Tips Memulai Podcast

Podcast merupakan salah satu format konten yang sedang naik daun beberapa tahun terakhir. Kepopulerannya pun semakin meningkat di tahun 2019, antara lain ditandai dengan akuisi Gimlet & Anchor oleh Spotify, serta macOS Catalina pun mem-breakdown aplikasi iTunes menjadi Music, Apple TV, dan Podcasts.

Bagi yang belum familiar, kata "Podcast" sebenarnya berasal dari kata "iPod" + "broadcast". Awalnya, sekitar tahun 2004, Podcast memang dipopulerkan oleh pengguna iPod yang mendengarkan konten audio dari sebuah website. File-file audio ini disindikasi dalam format RSS, sehingga umumnya berisi beberapa eposide yang biasanya di-upload secara berkala. Pendengar bisa men-download podcast per episode, atau langsung semua episode sekaligus.

"Great minds discuss ideas; average minds discuss events; small minds discuss people." – Eleanor Roosevelt

Kali pertama saya mendengarkan Podcast mungkin sekitar tahun 2009. Saat itu 37signals (web development agency di US) baru launching podcast nya, obrolan seputar teknologi. Selain itu, saya juga beberapa kali mendengarkan podcasts buatan orang Indonesia, yaitu Teman Macet. Topiknya pun juga seputaran teknologi. Sayangnya, Teman Macet sudah tidak update lagi sejak 2011.

Saat itu mobile Internet belum secepat sekarang, jadi masih jarang orang yang streaming podcast secara mobile. Berbeda kondisinya dengan sekarang, di mana akses Internet jauh lebih baik, sehingga orang-orang sudah terbiasa streaming audio (Spotify, Joox, dsb) bahkan streaming video (YouTube, Netflix, dsb) secara mobile. Hal ini juga membuat Podcast kembali dinikmati.



Mengapa Podcast?

1. High Growth & Multi Platform
Di US, lebih dari setengah warganya mendengarkan podcast, dan bahkan 32% warganya mendengarkan secara reguler setiap bulan. Trend yang sama kemungkinan besar akan diikuti oleh netizen di Indonesia, dimulai dari kota-kota besar. Selain itu, ada berbagai platform yang sedang berlomba-lomba mempopulerkan konten podcast nya, antara lain Spotify, Apple Podcasts, Google Podcasts, SoundCloud, dsb. Hal ini tentu saja akan membuat penetrasi podcast semakin tinggi di masa yang akan datang.

2. Higher User Engagement
Orang-orang cenderung mengonsumsi konten lebih lama dengan podcast daripada dengan media yang lain. Ada banyak podcast yang memiliki durasi lebih dari satu jam per episode, dan surprisingly banyak juga yang mendengarkannya selama itu! Hal ini tentunya jauh sekali dibandingkan tulisan di blog yang umumnya cuma dibaca sekitar 2-3 menit, atau video di YouTube yang umumnya ditonton sekitar 4-5 menit.

3. Multitasking & Mobility Friendly
Podcast cocok dengan audience yang memiliki kesibukan dan mobility tinggi. Kita bisa mendengarkan dan belajar sesuatu dari podcast yang berfaedah, sambil mengerjakan hal-hal lainnya. Saya biasanya mendengarkan podcast sambil beres-beres apartemen, sambil sepedaan di CFD, atau sambil berkendara di tengah kemacetan Jakarta. Hal ini tidak bisa atau sangat sulit kita lakukan jika kita mencoba belajar dari YouTube karena ada unsur visual yang biasanya menyita lebih perhatian kita.

4. Communication Skill
Podcasting membantu melatih kemampuan komunikasi saya, mulai dari persiapannya sampai ke proses produksi. Saat persiapan, saya harus melakukan research terlebih dahulu terhadap topik yang akan saya bicarakan. Saat produksi, saya harus melatih diri untuk memperbaiki diksi, alur cerita, artikulasi, dan intonasi suara saya. Menghilangkan "hm.." atau "eee.." dalam berkomunikasi adalah hal yang tidak mudah bagi saya, jadi ini harus sering dilatih. Selain itu, podcasting juga membantu saya meningkatkan relasi pertemanan saya, di mana saya akan mengundang teman-teman saya sebagai narasumber yang inspiratif.



Bagaimana Cara Memulai Podcast?

Karena saya juga seorang pemula dalam podcasting, jadi pada bagian ini sebenarnya saya sedang learning by doing (and sharing).

1. PRE-PRODUCTION
Ada lima poin yang perlu pikirkan sebelum kita mulai proses rekaman podcast, yaitu:
  1. Target Audience – Apakah kita mau menyasar profesional, anak sekolah, laki-laki/perempuan, ibu rumah tangga, atau demografi yang lain? Semakin detail persona target audience kita, semakin baik untuk menentukan positioning podcast kita.
  2. Tujuan – Apakah kita membuat podcast ini hanya untuk sekadar sharing, atau mau soft-selling, atau bahkan mau hard-selling?
  3. Tema Konten – Setelah kita menentukan target audience dan tujuan kita, barulah kita bisa menentukan tema konten podcast kita, yang tentunya harus disesuaikan dengan interest dari target audience.
  4. Branding – Tentukan apa nama podcast, deskripsi singkatnya, dan kategori podcast tersebut (bisa mengacu pada daftar kategori podcast yang ada di Spotify atau Apple Podcast). Sebaiknya buat juga artwork (podcast cover) supaya menarik perhatian.
  5. Format Episode – Apakah kita mau ngomong sendiri atau monolog (solo story-telling), atau kita undang narasumber lalu berdialog (interview), atau kita undang host yang lain lalu ngobrol bersama-sama (multi-host), atau hybrid beberapa format? Lalu berapa lama durasi podcast kita? Sebaiknya format ini disesuaikan dengan behaviour dari target audience kita.

2. PRODUCTION
Ada beberapa hardware dan software yang perlu dipersiapkan saat proses rekaman, yaitu:
  1. Hardware – Kita sebenarnya bisa mulai dari yang paling sederhana, yaitu cukup dengan smartphone + headset (lebih baik pakai clip-on microphone). Atau jika sudah mau naik level, bisa pakai laptop + USB microphone. Atau, jika merasa sudah siap untuk level advanced, bisa gunakan handy recorder, atau laptop + XLR microphone + audio mixer. Semakin advanced, investasi yang diperlukan pasti lebih besar, dan hasilnya pun biasanya relatif lebih baik.
  2. Software – Jika kita menggunakan smartphone, kita bisa pakai aplikasi yang ada di App Store dan Play Store, misalnya Easy Voice Recorder, dsb. Jika kita menggunakan laptop, kita bisa pakai aplikasi gratis seperti GarageBand atau Audacity, atau bisa pakai aplikasi pro seperti Logic Pro X atau Adobe Audition.

3. POST-PRODUCTION
Ada empat hal yang perlu dilakukan setelah kita selesai rekaman podcast, yaitu:
  1. Editing – Setidaknya ada tiga bagian dalam suatu episode podcast, yaitu intro, main content, dan outro. Untuk intro & outro, sebaiknya kita pakai musik supaya terdengar lebih bagus. Kita bisa pakai aplikasi podcast recording tertentu yang sudah menyediakan pilihan musik untuk intro. Kita juga bisa beli royalty-free music, jadi cukup bayar satu kali saja, supaya kita bisa terhindar dari masalah legal di kemudian hari. Lalu, biasanya kita juga tambahkan Voice Over (VO) yang menjelaskan sekilas podcast kita. Sedangkan bagian main content, kita bisa edit secukupnya dengan aplikasi audio editor untuk memperjelas suara, menghilangkan noise, atau melakukan sensor pada kalimat tertentu.
  2. Hosting – Setelah kita selesai editing podcast, kita perlu meng-upload file audio tersebut ke file hosting yang support RSS feed. Podcaster pro biasanya menggunakan layanan berbayar seperti Libsyn atau Blubrry untuk hosting podcast. Podcast pemula bisa memanfaatkan layanan gratis seperti Anchor.
  3. Publishing – Setelah podcast kita sudah di-host dan online, selanjutnya kita perlu mempublikasikan ke berbagai platform, seperti Spotify, iTunes, Stitcher, SoundCloud, dsb.
  4. Marketing – Ada tiga channel utama yang wajib kita prioritaskan untuk memasarkan podcast kita, yaitu: website (supaya bisa dijangkau search engine), social media, dan rekomendasi dari podcaster lainnya.

Rekomendasi Podcast

Ada beberapa podcast yang rutin saya dengarkan, kebanyakan dari kategori business and technology, sesuai passion saya, meskipun kadang saya dengarkan juga podcast sepak bola dan politik. Podcast yang biasa saya dengarkan antara lain: The Tim Ferriss Show, The GaryVee Audio Experience, The Knowledge Project, Rework, The Heartbeat, dan Master of Scale with Reid Hoffman. Sementara itu, untuk podcast berbahasa Indonesia, sesekali saya mendengarkan BukaTalks (kalau topik narasumbernya menarik), Box2Box Football Podcast (terutama kalau Arsenal menang atau MU kalah 😜), dan Asumsi Bersuara (kalau ada isu politik yang menarik).

Oya, saat ini saya sedang mengerjakan sebuah proyek podcast. Ide ini awalnya tercetus dari hasil refleksi saya, bahwa saya sering sekali mendapatkan banyak pelajaran hidup dan pelajaran bisnis, ketika saya berdiskusi dengan orang-orang di sekitar saya, mulai rekan-rekan di tempat kerja, klien-klien di korporasi, para startup founders, sampai dengan teman-teman volunteers. Oleh karena itu, saya mencoba untuk me-multiplikasi obrolan berfaedah tersebut ke podcast berikut ini, supaya semakin banyak orang yang terinspirasi.

THE SPECTRUM TALKS
Podcast ini saya inisiasi bersama teman-teman di Suitmedia (sebuah creative digital agency di mana saya berkarya), membahas tentang bisnis, teknologi, dan kewirausahaan. Podcast ini ditujukan ke pendengar dari kalangan business executives, supaya mendapatkan insight baru dari para narasumber. Di setiap episode Spectrum Talks, saya (dan nantinya rekan-rekan Suitmedia lainnya) akan mewawancari para business leaders, baik dari kalangan tech startup, maupun dari kalangan korporasi.

So, please subscribe to my podcast: The Spectrum Talks. It's available on Spotify, Google Podcasts, and Apple Podcasts. Hope you enjoy! :)


No comments :