Mencatat Keuangan Pribadi

Banyak orang ketika di akhir periode tertentu bertanya-tanya selama ini uangnya dipakai buat apa. Saya dulu termasuk orang seperti itu. Saat kuliah lumayan dapat pemasukan yang cukup untuk level mahasiswa, dari proyek, honor asisten dan lain-lain. Tapi begitu sudah lulus, yang tersisa di tabungan dan yang berwujud barang rasanya kok cuma segitu saja XD. Nah, sejak saat itu, saya mulai banyak membaca buku atau artikel tentang finansial, termasuk tentang keuangan pribadi.

Setelah melakukan "studi literatur" tersebut, bisa disimpulkan bahwa langkah pertama untuk mengelola keuangan pribadi adalah dengan mencatatnya. Awalnya memang sangat merepotkan, karena harus mengingat-ingat dan mencatat pengeluaran setiap hari sepanjang tahun. Tapi lama-kelamaan, jadi terbiasa dan tidak menjadi beban.

GnuCash - Free/OpenSource Accounting Software

Ada dua tools yang biasa saya gunakan, yaitu spreadsheet dan software finansial. Tujuan keduanya sama, yaitu untuk budgeting dan expense tracking.

Kalau menggunakan spreadsheet (baik Excel, maupun LibreOffice), biasanya lebih fleksibel karena kita bisa mengatur tampilannya sesuai selera. Menurut saya, komponen yang paling penting yang harus ada di spreadsheet tersebut adalah anggaran belanja dan klasifikasi pengeluaran. Terlampir di akhir artikel ini, link untuk mendownload template financial report yang saya buat beberapa tahun yang lalu, yang saya update tiap tahun. Kita tinggal memilih jenis pengeluaran dan mengisi jumlahnya, nanti akan muncul akumulasinya di tabel dan sheet lain. Sedangkan untuk mengetahui statistik harian, kita cukup mengisi formula SUM sederhana per hari.

Tool lainnya, yaitu software finansial. Ada banyak software finansial yang ada di luar sana, antara lain Quicken, Microsoft Money, dan GnuCash. Dan software finansial favorit saya adalah GnuCash. GnuCash merupakan software finansial yang open source dan tersedia di semua platform: Mac, Linux dan Windows. Sistem pembukuan di GnuCash juga sifatnya double-entry bookkeeping. Jadi, setiap transaksi itu akan dicatat ke dua atau lebih akun, kredit atau debit. Dengan demikian, seluruh transaksi akan tercatat konsisten, jumlah uang yang "keluar" sama dengan yang "masuk". Kita bahkan bisa mencatat semua aset, rekening, pemasukan dan semua investasi kita menggunakan GnuCash.

Nah, setelah kita punya catatan pengeluaran sepanjang bulan, dari situ kita bisa menetapkan anggaran belanja (budget) bulanan untuk masing-masing kategori. Misalnya, budget untuk belanja buku tiap bulan sekian, untuk makan sekian, dan seterusnya. Dari data tersebut, kita juga bisa mengetahui di bagian mana kita harus lebih berhemat lagi. Dan pastinya, bisa membantu kita untuk menghindari "besar pasak daripada tiang". Cheers! :)

Download Financial Report 2012 (xlsx), alternatif: xls
Download GnuCash

"Divitiæ bona ancilla, pessima domina.
Money is a good servant, a dangerous master."
– Francis Bacon

My Year in Review: 2011

Di penghujung tahun, media-media massa biasanya menayangkan berbagai macam kaleidoskop. Ada kaleidoskop berita politik, berita ekonomi, berita olahraga, bahkan sampai kaleidoskop infotainment. Ada ulasan berita-berita yang menggembirakan, ada juga yang kurang menyenangkan. Sepertinya gak ada salahnya kalau seorang blogger ikut meramaikan akhir tahun dengan menulis post semacam kaleidoskop pribadi :)

Happy New Year 2012! (c) Mr Magoo ICU

Januari
Awal tahun 2011 saya punya "mainan" baru di kantor, namanya BeagleBoard. BeagleBoard itu single-board computer yang memakai system-on-a-chip OMAP3530 buatan Texas Instrument. Karena bukan project betulan, jadi belum sempat ngoprek banyak hal, cuma bikin graphic library kecil-kecilan, tapi lumayan bisa belajar lebih dalam lagi tentang embedded system :). Yang kurang oke di awal tahun 2011 adalah saya tidak bisa menepati janji ke @ramski2305 untuk NYE party di Seoul. Well, you were good on something and perhaps better than some, then you got more challenging task but less penny. Awkward enough, but that's life.. you can't always get what you want.

Lessons Learned from Samsung

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa pada tahun 1938, ada sebuah perusahaan di Korea yang membuat mie serta memperdagangkan sayuran, ikan dan buah-buahan. Meskipun sudah menjadi salah satu trading company terbesar saat itu, Lee Byung-chull, sang founder, tetap memperbesar usahanya sampai menjadi perusahaan yang sangat besar. Pada abad ke-21, perusahaan tersebut menjadi raksasa di berbagai industri, mulai dari elektronik, smartphone, semikonduktor, finance, chemical, entertainment, amusement park, otomotif, penerbangan, sampai pembuatan kapal besar. Dan kabarnya, grup perusahaan tersebut menjadi penyumbang ekspor terbesar (sekitar 20%) dari total ekspor Korea Selatan.

My first knowledge sharing seminar at SEIN. Newbie! XD

Think Smart. Work Hard.
Suatu hari, ketika makan siang di kantin, saya melihat video dokumentasi sejarah perusahaan di atas. Saat itu Korea baru saja mengalami perang saudara yang mengakibatkan kerugian yang sangat besar. Setelah perang usai, Lee mengembangkan usahanya di bidang tekstil dan gula, sebelum mulai fokus ke industri elektronik pada tahun 1969. Di video tersebut, diceritakan sejarah pengembangan Televisi dari TV hitam-putih, TV berwarna sampai menghasilkan LED 3D TV yang paling baik saat ini. Di video lainnya, ada sejarah pengembangan telefon seluler dari ponsel pertama yang diciptakannya sampai ponsel SGS yang laris di pasaran saat ini. Inti dari pemutaran video tersebut adalah untuk mengingatkan para engineer saat ini bahwa produk-produk unggulan tersebut bisa tercipta karena ada usaha kerja keras dari para engineer generasi sebelumnya. Kabarnya, engineer saat itu bekerja lebih dari 16 jam sehari untuk bisa menciptakan produk-produk tersebut demi bersaing dengan dominasi US dan Jepang di industri elektronika. Dan sekarang Samsung menjadi raksasa elektronika dunia.

Hard work really matters.
Saya jadi ingat dengan Thomas Alva Edison, orang yang jenius yang sesuai dengan definisinya, talented person who has done all of his homework. Ada salah satu kutipannya yang kurang populer (sedikit gila!), yang mungkin diadopsi oleh beberapa perusahaan dengan work pace tinggi.

I owe my success to the fact that I never had a clock in my workroom. Seventy-five of us worked twenty hours every day and slept only four hours and thrived on it. — Thomas Alva Edison.

Work Smart. Think Hard. Build Trust.
Terakhir kali saya berkunjung ke headquarter, ada slogan yang menarik yang ditampilkan di monitor di dalam lift di gedung R4, "Think Hard, Work Smart, Build Trust". Setiap orang diharapkan untuk berpikir lebih keras (tidak hanya berpikir cerdas) dan bekerja lebih cerdas (tidak hanya bekerja keras). Work smart berarti tiap orang diharapkan bekerja dengan cara yang kreatif, berkonsentrasi pada pekerjaan yang berarti, supaya ada keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Think hard berarti tiap orang diharapkan menyumbangkan ide-ide kreatif (apalagi yang bisa dipatenkan) dan saling berbagi pengetahuan (knowledge sharing). Lalu, Build trust, hubungan kerja profesional itu didasari dengan trust yang dibentuk oleh setiap orang bahwa masing-masing akan mengerjakan bagiannya dengan baik.

Long story short, what I learned most from this Korean company is.. hard work really can beat talent (especially if talent doesn't work hard), just see how East Asian countries are running ahead European countries right now.

In the end, I thank Samsung for making me become a good engineer (I think XD). I really enjoy my time there working with international-class engineers to create world's best products. Hopefully, my new adventure here will also let me create best products with my freedom of creativity. Cheers! :)

PS: Draft tulisan ini sebenarnya sudah saya buat sejak lebih dari 2 bulan yang lalu, berbarengan dengan email bersubject "Thank You & Happy Chuseok / Have a Blessed Day". Sayangnya, membuat tulisan testimonial perpisahan itu ternyata susah sekali buat saya XD haha.. Beginilah jadinya :p