Showing posts with label Volunteering. Show all posts

Kelas Inspirasi: SDN Rawa Badak Utara 11

Pernahkah Anda merenung, seberapa besar dampak satu hari dari hidup Anda dapat mengubah masa depan seseorang? Di tengah hiruk pikuk Jakarta, Kelas Inspirasi hadir sebagai gerakan nyata yang percaya pada kekuatan berbagi profesi dan inspirasi. Pada hari Selasa, 19 Agustus 2025, kami menorehkan jejak harapan di SDN Rawa Badak Utara 11, di mana puluhan relawan dari berbagai profesi meluangkan satu hari untuk menjadi inspirator bagi anak-anak. Blog post ini adalah sebuah antologi, kumpulan suara hati dan refleksi otentik dari para relawan tersebut, yang akan membawa Anda menyelami pengalaman, tantangan, pembelajaran, dan ajakan tulus mereka untuk peduli terhadap pendidikan Indonesia.


Kelas Inspirasi Jakarta 2025


Sigit Rais

Penulis


Momen Apa yang Tak Terlupakan?

Melihat binar mata anak-anak ketika kita hadir di hadapan mereka, membuat saya bertanya, 'Apa makna kehadiran kita sebagai relawan di hadapan anak-anak ini?' Lalu, mereka dengan antusias bertanya tentang siapa saya dan apa profesi saya. Mereka bersedia menerima kita, menerima cerita yang kita sampaikan, serta menerima setiap kegiatan yang kita instruksikan.


Ketika saya bertanya, 'Apa cita-cita kalian?', semua menjawab tanpa terkecuali. Ada yang ingin menjadi guru, dosen, dokter, polisi, TNI, petugas Damkar, pemain bola, YouTuber, dokter hewan, penjaga kebun binatang, peternak, bahkan Ultraman, dan sederet cita-cita lain yang tak kalah beragam. Gambaran sekelumit ini membuat saya kagum, mengingatkan saya kembali ke masa kecil, dan merasa terharu ketika mereka menatap kita dengan tatapan hormat nan rendah hati. Beberapa tampak mahir membaca cerita dengan gaya bercerita yang memukau, ada yang kreatif membuat gambar sesuai imajinasi, dan ada juga yang awalnya ragu dan malu, namun berani untuk mencoba.


Sesungguhnya, anak-anak itu adalah cerminan dari diri kita: kita yang selalu berusaha, mencoba, dan menjalani hari dengan sebaik-baiknya. Semula saya kira, kita datang dan mengajar untuk mereka, memberi inspirasi kepada mereka. Rupanya yang terjadi adalah kita, yang memang seharusnya tidak boleh berhenti belajar, yang justru mendapatkan inspirasi dari ketulusan anak-anak itu.


Bagaimana Kelas Inspirasi Mengubah Cara Pandangmu?

Dalam Kelas Inspirasi Jakarta, saya ikut serta sebagai inspirator yang memperkenalkan profesi sebagai seorang penulis. Saya kisahkan kepada anak-anak bahwa apa yang selama ini saya kerjakan berkaitan juga dengan kehidupan sehari-hari mereka, seperti saat saya menulis buku pelajaran sekolah—yang mereka baca setiap hari di sekolah—buku cerita, dan tulisan lainnya.


Saya yakin bahwa selain pengetahuan akademis, anak-anak juga membutuhkan contoh nyata dan inspirasi dari berbagai profesi. Saya belajar bahwa kehadiran saya, meskipun hanya sebentar, semoga dapat memberi dorongan bagi mereka untuk terus bermimpi dan semangat mengejar cita-cita. Dari pengalaman ini, saya semakin menyadari bahwa peran saya di masyarakat tidak berhenti pada pekerjaan sehari-hari, melainkan juga bagaimana saya bisa membagikan cerita dan motivasi untuk masa depan generasi berikutnya. Sebab, anak-anak membutuhkan role model yang nyata terkait profesi, yang mungkin tidak dekat dengan keseharian mereka di sekolah ataupun di rumah.


Apa Pesanmu untuk Calon Relawan?

Pendidikan anak Indonesia itu tanggung jawab bersama, termasuk kita, orang-orang yang sudah bekerja dan menggeluti bidang profesional masing-masing. Hal yang ingin saya sampaikan untuk para calon relawan adalah: 'Datanglah, bagikan sepenggal kisah perjalananmu, dan lihat bagaimana binar mata anak-anak yang menemukan mimpi baru.'


Kelas Inspirasi: SDN 2 Pegayaman

Sukasada, sebuah kecamatan di Kabupaten Buleleng, Bali, di mana puluhan relawan Kelas Inspirasi Bali meluangkan waktu dan tenaganya pada hari Sabtu, 4 Mei 2019. Mereka menuju ke enam sekolah dasar untuk berbagi cerita tentang profesinya sambil memotivasi adik-adik di sana untuk berani bercita-cita setinggi langit dan bekerja keras menggapainya. Mereka datang dari berbagai daerah, tidak hanya dari Pulau Bali, dengan tujuan yang sama, berkontribusi pada pendidikan anak Indonesia.

Relawan KI Bali 6 beserta Guru-Guru SDN 2 Pegayaman | 📷 by @riswandedik

Saya dan empat belas relawan lainnya akhirnya bertemu untuk kali pertama secara lengkap sehari sebelumnya. Interaksi yang tadinya hanya sebatas percakapan di dunia maya, bersambung ke percakapan nyata secara langsung. Tidak lama bagi kami untuk menyadari bahwa kami beruntung mendapatkan kelompok yang berisi orang-orang baik, yang terinspirasi untuk menginspirasi, dan rela memberikan usaha yang lebih untuk berbagi kebaikan. Meskipun tidak lama waktu kami untuk bersama berbagi ke adik-adik di SDN 2 Pegayaman, rasa persaudaraan itu terasa erat bagi kami.


Tulisan ini merupakan dokumentasi dari apa yang kami rasakan sebagai relawan Kelas Inspirasi Bali yang bertugas di SDN 2 Pegayaman. Semoga bisa menginspirasi rekan-rekan (calon) relawan lainnya untuk sedikit berkontribusi bagi pendidikan Indonesia.

Be kind, be inspired, be magnificent.

Kelas Inspirasi: SDN 2 Wangunsari

Rabu pagi, 20 Februari 2019, saya bersama 11 relawan dari berbagai latar belakang berkumpul di SDN 2 Wangunsari, Lembang, Kabupaten Bandung Barat dalam rangka Kelas Inspirasi Bandung 7. Pada hari yang sama ada ratusan relawan yang berbagi dengan ribuan anak-anak di 29 sekolah di Bandung Raya. Kami datang dan berbagi inspirasi kepada anak-anak di sana, memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan yang biasa mereka dapatkan sehari-hari.

Relawan KI Bandung 7 & Guru-Guru SDN 2 Wangunsari | 📷 by @kautsarsgr

Tulisan ini merupakan dokumentasi atas apa yang dialami relawan kelompok 24 di Kelas Inspirasi Bandung tahun ini.

My First Trip to Eastern Indonesia

Last November, I and other twelve volunteers from Jakarta, Denpasar, Tobelo, and Manokwari were traveling to Serui to share our enthusiasm in improving Indonesian education to teachers in Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua. We happily spent our time and energy as our contribution for this beloved country in a volunteering movement, Ruang Berbagi Ilmu (RuBI).

Most of us chose Yapen as our volunteering destination since it was one of the farthest places in RuBI 2018. We might have no idea whether we would visit there unless it was for an important moment like RuBI. Flying from Jakarta to Yapen was like flying from Paris to Moscow but without any direct transportation. To get to Yapen, we had to take flight from Jakarta to Biak, via Makassar. Then from Biak, we had to take another flight or take a local ship to cross to Serui. Darius, one of the volunteers, even had to drive for four hours from Tobelo to get to the nearest airport in Ternate, before flying to Makassar, Biak, and Serui. And we did all those trips voluntarily without any sponsor. 😊

"Unity in Diversity" (Papua Hei, Yapen, 2018) – 📸 by Darius

Preparation for Papua
The volunteers were not random people. We had to submit an essay about why we wanted to join this program and what we would share to teachers in remote area. After the committee carefully assessed our essays and selected the applicants in September 2018, we gathered in Jakarta to have briefing and get to know with each other. We then met for several times to understand who our audiences were. We learned that the local education activists in Yapen came from various elements in the society, not only teachers but also pastors, army, and professionals. We also gathered few times to discuss about our knowledge sharing materials. We carefully prepared every materials to share with those experienced teachers.

And eventhough the number of volunteers in our group decreased from 30 to 13 people due to various circumstances (well, it was a voluntary activity, nobody could be forced to do anything), we kept our enthusiasm high because we learned that kids in Yapen were very enthuastic to come to school to learn from their teachers although those kids had to walk quite far to get to school. 💪🏽



[Briefing Relawan Narasumber dan Dokumentator RuBI 2018] Puji syukur briefing relawan narasumber dan dokumentator RuBI hari Sabtu kemarin telah berjalan dengan lancar. Acara ini dihadiri oleh 64 orang narasumber dan 14 orang dokumentator. Antusiasme energi positif sangat terasa di setiap sesinya. Relawan itu bergerak dan menggerakkan untuk saling berkolaborasi. Terus semangat untuk bergerak meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia yang lebih baik lagi. Penggerak RuBI 2018, Bergerak Bersama, Berbagi Selamanya ! ___________________________________ Facebook dan Youtube : Ruang Berbagi Ilmu Instagram dan Twitter : @rberbagi_ilmu Website : www.ruangberbagiilmu.com #RuangBerbagiIlmu #Relawan #RelawanRuBI #RelawanRuBI2018 #RuBIBersama #RuBIIstimewa #RuBIKolaborAksi #BergerakBersama #berbagiselamanya #briefingrelawan
A post shared by Ruang Berbagi Ilmu (@rberbagi_ilmu) on

From the moment I wrote my essay to join RuBI Yapen, I remember Bu Helena, my science teacher in SMP St. Mikael Cimahi, who moved to Papua 16 years ago. She and her husband started a ministry and built a school in Jayapura. Right after the announcement of selected volunteers, I contacted Bu Helena and asked her if I can visit her school for few days, and she happily welcome me. I invited other RuBI volunteers to join me, and Andreas was willing to allocate more time to share happiness to elementary and middle school students in Sekolah Papua Kasih.

I also conducted some research about tourism in Papua, but unfortunately there were only few references about traveling in Jayapura, Biak, and Serui. Most articles I got were from TripAdvisor and some outdated blogs. Other information like local public transportation (flight, boat, bus, etc) were also very limited. Surely there were a lot of homeworks for the government tourism office of Papua to promote the beautiful sides of Papua besides Raja Ampat.

Kelas Inspirasi: SLB Negeri 7 Jakarta

Senin pagi, 17 September 2018, sebanyak 61 relawan dari berbagai profesi dan latar belakang berkumpul di SLB Negeri 7 Jakarta untuk berbagi kebahagiaan dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Hari itu mungkin pertama kalinya bagi sebagian kami untuk berinteraksi dengan anak-anak sekolah dasar, menjelaskan profesi kami dengan bahasa yang sederhana, yang mudah dipahami oleh anak-anak. Dan yang pasti, hari itu adalah pertama kalinya bagi hampir semua relawan kelompok kami untuk berinteraksi dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Kelas Inspirasi Jakarta 7 menjadi sebuah tantangan yang berbeda bagi kami semua, baik relawan baru maupun relawan yang sudah berpengalaman di kegiatan KI.


Tulisan ini dibuat sebagai bentuk dokumentasi atas apa yang setiap kami rasakan saat berbagi tentang profesi kami, yang ingin kami bagikan ke lebih banyak orang.

Relawan Kelas Inspirasi SLB Negeri 7 Jakarta – 📷 by @harapan_daeli

Kelas Inspirasi Lombok

Thursday evening, December 22, 2016, I got an email from Kelas Inspirasi Lombok about the selection result for the volunteers. Thank God, I was selected as one of the teaching volunteers in Sembalun region, nearby Mt. Rinjani. It was a refreshing experience to meet new people in Lombok, have interaction with all teachers and kids in MI Bilok Petung, and contribute small things there.

Kelas Inspirasi Lombok 4 (2017) – MI Bilok Petung, Sembalun

We were blessed with a group of good people with various backgrounds in our team: Agung, Sherli, Zahra (lecturers), Andini (project manager), Satriyo (engineer), Kamaria (photographer), Lusiani (head of tax officers), Meyliawati (export planner), Muazzin (school administration), Raharni (midwife), Ramoth (chemical analyst), Reni (accountant), Siraj (videographer), and me. While most of us have ever joined Kelas Inspirasi in other city, we were more than excited to share our life and career stories to the students in Sembalun, Lombok. 🙋


Arrived at Lombok

Friday morning, January 20, I took the first flight from Jakarta to Lombok and turned out that flight was full with volunteers of Kelas Inspirasi Lombok. Most of us took one or more days of annual leave from the office and arrived at Lombok before noon. Once we arrived at Lombok International Airport, the second largest airport in the country, we went to the meeting point in the old Selaparang Airport to take bus provided by the local committee to go to Sembalun. It took around 3 hours from Mataram to Sembalun by car. Around 4pm, all volunteers gathered in Wisma Cemara Siu Sembalun to have introduction briefing from the local committees. Later, we parted as groups and my group traveled again for another hour to Bilok Petung, northern part of Sembalun region. 🚌


Finally we arrived at school around 7pm, and the principal was already there welcoming us warmly. It was quite strange that we saw a lot of students in scout uniform were still in school at that time. Later we realized that the principal asked the kids to gather and camp at school to welcome us with a scout ceremony. After we joined the ceremony / scout inauguration and were introduced to the students by the principal, we went back to one of the classrooms. All female volunteers slept in the principal's house, while all male volunteers slept in the classroom. 💤


Kelas Inspirasi: SDN Marunda 02

"Volunteers do not necessarily have the time; they just have the heart." – Elizabeth Andrew

Sunday midnight, April 10, while I was  packing my stuff for traveling to Pulau Tunda with some fellows from Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau (KIJP) Batch 5, I got an email from Kelas Inspirasi Jakarta that I was selected as facilitator for their 5th program – #KIJKT5. Although it was my 9th participation in Kelas Inspirasi, it was my first time to be a facilitator, so I was very excited about it.

Kelas Inspirasi Jakarta – May 2, 2016 – SDN Marunda 02

As facilitator, we need to stay "neutral" in the team discussion, while helping our team understand the common objectives and plan how to achieve those objectives through a well-prepared lesson plan. We also need to make sure that our team really understand about seven basic principles of our movement: voluntary, free of interest, free of financing, ready to learn, direct participation, hospitality, and sincerity.



Sunday morning, April 17, we met our team for the first time in the briefing day. Eventually I was assigned to help group #54, which consists of 3 facilitators, 35 inspirators, and 6 documentators. We were assigned to share our life experiences to the kids in SDN Marunda 02 (and SDS Terang Nusantara). It is located in northern Jakarta, 12 km from Port of Tanjung Priok. The elementary school itself consists of almost a thousand students, with 80s of them are kids with special needs. It is probably the biggest group ever in Kelas Inspirasi. However, we all were very excited.. Bring it on!!


Thursday morning, April 21, some of our group members visited SDN Marunda 02 to get better understanding of the school situation and introduce ourselves to the headmaster and the teachers. It took 3-5 hours for us to get to the school because it was heavy raining since the night before and the traffic was so terrible. We had to drive in the road full of container trucks before we met those cheerful elementary kids in Marunda.


Around 11am, we arrived at the school. The headmaster and all teachers welcomed us excitedly and asked us to have lunch together. Apparently they already prepared some lunch dishes for us. The headmaster also shared about how SDN Marunda 02 was growing so rapidly. The school itself is located close to Marunda Flats, which is infamous as flats where Governor of DKI Jakarta, Ahok, relocates people from areas that actually prohibited to live at, such as Kalijodo, Pasar Ikan, Luar Batang, etc. After Governor Ahok relocates all families to Marunda Flats, he gives all the kids Jakarta Health Card (KJS), Jakarta Smart Card (KJP), and free school bus transportation. The school bus operates from Marunda Flats to nearby schools including SDN Marunda 02.


The number of students in SDN Marunda 02 has been increasing since early 2016 because Governor Ahok started relocating people from several areas. Now it has almost a thousand students, so that the headmaster decided to have two shifts: morning classes and afternoon classes. It also gave us challenge in Kelas Inspirasi, because we need to teach those kids for both shifts from early morning to late afternoon. In addition, there is also SDS Terang Nusantara, a private elementary school that was just established less than a year and currently is borrowing two classrooms of SDN Marunda 02. So in total we have 30 classes to teach in a day. Yeah!


Traveling to Pulau Tunda

Sunday morning, April 10th 2016, some groups of professionals gathered in Dermaga Ancol and Jalan Sudirman, to travel together not only for vacation but also for volunteering. Those groups were from Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau (KIJP) Batch 5, which just expanded their area of voluntary works from Kepulauan Seribu to northern Banten province. Eventually there was also another group of KIJP Batch 5 that already departed on Saturday morning since they were heading to Pulau Sebira, the northest island of Kepulauan Seribu, even closer to Lampung province.

Membangun Generasi Jujur di Pulau Tunda | Photo by Harditya Pragola

I was blessed to be assigned into a group full of cheerful and creative people. They are professionals with various background: medical doctor, banker, marketing communication, humanitarian aid agency, entrepreneur, CSR planner, art director, environmentalist, fin-tech, social media consultant, digital agency, journalist, etc.


The recruitment committee placed 18 of us to Pulau Tunda. It is located in northern Banten province, 2-3 hours from Karangantu. The island is about 300 hectare with two main villages: east and west. There was only one elementary school there, and we were going there to share our life experiences while building connection with the local people and planting seeds of dreams to their kids. It was also a beautiful place to visit as seen on Instagram, especially for snorkeling, diving, fishing, or photo-hunting for dolphins.


That Sunday we departed from Jakarta around 7am. It took around 2 hours to get to Karangantu, Serang. Some people said that Karangantu was the second largest pier after Sunda Kelapa in the history of Sunda. Our bus stopped in front of sun-drying salted fish area where our boats anchored. If you want to get there by public transportation, you can take a bus from Jakarta to Serang, and then change to mini bus from Serang to Karangantu. Make sure you arrive at Karangantu before 1pm since there is only one public boat (KMP Tunda) from Karangantu to Pulau Tunda per day.


After waiting for almost an hour, our boat finally came. It was a small boat with a single machine, with maximum capacity around 25 people. We took a rest for a while since the boat was moving.. so.. slowly. [insert zootopia's sloth here] Make sure that you bring your powerbank or additional battery for camera since there is no electricity at Pulau Tunda during the day. Moreover, your cell phone will be useless unless you use Indosat or XL and stand in the corner of the pier to find proper 2G signal.

Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau (KIJP)

"It is better to light a single candle than to curse the darkness." – I still remember that quote mentioned by Pak Anies Baswedan on the briefing day of the first Kelas Inspirasi three years ago. Everybody in Indonesia knows that the quality of our national education is not that good. However, many people are doing nothing about it or even just complaining, while some others are trying to contribute a bit for a better situation. This time I and my fellows from KIJP chose to be the latter one.

Sharing about "Software Engineer" at KIJP – photo credit: Josef Wattimena

KIJP - stands for Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau (Inspiration Community of Island Hoppers) - is a movement of groups of professionals who care about education in Kepulauan Seribu, Jakarta. This movement is derived from Kelas Inspirasi, where professionals joined to share about their professions to elementary students from low-income families. In addition, KIJP also try to contribute in the environment and society where the students live through educational campaign activities.

Sunday morning, October 11th, 2015, 194 volunteers of KIJP batch 4 gathered in Dermaga Ancol to go to the island they were assigned to. We spread to 13 elementary schools in 9 different islands in Kepulauan Seribu: Tidung, Payung, Untung Jawa, Pari, Lancang, Panggang, Pramuka, Kelapa, and Harapan. We brought our own tools and materials to motivate and teach the students about our professions. Some groups also brought several boxes of books for the school libraries.

Just before noon, my group arrived at Panggang island where we spent two days to volunteer. Panggang is the densest island in Kepulauan Seribu, around 400 people/hectare. The infrastructure  was not as good as in the other island, such as Pramuka or Tidung, because Panggang is not a tourism destination so the local goverment care less about it. There are only two elementary schools there: SDN Panggang 01 & 03, with total 434 students in both schools. My group is the second batch of KIJP who volunteer there. The kids are always cute, although some of them are very naughty – they might have more energy to express due to the limited open space for them to play at. The characters of most kids are quite tough because of the way their parents educate them at home. That makes one of the biggest challenges for the volunteers to teach at school.

Kelas Inspirasi

Sending a seed of hope, creating a story of dream...

Itu adalah salah satu pesan Pak Anies Baswedan pada saat pembukaan dan briefing Kelas Inspirasi, 14 April yang lalu. Idenya sederhana, mengajak para profesional kelas menengah untuk berbagi pengalaman, membuka kunci mimpi, kepada anak-anak SD dari golongan menengah ke bawah. Anak-anak yang impiannya hanya sebatas yang mereka lihat dari lingkungan mereka dan acara televisi yang ditontonnya.

Give hope through a sincere message, then it will be a dream..

Teringat kisah seorang anak bangsa yang paling brilian, Pak Habibie, di masa sekolah beliau mendengarkan pidato Bung Karno dan terinspirasi, bahwa untuk menjadi bangsa yang kuat, kita harus menguasai udara dan laut. Pesawat terbang dan kapal laut lah yang bisa memperkuat dan menyatukan Indonesia, baik secara militer maupun secara ekonomi, kata bung Karno. Dari situ lah, akhirnya Pak Habibie akhirnya memutuskan untuk mendalami bidang aerospace engineering. Dimulai dari menjadi salah satu mahasiswa yang dikirim ke Eropa oleh Bung Karno, beliau kini menjadi salah satu orang paling ahli di dunia dirgantara. Semuanya berawal dari mimpi.

Kisah lainnya yang diceritakan Pak Anies, adalah kisah seorang ahli kelistrikan dari UGM, tentang bagaimana beliau akhirnya mendalami ilmu tersebut. Ternyata pada tahun 1950an, Bung Hatta datang ke Sumatra untuk meresmikan Bendungan Asahan. Kedatangan seorang tokoh proklamator ini menarik meminat banyak orang, termasuk sekelompok anak muda dari daerah Sumatra Utara sana. Meskipun tidak berapi-api seperti pidato Bung Karno, Bung Hatta berpesan bahwa kebutuhan membangun bendungan seperti ini akan meningkat. Oleh karena itu, bangsa Indonesia membutuhkan banyak insinyur listrik. Akhirnya, banyak pemuda dari daerah tersebut yang mengambil studi kelistrikan. Semuanya berawal dari mimpi.

Middle class is formed through education. It's time to pay back..

25 April, saya dan 7 rekan lainnya mendapatkan kesempatan untuk mengajar seharian di SDN Duri Pulo 03 Jakarta. Ketujuh rekan saya ini orang-orang hebat: Ferli (psikolog), Imesh (editor in chief), Citra (banker), Tamara (lighting designer), Rahma (fashion designer), Doni (business impactor) dan Puja (software developer). Selain kami, ada 200an orang lainnya dengan beragam profesi menjadi volunteer di berbagai SD Negeri di Jakarta. Pada hari itu kami semua menjelaskan tentang profesi kami masing-masing di hadapan anak-anak SD. Sebuah hal yang cukup challenging bagi kami, menjelaskan apa yang sehari-hari kami kerjakan dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh anak-anak. Bagi kebanyakan volunteer Kelas Inspirasi yang sudah sering berbicara di depan publik dewasa, mengajar di hadapan anak-anak itu ternyata jauuuuh lebih susah. Banyak yang awalnya grogi, tapi belakangan malah menjadi candu.

Kelas Inspirasi 2012 – © Kompas.com

Persiapan saya untuk Kelas Inspirasi ini cukup panjang, terutama mencari inspirasi bagaimana menjelaskan profesi Software Engineer ke depan anak-anak. Ada 5 poin yang perlu disampaikan ke anak-anak itu: siapa saya, apa profesi saya, apa yang dilakukan profesi saya setiap harinya saat bekerja, apa manfaat profesi saya bagi masyarakat, dan bagaimana caranya menggapai profesi seperti saya. Kelima poin tersebut harus disampaikan dengan nilai-nilai positif dalam pengajarannya, dengan penekanan pada nilai kejujuran, kerja keras dan kemandirian.

When in doubt, ask StackOverflow..

Salah satu inspirasi saya tentang bagaimana menceritakan pekerjaan Software Engineer ke anak-anak adalah sebuah thread di StackOverflow Career day in kindergarten: how to demonstrate programming in 20 minutes. Dari situ saya belajar bahwa jelas sangat sulit (tapi mungkin aja sih :p) mengenalkan kode pemrograman ke anak-anak SD. Jadi, alih-alih mengajarkan tentang coding, saya menceritakan tentang apa aja sih yang bisa diciptakan oleh seorang Software Engineer. Kemudian, saya menceritakan bahwa apa yang sehari-harinya Software Engineer lakukan itu seperti bermain teka-teki B-), mulai dari requirement gathering, analysis, design, implementation sampai testing. Setelah itu, saya bercerita tentang manfaatnya dan bagaimana menjadi seorang Software Engineer.



Cukup mengejutkan ketika kami bertanya ke murid-murid SD tersebut, apa cita-cita adik-adik sekalian. Kebanyakan menjawab ini menjadi pemain bola atau ingin menjadi artis. Entah kenapa tidak banyak yang menjawab ingin jadi dokter, pilot, insiyur ataupun presiden seperti halnya ketika saya duduk di bangku SD seperti adik-adik itu. Ternyata lingkungan dan tontonan televisi itu sangat mempengaruhi pola pikir dan mimpi anak-anak. Satu hal yang bikin terenyuh adalah ketika Doni meminta adik-adik SD itu untuk menggambarkan cita-citanya di secarik kertas, ada seorang anak yang menggambar sebuah mobil berwarna biru. "Ini saya sedang jadi sopir taksi Blue Bird. Saya sedang bepergian bersama Bapak, Ibu dan kakak saya di taksi ini."

Biaya pendidikan yang relatif tinggi itu bukanlah halangan untuk mencapai cita-cita, karena jika kita mau berusaha, jalan itu akan terbuka buat kita. Serta attitude seperti jujur, kerja keras dan mandiri itu jauh lebih penting daripada harta kekayaan.. Mungkin itu pesan utama yang saya sampaikan dalam kesempatan Kelas Inspirasi. Sungguh acara seperti ini sangatlah bermanfaat sekali, baik bagi adik-adik SD dari kalangan tertentu maupun bagi rekan-rekan profesional yang sudah dan sedang mencapai sukses. Semoga program Kelas Inspirasi ini sustainable, terus berkembang dan menjangkau lebih banyak lagi anak-anak di berbagai kota di seluruh Indonesia. Lebih dari itu, semoga anak-anak Indonesia, generasi penerus bangsa ini bisa mempunyai mimpi yang besar dan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai mimpi itu.

Give a man a fish and you feed him for a day.
Teach a man how to fish and you feed him for a lifetime..