Tips Migrasi ke Open Source

Setelah mengetahui keuntungan yang ditawarkan oleh open source, kini saatnya untuk migrasi ke open source, terutama untuk menggantikan software bajakan yang biasa digunakan. Jika Windows Anda bajakan, kini saatnya untuk menggantinya dengan Linux (atau terpaksa membeli lisensi aslinya :). 

Proses migrasi ini biasanya akan terasa lebih sulit dari yang dibayangkan karena kita sudah terbiasa dengan lingkungan software lama selama bertahun-tahun (terjebak dalam zona nyaman). Adaptasi seringkali tidak mengenakkan, tapi sebenarnya yang dibutuhkan hanyalah kesabaran dan kemauan untuk belajar.

Berikut ini beberapa tips untuk migrasi dari software proprietary ke open source (Windows ke Linux) dengan pendekatan personal.

1. Sebelum mengganti sistem operasi (Windows ke Linux), gunakan dulu software-software open source versi Windows. Software-software open source di Linux biasanya juga memiliki versi Windows atau versi Mac OSX. Untuk itu, Anda bisa membuat daftar software yang biasa Anda gunakan, cari software open source alternatifnya, lalu download dan instal software open source versi Windowsnya. Hal ini ditujukan supaya mempermudah hidup Anda jika kelak harus migrasi sistem operasi.

2. Periksa kecocokan tipe data yang dihasilkan software proprietary dengan software open source. Contoh, default-nya Microsoft Word 2007 menghasilkan file .docx, sedangkan OpenOffice Writer menghasilkan file .odt. Meskipun demikian, kedua software tersebut sama-sama bisa membaca dan menghasilkan file .doc. Nah, karena itu kita tidak perlu kuatir saat migrasi total ke open source, asalkan data hasil Word 2007 disimpan dalam bentuk .doc, yang bisa dibaca oleh OpenOffice Writer. Begitu pula untuk setiap software lainnya.
Jika ada software yang alternatif open source-nya tidak Anda temukan, cobalah cari tau apakah Wine bisa membuat software Anda yang hanya bisa berjalan di Windows itu bisa berjalan di Linux. Wine adalah program yang mengemulasikan lingkungan Windows di Linux.
Dan jika Wine-pun tidak bisa menjalankan software tersebut di Linux, ehm... tampaknya Anda tidak bisa migrasi total, sebaiknya dual-boot saja.

3. Kalau Anda sekedar ingin coba-coba Linux, gunakan LiveCD atau Virtual Machine. Beberapa distro Linux menyediakan LiveCD atau LiveDVD, sehingga kita bisa menjalankan sistem operasi Linux tanpa harus menginstallnya terlebih dahulu. Jika distro yang ingin Anda coba tidak menyediakan LiveCD atau Anda ingin lebih serius dari sekedar LiveCD, Anda bisa menggunakan software virtual machine, untuk membuat seolah-olah ada komputer baru di dalam komputer Anda. Contoh software virtual machine ini adalah Virtualbox, salah satu software open source juga.

4. Untuk permulaan migrasi, installah Linux tanpa menghapus Windows (dual-boot). Siapa tahu suatu saat nanti Anda ingin menjalankan program yang hanya bisa berjalan di Windows, misalnya untuk bermain DotA, atau ada hardware tertentu yang driver-nya cuma ada untuk Windows. Jadi, meskipun saya pemegang prinsip monogami untuk selamanya, untuk urusan sistem operasi saya sarankan untuk "poligami" dulu saja (*nyambung ga ya*) ;D .. Dan jangan lupa untuk mengeset default dari bootloader ke sistem operasi yang open source ;).

5. Bergabung di komunitas open source. Dari sekarang mulailah berbaik-baik terhadap teman-teman Anda yang lebih dulu menggunakan Linux. Bergabung ke milis komunitas open source juga pilihan yang baik. Jadi, kalau kelak ada masalah, Anda tahu ke mana harus bertanya.

6. Take action! Buang software-software bajakan Anda yang sudah bisa digantikan perannya dengan software open source.

Selamat menikmati software legal dengan biaya terjangkau, atau bahkan tanpa biaya :).

Cheers!