Investasi Reksa Dana untuk Pemula

Akhir-akhir ini banyak perencana keuangan yang bergabung di jejaring sosial, sambil membagikan tips-tips keuangan. Salah satu yang cukup populer mereka "promosikan" adalah tentang investasi reksa dana. Saya sendiri sebenarnya baru tahu tentang reksa dana sekitar 1 tahun lalu. Itu pun awalnya karena penasaran dengan seluk-beluk pasar modal. Berikut ini saya mau share sedikit yang saya pelajari tentang reksa dana. Kalau ada yang keliru, mohon dikoreksi ya (terutama oleh yang expert di bidangnya :)

Definisi Reksa Dana
Reksa Dana (Mutual Fund) adalah wahana investasi yang sifatnya kolektif (menghimpun dana dari banyak orang) untuk dibelikan saham, obligasi, atau instrumen keuangan lainnya. Kalau kita baca di UU No. 8/1995 tentang Pasar Modal, sebenarnya ada 2 bentuk Reksa Dana: perseroan dan kontrak investasi kolektif. Tapi cuma satu yang populer di masyarakat, yaitu yang berbentuk kontrak investasi kolektif. Kontrak investasi kolektif adalah kontrak antara Manajer Investasi dan Bank Kustodian yang mengikat pemegang Unit Penyertaan.
  • Manajer Investasi (MI) = pengelola portofolio investasi kolektif
  • Bank Kustodian = pelaksana penitipan dana kolektif
  • Unit Penyertaan (UP) = unit yang diterbitkan reksa dana untuk menghimpun dana
Jadi, Reksa Dana (RD) menghimpun dana dengan menerbitkan Unit Penyertaan kepada masyarakat, lalu dana tersebut diinvestasikan pada berbagai jenis efek yang diperdagangkan di pasar modal dan di pasar uang.



Keuntungan Berinvestasi di Reksa Dana
  • Akses ke instrumen investasi yang mahal
    Contoh: untuk membeli saham, minimal jumlah pembelian harus 1 lot (500 lembar). Saham ASII (Astra International Tbk) saat ini harganya Rp 62 ribu per lembar, jadi sekali beli kita perlu uang sejumlah 500 x 62.000 = Rp 31 juta. Belum lagi kalau kita mau berinvestasi di obligasi, tentunya perlu jumlah uang yang lebih besar lagi. Nah, melalui RD, kita bisa berinvestasi pada instrumen tersebut dengan jumlah dana yang lebih kecil. Beberapa produk RD bahkan ada yang menawarkan batas minimal investasi Rp 100.000.
  • Diversifikasi
    Untuk suatu produk RD, MI yang mengelola RD tersebut akan menggunakan uang investor untuk membeli beberapa saham/obligasi/instrumen keuangan lainnya. Investor bisa mengetahui instrumen keuangan apa saja yang dipakai MI dengan membaca laporan tahunan yang diterbitkan MI tersebut. Dan biasanya, investor juga bisa mengetahui "top 3" instrumen melalui monthly fund fact sheet. Don't put all your eggs in one basket, right?
  • Likuid
    Selama bursa efek tidak libur, investor bisa melakukan transaksi, baik membeli maupun menjual UP, tidak seperti deposito berjangka.
  • High return
    Selama negara (ekonomi makro) tidak mengalami krisis finansial, profit yang bisa diberikan oleh RD (pada jangka waktu tertentu) pasti lebih tinggi dari nilai inflasi. Selain itu, dana investor juga dikelola oleh MI yang profesional, yang punya target kinerja di atas standar tertentu misalnya IHSG atau indeks sektoral.

Jenis-Jenis Reksa Dana
Berdasarkan portofolio investasinya, RD bisa dikategorikan 4 macam, terurut dari return (dan risiko) terendah ke tertinggi:
  • Reksa Dana Pasar Uang
    Alokasi investasinya pada efek utang jangka pendek (kurang dari 1 tahun), seperti surat utang jangka pendek dan deposito. Tingkat return-nya paling rendah, sedikit di atas bunga deposito.
  • Reksa Dana Pendapatan Tetap
    Minimal 80% dananya dialokasikan ke efek utang jangka panjang, seperti obligasi. Cocok untuk investasi jangka menengah (± 5 tahun), dengan return bisa mencapai 10% per tahun.
  • Reksa Dana Campuran
    Alokasinya dananya biasanya diseimbangkan antara efek utang dan saham. Cocok untuk investasi jangka menengah sampai panjang (5-10 tahun), dengan return bisa mencapai 15% per tahun.
  • Reksa Dana Saham
    Minimal 80% dananya dialokasikan ke saham. Cocok untuk investasi jangka panjang (lebih dari 10 tahun), dengan return bisa mencapai 20% per tahun.

Nilai Aktiva Bersih
Nilai Aktiva Bersih (NAB) atau Net Asset Value (NAV) adalah nilai total kekayaan bersih dari suatu reksa dana. Misalnya, ada sebuah fund manager melakukan penawaran umum perdana untuk produk reksa dana yang baru, sebut saja reksa dana XYZ. Reksa dana XYZ ini akan ditawarkan ke investor seharga Rp 1000 / unit (UP). Jika ternyata selama penawaran umum perdana, jumlah UP yang terjual adalah sebanyak 1 juta unit, maka dana yang berhasil terkumpul adalah sebesar Rp 1 miliar, ini adalah NAB atau NAV saat itu. Lalu, setelah uang sebesar Rp 1 miliar itu akan dibelikan efek oleh MI, ternyata 1 tahun kemudian nilainya bertambah menjadi Rp 2 miliar karena saham yang ada di portofolio reksa dana XYZ naik drastis semua. Akibatnya, NAB/UP reksa dana XYZ sekarang juga naik menjadi Rp 2000 / UP. Jika pada penawaran umum perdana, saya membeli unit reksa dana XYZ sebesar Rp 100.000, berarti saya punya 100 UP. Artinya, setahun kemudian, uang saya sebenarnya menjadi 100 x Rp 2000 = Rp 200.000. Profit investasi saya adalah sebesar 100 % / tahun (belum dipotong biaya).

Tips Memilih Reksa Dana
  • Sesuaikan dengan profil risiko Anda
    Setiap orang pasti memiliki profil risiko yang berbeda-beda. Ada yang konservatif, moderat, dan agresif. Investor yang profil risikonya konservatif, jika tahu NAB nya turun 5 %, pasti langsung berkeringat dingin dan susah tidur. Sebaliknya, investor agresif masih tenang-tenang saja meskipun NAB nya turun 10 %, misalkan karena fluktuasi harga saham. Di beberapa bank yang menjual unit RD, calon investor biasanya akan diberi sebuah assessment form yang akan menilai profil risiko si calon investor. Profil risiko ini menentukan jenis RD mana yang sebaiknya dipilih, apakah pasar uang, pendapatan tetap, campuran atau saham.
  • Reputasi Manajer Investasi
    Berinvestasi di RD itu ibarat kita menitipkan uang kita ke seseorang, lalu kita biarkan orang itu mengelola uang kita. Untuk itu, investor biasanya lebih merasa nyaman kalau "menitipkan" uangnya ke orang-orang yang reputasinya diakui baik oleh dunia finansial nasional, bahkan internasional. Nama-nama besar perusahaan pengelola reksa dana, baik yang berkelas internasional (BNP Paribas, Schroders) maupun kelas nasional (Panin, Danareksa), tentunya memberikan daya tarik bagi calon investor.
  • Kinerja Reksa Dana
    Cara termudah untuk memilih RD adalah dengan melihat tabel perbandingan return yang dihasilkan berbagai produk RD. Kita bisa memantaunya di harian Kontan atau Bisnis Indonesia atau situs Infovesta, yang mana datanya diupdate tiap hari. Pilih saja mana yang memberikan profit "paling baik" untuk 1-3 tahun terakhir. Meskipun demikan, kinerja masa lalu tidak selalu dapat dijadikan patokan bagi kinerja masa depan. Investor perlu mempelajar prospektus reksa dana, untuk mengetahui detail pengelolaan dana investasi, termasuk siapa saja manajer investasinya dan apa sasaran utama dari RD tersebut, misalnya untuk RD Saham apakah akan fokus ke saham bluechip, second liner, sektoral, syariah, gorengan, dll. Manajer investasi yang bonafit pasti mempublikasikan prospektus ini, sehingga investor bisa mendapatkannya dengan mudah. Selain prospektus, investor juga sebaiknya membaca monthly factsheet dan laporan tahunan untuk menilai kinerja suatu reksa dana.

Bagaimana Memulai Investasi RD?
  • Anda bisa datang ke bank yang menyediakan jasa investasi Reksa Dana, seperti Bank Commonwealth atau Bank Mandiri, atau bisa juga datang langsung ke kantor manajer investasinya, seperti Panin Sekuritas. Nanti Anda akan mendapatkan semacam rekening investasi, isinya: Anda punya RD xxx sejumlah yyy unit, dst. Jumlah minimum investasi beragam, tergantung perusahaan manajer investasi, mulai dari Rp 100.000 sampai Rp 1 juta.
  • Perhatikan biaya yang dikenakan untuk tiap transaksi. Ada RD yang dikenai biaya saat subscription (beli) saja, ada yang saat redemption (jual) saja, ada yang dua-duanya. Untuk produk RD yang sama, terkadang biaya transaksi melalui bank yang satu lebih murah daripada bank lainnya.
  • Pilih yang praktis. Beberapa investor cenderung memilih bank yang memberikan layanan e-banking untuk transaksi reksa dana. Investor lainnya mungkin lebih memilih bank yang dekat dengan kantor tempat ia bekerja.

Style Investasi Reksa Dana
Style / gaya yang dimaksud di sini adalah kapan waktu yang tepat untuk membeli dan menjual unit reksa dana. Hal ini terkait dengan fluktuasi harga unit reksa dana, khususnya reksa dana saham.
  • Dollar Cost Averaging (DCA)
    Investor dengan gaya DCA akan melakukan pembelian unit reksadana secara reguler. Dengan demikian, investor akan mendapat lebih banyak unit saat NAB turun, dan lebih sedikit unit saat NAB naik. Investor harus menentukan berapa banyak uang yang harus diinvestasikan (dalam jumlah tetap), berapa frekuensinya (misalnya, tiap bulan sekali), dan horizon waktunya (misalnya, selama 10 tahun). Di beberapa bank yang menawarkan jasa investasi reksa dana, mereka biasanya juga menawarkan program "auto-invest", jadi rekening nasabah akan dipotong secara reguler tiap bulan untuk diinvestasikan ke reksa dana. Banyak praktisi ekonomi yang berpendapat bahwa DCA ini adalah gaya investasi yang paling menguntungkan. Really? :)
  • Lump sum
    Dengan cara ini berarti investor akan menginvestasikan sejumlah besar uangnya dalam satu kali pembelian unit reksa dana. Hal ini dilakukan untuk meraih untung (capital gain) sebesar-besarnya. Salah satu cara yang paling ampuh dalam berinvestasi adalah lakukan lump sum sesaat setelah krisis finansial berakhir. But be careful, do not catch the falling knife.
  • Market timing
    Bagi mereka yang sudah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang memadai tentang pasar modal, salah satu kunci sukses mereka dalam berinvestasi adalah market timing. Banyak faktor yang harus dikuasai, antara lain analisis fundamental (kondisi makro ekonomi dan kondisi finansial target investasi) dan analisis teknikal (fluktuasi harga NAB/UP akibat gejolak pasar atau psikologi massa). Mungkin detailnya akan saya bahas lain kali :)

Demikian sharing saya mengenai investasi reksa dana untuk pemula. Jika ada pertanyaan, masukan atau koreksi, silakan Anda tulis sebagai comment. Semoga bermanfaat. Good luck!

"Rule No.1: Never lose money. Rule No.2: Never forget rule No.1."
– Warren Buffett