Review Singkat Ubuntu 9.04

Bulan lalu, Ubuntu kembali merilis sistem operasi versi terbarunya yakni Ubuntu 9.04, yang diberi codename Jaunty Jackalope (JJ). Sebagai pengguna Ubuntu yang up-to-date, saya telah menunggu-nunggu rilis ini berharap ada kejutan yang menarik dari versi Ubuntu terbaru ini. Akhirnya setelah dirilis juga pada tanggal 23 April, saya segera mendownload file iso-nya dari releases.ubuntu.com untuk sekedar dikoleksi. Lalu, beberapa hari kemudian saya lakukan upgrade via jaringan untuk mengubah Ubuntu 8.10 (Intrepid Ibex) saya ke Jaunty Jackalope.


Upgrade via jaringan ini sangat mudah, yang dibutuhkan hanyalah koneksi internet yang reliable dan kesabaran ^ ^. Caranya adalah sebagai berikut:
$ sudo gedit /etc/apt/sources.list
tekan ctrl+H, ubah "intrepid" menjadi "jaunty", lalu simpan
$ sudo apt-get update
$ sudo apt-get dist-upgrade
Oya, repository yang saya gunakan adalah repository kambing. Waktu yang diperlukan untuk mengupgrade melalui repository tersebut sekitar 12 jam dengan menggunakan koneksi Telkomnet Hotspot (3 jam pertama), lalu disambung IM2 Broom Unlimited. Jadi, harap maklum kalau lama :P.

Beberapa hal baru dari Ubuntu 9.04 yang menarik buat saya antara lain:
  • Waktu booting lebih cepat
    Banyak pengguna lain yang mengklaim waktu booting kurang dari 20 detik, bahkan ada yang kurang dari 10 detik (setelah fresh install). Sedangkan waktu booting saya masih sekitar 45 detik (dari grub sampai ke login screen), tambah 15 detik lagi dari login sampai desktop siap kerja (sampai cpu usage-nya stabil). Mungkin ini karena sudah banyak sekali aplikasi dan service yang terinstall di laptop saya ;D.
  • Tampilan baru
    • Desktop theme baru
      Ada 3 theme baru yang disertakan di JJ, yakni Dust, Dust Sand, dan New Wave. Theme favorit saya adalah Dust, lumayan lah untuk sejenak menggantikan theme Mac4Lin saya yang sudah lama menghiasi layar desktop.
    • Notifikasi baru
      Semua notifikasi tergabung menjadi satu di kanan atas, dari mulai volume, batere, sampai notifikasi pidgin. Menarik sih.. tapi sayangnya, kita tidak bisa mengaturnya, misalnya tidak memasukkan pidgin ke notifikasi itu, soalnya sudah ada guification dari pidgin yang menurut saya lebih bagus.
    • Usplash baru
      Progress baru pada usplash baru ini dibuat lebih tipis, selain ukuran tulisan "Ubuntu" jadi lebih kecil. Saya rasa ini menambah kesan bahwa waktu booting lebih cepat.
    • Login Screen baru
      Tapi, masih banyak di GNOME Look yang lebih bagus.
  • Lain-lain:
    • Menggunakan kernel Linux 2.6.28, yang mana sudah mendukung jenis partisi Ext4
    • Memasukkan OpenOffice.org 3 (*basbang*)
    • Software baru: Computer Janitor
      Meskipun hanya ada tombol "Cleanup", bukan berarti ini adalah software optimizer seperti yang sering ada di WinXP. "Cleanup" ini akan meng-uninstall program-program yang dianggapnya tidak lagi diperlukan. Karena tidak baca dengan teliti, saya sempat tertipu dan kehilangan beberapa program yang sudah terinstall. = ='
Itu adalah beberapa fitur baru yang ada di Ubuntu 9.04. Tidak ada perubahan yang terlalu drastis dibandingkan dengan versi sebelumnya. Mungkin karena waktu rilisnya yang dipaksakan setiap 6 bulan, membuat Ubuntu kurang maksimal dalam setiap versi barunya.

Nah, software versi baru berarti... ada permasalahan baru.. >.< Berikut ini adalah beberapa permasalahan yang saya temui setelah mengupgrade Intrepid ke Jaunty:
  • Compiz tidak berfungsi
    Apa lagi yang bisa dipamerkan dari Linux jika Compiz tidak berfungsi? Bagi user awam, Compiz adalah hal utama yang membuat Linux kelihatan lebih unggul karena menyajikan desktop effects yang luar biasa. Sayangnya karena si driver baru X untuk VGA Intel tampaknya malah bermasalah, secara default Compiz tidak akan bisa berfungsi.
    • Solusi:
      $ sudo gedit /usr/bin/compiz-manager
      tambahkan:
      SKIP_CHECKS = yes
  • Amarok tidak mengeluarkan suara 
    • Solusi:
      $ sudo apt-get install phonon-backend-xine
  • Applet system monitor untuk network tidak berfungsi
    Jika koneksi jaringan yang digunakan adalah dialup (ppp), applet system monitor tidak akan menunjukkan grafik network resources. Tapi kalau kita klik applet tersebut, grafik network muncul dan berfungsi di tab resources.
  • Ubuntu 9.04 sering freeze!!
    Ini dia bug yang membuat saya jengkel setengah mati dan menyimpulkan bahwa Ubuntu 9.04 .. sux!! Untuk pertama kalinya sejak saya menggunakan sistem operasi apapun, baru kali ini lah menemukan bug paling menjengkelkan. Layar tiba-tiba hang, tapi pointer mouse masih bisa digerakkan meskipun tidak ada efek apa-apa jika kita klikkan. Semua tombol jadi tidak berfungsi kecuali tombol power :|. Kejadian ini awalnya muncul beberapa detik setelah saya menyalakan Amarok, sehinggal awalnya saya mengambil kesimpulan mungkin Ubuntu JJ ini kurang bersahabat dengan KDE versi terbaru. Dan akhirnya saya buang semua program yang berbasiskan KDE yang terinstall. Setelah itu, ternyata bug ini masih ada tapi munculnya secara intermittent, tiba-tiba dan tidak bisa ditentukan kapan waktunya. Selama 3 jam mungkin muncul bug ini 1 kali. Setelah diselidiki, ternyata ini adalah bug driver X untuk VGA Intel. Setelah beberapa jam menjelajahi Launchpad, ketemu juga informasi bahwa masalah ada pada package xserver-xorg-video-intel. 
    • Solusi:
      Download dan install versi terbaru xserver-xorg-video-intel (saat tulisan ini ditulis, sudah ada versi 2:2.6.3-0ubuntu9.2). Thanks to Mr. Bryce :).
Fiuh.. semoga tidak ada lagi bug yang ditemukan. Jadi, moral ceritanya adalah.. jangan terburu-buru untuk mengupgrade sistem operasi. Pastikan dulu tidak ada masalah berarti pada sistem operasi baru yang bisa mengganggu kinerja Anda.

Have a nice day!~

Slumdog Millionaire

Slumdog Millionaire—what a movie! This one took home the 2009 Golden Globe for Best Picture in the Drama category, and it’s easy to see why. I usually steer clear of Bollywood films (too predictable, let’s be real 😏), but this one isn’t your typical Bollywood flick. It’s actually a British production by Danny Boyle and Loveleen Tandan, set entirely in India. No wonder it feels so fresh!



The story revolves around Jamal Malik, a young man from the slums of Mumbai competing on Who Wants to Be a Millionaire?. Jamal nails every question, outsmarting even the smartest contestants. But instead of celebrating his success, people accuse him of cheating. The police interrogate him brutally, demanding to know how he knew the answers. Jamal explains: every question ties back to a piece of his difficult, extraordinary life.


The movie uses a clever flashback style to show how Jamal’s past shaped him:

  • Growing up in extreme poverty.
  • Losing his mother in a religious riot.
  • Escaping a gang that exploited street kids as beggars.
  • Drifting apart from his brother Salim and childhood love, Latika.

And here’s the kicker: Jamal isn’t on the show for fame or money. He’s using it to find Latika. That’s where the heart of the story lies.


What makes Slumdog Millionaire special is how it shines a light on the lives of India’s underprivileged—stories we don’t often see in movies. It’s raw, emotional, and relatable, especially for audiences in developing countries. And with its back-and-forth storytelling, you’re constantly on edge, connecting the dots between Jamal’s memories and the quiz questions.


Of course, it’s got its Bollywood vibes: family drama, action, tragedy, and yes, dancing. (Thankfully, no trees or pillars involved. 😂) Adapted from Vikas Swarup’s Q and A, this movie deserved every award it won. My one question: has English really infiltrated India’s poorest communities that much? 🤔



My verdict? 9/10. A must-watch for the story, emotions, and social commentary. Moral of the story? Life doesn’t always make sense in the moment. But someday, you’ll understand how everything fits together. God has made everything fit beautifully in its appropriate time.

Pengalaman Membuat NPWP

Catatan ini mendokumentasikan langkah awal saya dalam memenuhi kewajiban administrasi perpajakan di Indonesia. Sebagai bagian dari persiapan memasuki dunia profesional secara formal, memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) adalah instrumen krusial bagi setiap warga negara yang ingin berkontribusi dalam sistem ekonomi nasional.


Pengalaman Registrasi NPWP Mandiri

Menyambung interaksi saya dengan berbagai birokrasi pelayanan publik belakangan ini, pekan lalu saya fokus pada pengurusan NPWP. Proses ini merupakan prasyarat administrasi dari entitas bisnis tempat saya akan berkontribusi. Menariknya, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) telah menyediakan infrastruktur digital melalui sistem e-Registration, yang secara signifikan mempermudah alur pendaftaran tanpa harus sepenuhnya bergantung pada proses manual di kantor pajak.


Prosedur Registrasi melalui e-Registration

Berdasarkan pengalaman saya, berikut adalah langkah-langkah prosedural yang efektif untuk melakukan pendaftaran secara mandiri:

  1. Pelajari dengan saksama seluruh syarat dan ketentuan yang tertera pada portal resmi.
  2. Lakukan pendaftaran akun baru pada situs ereg.pajak.go.id.
  3. Isi formulir aplikasi dengan akurasi tinggi. Sistem menyediakan fitur bantuan (ikon tanda tanya) untuk memandu navigasi jika terdapat istilah teknis yang memerlukan penjelasan lebih lanjut.
  4. Setelah pengisian selesai, akses menu "Cetak Dokumen" untuk mengunduh dua berkas utama: Formulir Registrasi Wajib Pajak dan Surat Keterangan Terdaftar Sementara. Berkas ini akan dihasilkan dalam format PDF yang siap dicetak.
  5. Bawa kedua berkas tersebut beserta identitas diri (KTP) ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) yang membawahi wilayah domisili Anda (informasi KPP tertera pada header dokumen).


Evaluasi Kualitas Pelayanan (Service Level Agreement)

Terdapat variasi durasi pemrosesan di berbagai KPP. Sebagai perbandingan, rekan saya yang mengurus di KPP area Bandung (dekat BEC) hanya membutuhkan waktu beberapa jam. Namun, di KPP Pratama Cimahi, saya harus menunggu selama satu minggu kalender. Hal ini menjadi catatan kritis bagi saya, mengingat standar pelayanan minimal yang diinformasikan secara publik di kantor tersebut adalah tiga hari kerja. Terdapat disparitas operasional yang perlu diperhatikan dalam manajemen birokrasi ini.


Urgensi Kepatuhan Pajak

Memiliki NPWP adalah pintu gerbang untuk memenuhi kewajiban pelaporan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT). Saat ini (hingga 28 Februari 2009), pemerintah sedang menerapkan kebijakan Sunset Policy—sebuah program penghapusan sanksi administrasi perpajakan yang sangat menguntungkan bagi wajib pajak baru. Saya sangat menyarankan rekan-rekan untuk memanfaatkan momentum ini guna menuntaskan kewajiban perpajakan secara legal dan teratur.

Informasi lebih lanjut mengenai kebijakan teknis dapat diakses melalui situs resmi Direktorat Jenderal Pajak (pajak.go.id).


Kesimpulan

Kepatuhan pajak adalah cerminan dari profesionalisme dan integritas kewarganegaraan. Dengan mengurus administrasi ini secara mandiri, kita tidak hanya memenuhi prasyarat kerja, tetapi juga mendukung keberlanjutan pembangunan nasional. Lunasi pajaknya, awasi penggunaannya.