kesehatan akibat pandemi – belum diselesaikan, maka krisis ini belum akan berkesudahan. Ditambah lagi dengan ketidakcakapan pemerintah pusat dan pemprov DKI Jakarta dalam penegakan protokol kesehatan, PSBB terpaksa kembali dilaksanakan, dan hal ini pasti berdampak pada perekonomian kita.


Saya mencoba menggambarkan apa yang perlu kita lakukan saat ini (sebagai individu) supaya kita bisa lebih tahan resesi.



Tetap Sehat!

Ada banyak artikel tentang hal apa saja yang harus dipersiapkan menjelang resesi yang semuanya membahas tentang keuangan pribadi. Tidak salah. Malah banyak yang bermanfaat supaya kita bisa mitigasi risiko. Namun, menurut saya, untuk saat ini hal yang paling utama harus kita persiapkan menjelang resesi adalah kesehatan kita.


Kesehatan, baik fisik maupun mental, adalah aset utama kita untuk terus berkarya di situasi ekonomi apapun yang akan kita hadapi. Sehat adalah syarat untuk kita bisa menghadapi tantangan ekonomi dengan baik.


Untuk menjaga kesehatan fisik, kita perlu memperhatikan apa yang masuk ke dalam tubuh kita, lama istirahat yang dibutuhkan tubuh, dan aktivitas fisik untuk melatih tubuh.

  1. Makan yang sehat

  2. Tidur yang cukup
    • Supaya tetap sehat, terutama di musim pandemi saat ini, sebaiknya tidur 7-8 jam di malam hari untuk menjaga sistem imunitas kita.
    • Jika tidur kita di malam hari terganggu, coba tidur siang 30 menit untuk mengurangi tingkat stres dan tetap menjaga kekebalan tubuh.

  3. Rajin olahraga
    • Olahraga yang paling aman selama masa pandemi sebenarnya adalah yang bisa kita lakukan di rumah seperti lari di treadmill, lompat tali, senam aerobik, yoga, setidaknya 30 menit per hari.
    • Kalau tetap mau berolahraga di luar rumah, seperti jalan kaki, lari, atau bersepeda minimal 150 menit per minggu, pastikan mengikuti protokol kesehatan: pakai masker, cuci tangan, dan hindari kerumunan (jaga jarak).
    • Oya, berolahraga sambil terpapar sinar matahari secukupnya juga bagus buat kesehatan tubuh.


Sedangkan untuk menjaga kesehatan mental, kita perlu memperhatikan apa yang masuk ke dalam otak (dan hati) kita, hubungan kita dengan sesama manusia, dan pengenalan terhadap diri kita sendiri (self-awareness).

  1. Berhenti menonton berita
    Jika hanya untuk sekadar kita tahu (tidak diambil hati), itu mungkin tidak apa-apa. Namun, kalau kita membaca berita negatif lalu diambil hati dan terus kepikiran, ini perlahan merusak diri. Pikiran yang positif hanya bisa dibentuk dari asupan informasi yang bermanfaat.

  2. Jaga silaturahmi
    Meskipun stay at home, kita tetap perlu bersosialisasi dengan keluarga dan teman-teman kita karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial. Bersosialisasi bisa membantu kita mencegah depresi. Pilih-pilih teman dan jauhi toxic people. Tidak perlu malu untuk meminta pertolongan dari orang lain jika memang ada kesulitan yang tidak bisa kita hadapi sendiri. Telepon 119 untuk konsultasi kesehatan mental.

  3. Bersyukur dan berbuat baik
    Melakukan donasi atau berkontribusi di kegiatan sosial kerelawanan terbukti meningkatkan kadar kesehatan mental kita.


Terus Semangat!

Setelah kita menjaga kesehatan, lebih baik kita fokus pada solusi, berita baik, dan peluang yang ada, daripada fokus pada masalah yang dihadapi. Lebih baik kita mengalokasikan energi untuk hal-hal yang ada dalam kendali kita, daripada hal-hal yang di luar kendali. Rayakan setiap kemenangan kecil, bersyukur untuk setiap kemajuan. Saatnya untuk banyak berdoa, serta bekerja keras, cerdas, dan ikhlas.



No comments :