Install StarUML di Ubuntu

Kemarin Paul mengirimi saya beberapa file rancangan suatu sistem untuk keperluan proyek yang sedang kami kerjakan. Di antara file tersebut ada file berekstensi .uml, yang mana merupakan file luaran program StarUML. StarUML merupakan perangkat lunak open source yang cukup populer untuk membuat desain UML. Sayangnya, StarUML hanya bisa dijalankan di platform Win32, tidak ada versi untuk platform lainnya termasuk Linux (Ubuntu) seperti yang saya gunakan.

StarUML versi Linux tidak tersedia, tidak berarti kita tidak bisa menggunakannya di Linux :). Yang pertama terlintas di pikiran saya adalah dengan menginstalnya di platform Win32 yang ada di atas Virtualbox 2.1.0 baru saya. Tapi setelah dipikir-pikir hasilnya nanti jadi tidak praktis, akhirnya saya pun mencoba menginstallnya dengan Wine, seperti dulu saya pernah menginstal Office 2007 di Ubuntu saya :).

Adapun langkah-langkah menginstall StarUML di Linux (Ubuntu) adalah sebagai berikut:

1. Install Wine

$ sudo apt-get install wine
2. Download winetricks,
$ wget http://www.kegel.com/wine/winetricks
lalu
$ winetricks mfc42 msxml4 
3. Download dan install Windows Script Control
$ wget http://download.microsoft.com/download/winscript56/Install/1.0/W982KMeXP/EN-US/sct10en.exe
$ wine sct10en.exe
4. Terakhir, install StarUML.
$ wine /path/to/StarUML/staruml-5.0-with-cm.exe

Semoga bermanfaat.. :)

Pelatihan OpenOffice.org

Kemarin, 13-14 Desember 2008, saya dan Roland berkesempatan untuk menjadi trainer di pelatihan OpenOffice.org. Pelatihan yang diselenggarakan di Laboratorium Dasar Informatika ITB oleh POSS ITB ini, diikuti oleh lebih dari 40 peserta. Pada kesempatan ini, saya mengajarkan tentang penggunaan Writer (termasuk Math) dan Calc, sedangkan Roland mengajarkan tentang Draw dan Impress.

Peserta pelatihan ini datang dari berbagai kalangan, kebanyakan dari mereka adalah guru dari sekolah-sekolah di Bandung. Latar belakang kemampuan komputernya pun beragam, ada yang sudah mahir menggunakan MS Office, ada yang tidak terlalu mahir, dan bahkan ada yang sangat awam terhadap komputer (kalau gak mau dicurigai belum pernah mengoperasikan komputer ;). Saat memberikan pelatihan ini, saya jadi teringat ketika dulu menjadi asisten kuliah TIK bagi mahasiswa jalur  bridging (Kemitraan Nusantara) ITB 2008. Saat itu latar belakang calon mahasiswanya pun beragam karena asal daerah mereka berbeda-beda, ada yang dari kota besar dan tak sedikit yang dari kota kecil di pelosok negeri ini, yang mana masih asing dengan komputer. Begitu pula saat memberikan pelatihan ini, bukan tidak mungkin ada yang baru mulai belajar aplikasi perkantoran :). Satu hal yang bikin saya kagum dari peserta pelatihan kemarin adalah kemauan mereka untuk terus belajar di usia yang tidak terlalu muda lagi :).

Mengenai aplikasi OpenOffice.org 3, menurut saya ini adalah salah satu aplikasi open source terbaik yang pernah ada. Setidaknya ada 3 alasan kenapa saya bilang OpenOffice.org 3 ini sangat recommended:
  1. Gratis! Anda tidak perlu mengeluarkan uang sebesar US$ 150 - 680 untuk mendapatkan aplikasi perkantoran yang lengkap. Terlebih penting lagi, Anda tidak perlu melakukan pembajakan software jika tidak punya uang. ;)
  2. Semua kebutuhan umum aplikasi perkantoran (yang biasa dikerjakan di MS Office) bisa dikerjakan di OpenOffice. Isu layout yang kacau saat membuka .doc dari MS Office di OpenOffice pun sudah diperbaiki secara drastis, meskipun belum sempurna.
  3. Ada fitur "Export to PDF" ... dan Anda pun akan menghemat uang (lagi) sebesar US$449 :).
Belum punya OpenOffice? Langsung saja unduh installer-nya di sini atau di sini (mirror Indonesia ;).

cheers...

Final Lomba Karya Ilmiah “Tanoto Foundation Award”

Pada Sabtu, 6 Desember 2008, tim kami—saya, Wisnu, dan Paul (mewakili HMIF ITB)—mendapat kesempatan untuk mempresentasikan hasil penelitian kami dalam babak final Lomba Karya Ilmiah antar-himpunan mahasiswa ITB yang disponsori oleh Tanoto Foundation. Kompetisi ini merupakan perjalanan panjang yang dimulai sejak April hingga September tahun tersebut. 

Dari 17 proposal yang diajukan oleh berbagai himpunan mahasiswa, hanya 7 yang berhasil lolos seleksi ketat untuk mendapatkan pendanaan penelitian. Para finalis berasal dari disiplin ilmu yang beragam, mulai dari Informatika dan Elektro hingga Arsitektur dan Teknik Kimia.



Karya ilmiah yang kami ajukan berjudul "Pembangunan Distro Linux untuk Pendidikan di Indonesia (Studi Kasus: ITB)", yang merupakan landasan teoritis dan praktis di balik pengembangan OSGX. Motivasi utama kami mengikuti kompetisi ini adalah untuk mengamankan pendanaan strategis. 

Kami menyadari bahwa distribusi Linux yang sukses di tingkat global selalu memiliki model pendanaan yang kuat; misalnya Ubuntu oleh Canonical, Fedora oleh Red Hat, atau BlankOn oleh YPLI. Melalui dana hibah dari LPKM ini, kami dapat mengeksekusi rencana produksi, publikasi, dan sosialisasi OSGX secara lebih profesional.


Presentasi Final

Dalam sesi presentasi final, saya memfokuskan narasi pada tiga masalah fundamental yang coba kami pecahkan: tingginya angka pembajakan perangkat lunak, hambatan akses aplikasi pada sistem operasi Linux, serta keterbatasan infrastruktur internet untuk mengunduh dari repository pusat. 

Solusi kami adalah menyediakan distro yang siap pakai (ready-to-use) dengan aplikasi yang sudah terkurasi untuk kurikulum ITB. Kami sengaja memilih strategi target pasar yang spesifik (niche strategy) daripada mencoba bersaing di level nasional dengan distro seperti Nusantara atau BlankOn. Kami percaya bahwa semakin fokus target penggunanya, semakin tepat guna solusi yang dihasilkan.

Meskipun telah dipersiapkan dengan matang, sesi presentasi tidak berjalan tanpa kendala teknis. Perangkat lunak OpenOffice Impress gagal ditampilkan saat laptop terhubung ke proyektor. Namun, sebagai langkah mitigasi (contingency plan), saya telah menyiapkan dokumen dalam format PDF. Presentasi akhirnya dijalankan menggunakan Evince (Document Viewer) dengan lancar. 

Sesi tanya jawab menjadi bagian yang paling menantang karena dewan juri terdiri dari para ahli kompetisi ilmiah tingkat nasional, termasuk Ketua Dewan Juri Pimnas. Saya memandang kritik tajam mereka sebagai bentuk penggemblengan mental untuk meningkatkan kualitas karya ilmiah kami.


Hasil Akhir

Setelah seluruh finalis memaparkan penelitian mereka, dewan juri segera menentukan pemenang. Berdasarkan observasi saya terhadap latar belakang dewan juri yang sangat berorientasi pada dampak nasional yang luas, saya memprediksi tim kami akan bersaing ketat namun mungkin tidak menempati posisi pertama. Saya sangat mengapresiasi inovasi tim HME dengan teknologi lampu hemat energi berbasis LED yang memiliki potensi implementasi industri yang besar.

Hasil akhir mengumumkan urutan juara sebagai berikut:

  1. Himatika (Optimasi penempatan wireless access point)
  2. HMIF (Pengembangan Distro Linux OSGX)
  3. HME (Lampu hemat energi berbasis LED)

Kami sangat bersyukur dapat meraih posisi kedua dalam kompetisi bergengsi ini. Meskipun saya memiliki catatan kritis terhadap penelitian juara pertama terkait aspek realitas implementasi—khususnya mengenai faktor perambatan sinyal non-line-of-sight—saya tetap menghormati keputusan juri. 

Pencapaian ini menjadi validasi penting bagi kerja keras tim OSGX dan kontribusi kami bagi komunitas akademik ITB. Teruslah berkarya!

Final Lomba Blogging OSS Week 2008

Pada November 2008, saya berkesempatan mengikuti putaran final lomba blogging dalam rangkaian acara OSS Week 2008 yang diselenggarakan oleh Pusat Pendayagunaan Open Source Software (POSS) ITB

Kompetisi ini menuntut disiplin dan konsistensi yang tinggi; setiap peserta diwajibkan mempublikasikan tujuh artikel bertema Open Source Software (OSS) dalam waktu tujuh hari berturut-turut (17–23 November 2008). 

Bagi saya, ini bukan sekadar lomba menulis, melainkan uji ketahanan dalam menyusun gagasan yang terstruktur di bawah tekanan waktu.



Pada babak final, para finalis diminta mempresentasikan artikel unggulannya di hadapan dewan juri dan audiens umum. 

Saya memilih untuk mengangkat topik bertajuk "Open Source, Solusi di Masa Krisis". Dalam presentasi tersebut, saya memperluas pembahasan untuk menyentuh aspek strategis lainnya, seperti dekonstruksi mitos seputar OSS, panduan taktis migrasi sistem, serta integrasi pemikiran-pemikiran yang telah saya tuangkan di blog ini. 

Saya berupaya menunjukkan bahwa open source bukan hanya pilihan teknis, melainkan strategi bisnis yang relevan dalam menghadapi tantangan ekonomi.

Hasil kompetisi ini cukup membanggakan, dan berikut adalah daftar pemenangnya:

  1. Anggriawan Sugianto
  2. Haryo Triwardhono (Siswa kelas XI SMAN 20 Bandung)
  3. Dani Iswara (Dikenal sebagai "Dokter Linux")
  4. Fahri Firdausillah (Semarang) & Ardianto Satriawan (STEI ITB 2007)


Saya sangat mengapresiasi materi yang dibawakan oleh rekan-rekan finalis lainnya. Masing-masing menyajikan sudut pandang yang unik dan memperkaya diskursus mengenai ekosistem teknologi terbuka. 

Saya berharap tulisan-tulisan yang telah kami publikasikan dapat memberikan edukasi yang lebih luas kepada masyarakat mengenai efisiensi dan keunggulan menggunakan perangkat lunak open source.

Tips Migrasi ke Open Source

Proses migrasi ke ekosistem open source sering kali lebih menantang dari yang diperkirakan. Hambatan utamanya bukan pada faktor teknis, melainkan pada Manajemen Perubahan (Change Management)—bagaimana kita melepaskan ketergantungan pada legacy systems yang sudah menjadi zona nyaman selama bertahun-tahun.

Migrasi yang sukses memerlukan strategi yang bertahap untuk meminimalkan friksi produktivitas. Berikut adalah kerangka kerja strategis untuk transisi dari perangkat lunak proprietary ke open source (khususnya dari Windows ke Linux).


Strategi Migrasi Bertahap: Panduan Implementasi


1. Fase Adaptasi Aplikasi (Soft Migration)

Sebelum mengganti sistem operasi secara total, mulailah dengan menggunakan aplikasi open source yang berjalan di atas Windows atau macOS. Identifikasi perangkat lunak harian Anda dan cari padanan open source-nya (misalnya, beralih dari MS Office ke OpenOffice atau dari Photoshop ke GIMP).

Tujuan: Mengurangi learning curve shock ketika Anda benar-benar berpindah sistem operasi, karena antarmuka aplikasinya sudah familiar.


2. Uji Interoperabilitas Data

Pastikan tipe data yang dihasilkan oleh perangkat lunak lama dapat dibaca secara akurat oleh perangkat lunak baru.

Langkah Taktis: Gunakan format standar yang kompatibel (seperti menyimpan file .doc yang dapat diakses baik oleh MS Word maupun OpenOffice Writer). Untuk aplikasi yang tidak memiliki padanan, evaluasi penggunaan Wine sebagai compatibility layer untuk menjalankan aplikasi Windows di lingkungan Linux.


3. Eksperimen di Lingkungan Rendah Risiko (Sandboxing)

Gunakan LiveCD/LiveDVD atau Virtual Machine (seperti VirtualBox) untuk mengeksplorasi distro Linux pilihan Anda.

Manfaat: Anda dapat merasakan pengalaman pengguna secara penuh tanpa harus melakukan instalasi permanen atau memodifikasi partisi harddisk. Ini adalah metode terbaik untuk melakukan validasi sistem sebelum implementasi penuh.


4. Implementasi Lingkungan Hybrid (Dual-Boot)

Untuk fase transisi awal, terapkan metode dual-boot (menjalankan dua sistem operasi dalam satu perangkat).

Strategi: Tetapkan Linux sebagai default bootloader untuk mendorong intensitas penggunaan, namun tetap sediakan Windows sebagai cadangan untuk kebutuhan spesifik yang belum terakomodasi (seperti dukungan driver perangkat keras tertentu atau kebutuhan hiburan/game).


5. Membangun Ekosistem Dukungan (Community of Practice)

Bergabunglah dengan komunitas atau mailing list open source. Memiliki akses ke jaringan pengetahuan yang suportif sangat krusial saat Anda menghadapi kendala teknis yang belum pernah ditemui sebelumnya. Kekuatan open source terletak pada kolaborasi komunitasnya.


6. Eksekusi dan Penegakan Kepatuhan (Compliance)

Ambil langkah nyata dengan menghapus perangkat lunak bajakan yang fungsinya telah berhasil digantikan oleh solusi open source. Ini bukan hanya soal efisiensi biaya, melainkan soal integritas profesional untuk menggunakan perangkat lunak yang legal dan berlisensi.


Kesimpulan

Migrasi ke open source adalah investasi jangka panjang untuk kemandirian teknologi. Dengan kesabaran dan kemauan untuk belajar, Anda tidak hanya mendapatkan efisiensi biaya, tetapi juga kontrol penuh atas alat produktivitas Anda. Selamat bertransformasi ke ekosistem yang lebih terbuka dan legal.

Kekurangan Linux

Dalam mengulas sebuah teknologi, objektivitas adalah prinsip utama. Saya tidak ingin terjun ke dalam retorika "salesman" yang hanya memaparkan kelebihan tanpa mengakui batasan sistem. Sebagai seorang praktisi, memahami kekurangan sebuah platform justru krusial untuk melakukan mitigasi risiko dan perencanaan strategis yang tepat.

Berikut adalah analisis mengenai beberapa keterbatasan ekosistem Linux (khususnya jika dibandingkan dengan dominasi Windows pada tahun 2008) serta langkah-langkah mitigasi yang dapat diambil.


Keterbatasan Ekosistem Linux: Analisis dan Mitigasi

Meskipun memiliki keunggulan dalam hal keamanan dan efisiensi, Linux tetap memiliki tantangan adaptasi yang signifikan bagi pengguna tertentu. Berikut adalah tiga batasan utama yang perlu dipertimbangkan:


1. Ekosistem Hiburan dan Industri Game

Hingga saat ini, pengembang game papan atas (seperti Blizzard atau EA Sports) masih memprioritaskan Windows sebagai platform utama. Hal ini sangat logis secara bisnis, mengingat dominasi pasar Microsoft yang masif. Bagi segmen pengguna yang sangat bergantung pada konten hiburan atau gaming intensif, migrasi total ke Linux mungkin akan menghadapi hambatan pengalaman pengguna (user experience).


Mitigasi: Pengguna dapat memanfaatkan Wine atau compatibility layer sejenis yang mampu menjalankan aplikasi berbasis Windows di lingkungan Linux. Meski performanya terus membaik, perlu dipastikan apakah aplikasi spesifik tersebut (seperti Warcraft III atau perangkat lunak desain tertentu) sudah didukung secara optimal.


2. Kompatibilitas Perangkat Keras (Hardware Driver Support)

Vendor perangkat keras secara alami mengoptimalkan driver mereka untuk sistem operasi dengan pangsa pasar terbesar guna memaksimalkan ROI (Return on Investment). Akibatnya, dukungan driver untuk kernel Linux terkadang tidak secepat atau selengkap dukungan untuk Windows. Meskipun komunitas Linux sangat aktif dalam membangun driver open-source, isu kompatibilitas pada perangkat keras terbaru masih sering ditemukan.


Mitigasi: Lakukan audit terhadap inventaris perangkat keras Anda. Langkah yang paling efektif adalah melakukan realokasi aset dengan memilih perangkat keras yang telah terverifikasi mendukung ekosistem Linux, atau melakukan perhitungan cost-benefit antara biaya lisensi Windows asli dengan biaya penggantian perangkat keras.


3. Aksesibilitas Jaringan Pengetahuan (Knowledge Network)

Dominasi Windows menciptakan kemudahan dalam mencari solusi masalah secara interpersonal; hampir setiap orang di sekitar kita familiar dengan sistem tersebut. Sebaliknya, basis pengguna Linux yang lebih kecil membuat dukungan teknis secara fisik (on-site support) menjadi lebih terbatas bagi pengguna awam.


Mitigasi: Manfaatkan kekuatan komunitas digital. Solusi untuk hampir setiap permasalahan Linux dapat ditemukan melalui forum diskusi, mailing list, atau kanal IRC khusus. Di sinilah letak kekuatan sesungguhnya dari open source: ekosistem dukungan global yang siap membantu tanpa biaya, asalkan pengguna proaktif dalam mencari informasi.


Kesimpulan

Memilih Linux adalah tentang menimbang antara kebebasan dan kontrol dengan kenyamanan ekosistem yang sudah matang. Dengan strategi yang tepat, keterbatasan-keterbatasan di atas dapat dikelola sehingga tidak menghambat produktivitas jangka panjang.

Mendekonstruksi Mitos Seputar Open Source

Saat ini, minat terhadap perangkat lunak open source terus meningkat, namun sering kali muncul keraguan akibat misinformasi. Berikut adalah analisis terhadap empat mitos utama yang sering beredar:


1. "Open Source Hanya untuk Ahli IT"

Mitos ini berakar pada anggapan bahwa sistem seperti Linux sangat kompleks dan sulit dioperasikan oleh pengguna awam. Faktanya, hambatan utamanya bukan pada kompleksitas, melainkan pada proses adaptasi. Pengguna sering kali merasa enggan keluar dari zona nyaman sistem yang biasa mereka gunakan. Penting untuk diingat bahwa open source tidak terbatas pada Linux. Dengan menggunakan peramban seperti Mozilla Firefox, Anda sebenarnya telah mengadopsi teknologi open source. Transisi ke perangkat lunak terbuka kini jauh lebih intuitif dan ramah pengguna dibandingkan sebelumnya.


2. "Perangkat Lunak Open Source Sulit Didapatkan"

Anggapan ini biasanya muncul karena ketersediaan perangkat lunak terbuka tidak terlihat di pusat perbelanjaan atau gerai retail fisik (yang sering kali menjajakan versi bajakan). Secara praktis, hampir seluruh pengembang open source menyediakan akses unduhan melalui situs resmi mereka. Selain itu, bagi pengguna Linux, tersedia sistem Repository yang sangat efisien. Melalui DVD Repository yang bisa diperoleh dari organisasi pendukung seperti POSS atau komunitas Linux lainnya, pengguna dapat mengakses ribuan aplikasi berkualitas dengan biaya yang sangat minim tanpa bergantung sepenuhnya pada koneksi internet.


3. "Tidak Cocok untuk Skala Perusahaan/Bisnis"

Banyak organisasi menganggap open source tidak layak untuk skala enterprise karena dianggap sebagai solusi "murahan" atau kurang bergengsi. Ini adalah kekeliruan strategis. Melalui implementasi yang cermat, open source justru mampu memberikan efisiensi biaya dan fleksibilitas tinggi bagi perusahaan. Data menunjukkan bahwa mayoritas perusahaan besar di dunia (estimasi mencapai 85%) telah mengintegrasikan komponen open source ke dalam infrastruktur IT mereka untuk mendukung operasional yang kritikal.


4. "Open Source Tidak Reliable"

Faktanya, fondasi internet yang kita gunakan saat ini dibangun di atas infrastruktur open source. Sistem penamaan domain (DNS) global sangat bergantung pada BIND, sebuah program open source yang paling krusial di dunia. Dari sisi server, Apache mendominasi pasar web server global dengan pangsa lebih dari 60%, yang umumnya dijalankan di atas sistem operasi FreeBSD atau Linux. Jika teknologi ini tidak reliabel, maka seluruh jaringan internet global tidak akan mampu beroperasi secara stabil seperti sekarang.


Kesimpulan

Dengan memahami fakta di atas, keraguan terhadap reliabilitas dan fungsionalitas open source seharusnya tidak lagi menjadi penghalang. Mengadopsi teknologi terbuka adalah langkah cerdas menuju kemandirian teknologi dan efisiensi sumber daya.

Open Source: Strategi Efisiensi di Tengah Krisis Global

Dunia saat ini tengah menghadapi krisis ekonomi global yang berdampak signifikan pada stabilitas berbagai sektor industri. Dalam kondisi penuh ketidakpastian ini, perusahaan dipaksa untuk melakukan penyesuaian anggaran (budget realignment), tidak terkecuali pada divisi teknologi informasi. Di sinilah perangkat lunak open source (OSS) muncul sebagai proposisi nilai yang strategis untuk menjaga resiliensi operasional perusahaan.


Bagaimanakah peran perangkat lunak open source dalam menghadapi krisis ini?

Jawabannya terletak pada efisiensi biaya. Dalam tekanan ekonomi, perusahaan dituntut untuk beralih dari pengeluaran modal (CAPEX) yang berat pada lisensi perangkat lunak proprietary menuju model yang lebih fleksibel. Dengan memanfaatkan solusi dari repositori global seperti SourceForge atau Google Code, perusahaan dapat memperoleh akses ke perangkat lunak berkualitas tinggi yang dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan spesifik bisnis tanpa beban biaya lisensi yang masif.


Perbandingan Biaya: Lisensi Proprietary vs. Open Source

Migrasi ke perangkat lunak open source menawarkan penghematan langsung yang signifikan. Berikut adalah beberapa contoh estimasi biaya lisensi per unit (berdasarkan harga pasar 2008) yang dapat dieliminasi:


Kategori Solusi Proprietary Solusi Open Source Estimasi Penghematan
Produktivitas Microsoft Office 2007 Standard OpenOffice ~$315
Email Client Microsoft Outlook 2007 Thunderbird / Evolution ~$90
Akuntansi Quicken Starter Edition GnuCash ~$30
Kolaborasi Microsoft SharePoint (5 Users)* Alfresco ~$5,000+
Keamanan Windows + Norton Antivirus Linux (Inherent Security) ~$150+


*Catatan: Biaya SharePoint mencakup dependensi infrastruktur seperti SQL Server dan Windows Server.


Studi Kasus: Total Cost of Ownership (TCO) pada Skala Enterprise

Mari kita tinjau analisis perbandingan pada perusahaan berskala menengah dengan sekitar 1.000 karyawan, yang mengoperasikan 20 application server dan 10 database server (berdasarkan data Sun Microsystems):

  1. Skenario Proprietary (Oracle & WebLogic): Total pengeluaran selama 3 tahun mencapai US$ 3.237.000.
  2. Skenario Open Source (MySQL & Glassfish): Total biaya (termasuk subscription dan dukungan teknis) hanya sebesar US$ 240.000.

Dalam simulasi ini, penggunaan perangkat lunak open source mampu memberikan efisiensi anggaran sebesar US$ 2.997.000 dalam periode tiga tahun. Anggaran yang dihemat ini dapat dialokasikan kembali untuk inisiatif bisnis yang lebih krusial di masa krisis.


Kesimpulan

Perlu dipahami bahwa dengan aplikasi open source, perusahaan tetap mengeluarkan biaya untuk deployment, dukungan teknis, atau langganan (subscription). Namun, perbedaan mendasarnya adalah eliminasi biaya lisensi di awal.

Open source adalah solusi pragmatis di masa krisis karena mampu melakukan penghematan finansial secara substansial tanpa mengorbankan fungsionalitas teknologi. Di tengah ketatnya persaingan dan terbatasnya likuiditas, memilih solusi yang memberikan efisiensi biaya maksimal adalah keputusan kepemimpinan yang bijak.

Strategi Migrasi: Mengoptimalkan Perangkat Lunak Open Source

Pernyataan bahwa perangkat lunak open source tidak sebanding dengan perangkat lunak komersial adalah sebuah miskonsepsi yang perlu diluruskan. Melalui tulisan ini, saya ingin menunjukkan bahwa open source bukan sekadar alternatif "gratisan", melainkan ekosistem profesional yang menawarkan kualitas, interoperabilitas, dan efisiensi yang kompetitif bagi operasional sehari-hari maupun kebutuhan bisnis.


Dekonstruksi Mitos Open Source

Seringkali, open source (OSS) dianggap identik dengan Linux yang "sulit dioperasikan". Faktanya, banyak aplikasi OSS yang bersifat lintas platform (cross-platform) dan berjalan sangat baik di Windows maupun Mac OSX. Dari segi kualitas, banyak proyek OSS yang kini menjadi standar industri karena didukung oleh komunitas pengembang global yang masif.

Memilih open source adalah keputusan strategis untuk menghindari ketergantungan pada satu vendor (vendor lock-in) dan memastikan integritas profesional dengan menggunakan perangkat lunak yang legal.


Daftar Strategis: Alternatif Open Source untuk Profesional

Berikut adalah kurasi perangkat lunak open source yang saya rekomendasikan sebagai pengganti solusi komersial berbayar (atau solusi bajakan yang berisiko):


KOMERSIAL OPEN SOURCE
Perkantoran
Microsoft Office OpenOffice
Microsoft Project OpenProj, Open Workbench
Adobe Acrobat Profesional PDF Creator
Internet
Internet Explorer Mozilla Firefox
Microsoft Outlook Evolution, Mozilla Thunderbird
Total Commander gFTP
MSN Messenger, YM, ICQ, .. Pidgin
mIRC XChat, Pidgin
Microsoft IIS Apache
Microsoft Exchange Server Zimbra
Multimedia
Winamp, Apple iTunes Amarok, Songbird
Windows Media Player VLC Media Player
Adobe Soundbooth Audacity, Ardour
Keamanan
Norton, Kaspersky, AVG ClamWin, ClamAV
PGP Desktop GnuPG
Grafis
Adobe Photoshop GIMP, Gimpshop
CorelDraw, Adobe Illustrator Inkscape
3ds Max, Maya Blender
AutoCAD BRL CAD, Archimedes
ACD See F-Spot
MovieMaker, Adobe Premier Kino
Kakas Pengembangan
Borland JBuilder, IntelliJ IDEA Eclipse, Netbeans
Borland Delphi Lazarus
Microsoft Visio DIA, StarUML, ArgoUML
Basis Data
Oracle Database, SQL Server PostgreSQL, MySQL
Microsoft Access OpenOffice Base, SQLite
Numerik
MATLAB Octave, Scilab
Maple Maxima, Sage
Lain-Lain
Partition Magic Gparted
Nero Burning Rom Brasero, K3B
VMware Virtualbox
Winzip, Winrar 7-Zip
Flight Simulator X Flight Gear


Daftar di atas mencakup perangkat lunak yang krusial bagi produktivitas kita. Rekomendasi ini didasarkan pada tingkat adopsi yang luas serta kinerja yang teruji dalam alur kerja saya pribadi.


Kesimpulan & Etika Profesional

Jika saat ini Anda masih mengandalkan versi bajakan dari perangkat lunak komersial di atas, saya sangat menyarankan untuk beralih ke solusi open source. Ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan tentang menjaga integritas profesional dan kepatuhan hukum (compliance). Membangun karier atau bisnis di atas pondasi yang legal adalah langkah strategis pertama menuju kesuksesan yang berkelanjutan.

OSGX: Solusi Sistem Operasi Terkurasi untuk Civitas Akademika ITB

Judul di atas merupakan sebuah positioning statement yang sengaja saya pilih untuk memperkenalkan OSGX, sebuah distribusi Linux yang saya kembangkan bersama rekan-rekan. Meskipun saat ini civitas akademika ITB menggunakan berbagai distribusi populer seperti Ubuntu, Fedora, atau PCLinuxOS, OSGX hadir dengan proposisi nilai yang spesifik: sebuah sistem operasi open source alternatif yang dirancang khusus untuk menjawab kebutuhan teknis dan akademis di lingkungan ITB.


Visi di Balik OSGX

Secara fundamental, OSGX adalah distribusi Linux yang dikembangkan untuk mendukung ekosistem pendidikan di Indonesia, khususnya di ITB. Kami merancangnya sebagai sistem operasi siap pakai yang sudah dilengkapi dengan berbagai aplikasi esensial untuk kebutuhan perkuliahan maupun produktivitas harian.

Bagi yang awam dengan istilah ini, penting untuk membedakan antara Kernel dan Distribusi. Linux sejatinya adalah sebuah kernel—inti level rendah dari sistem operasi yang serupa dengan UNIX. Sedangkan Distribusi Linux (distro) adalah bundel lengkap yang terdiri dari kernel beserta berbagai lapisan aplikasi di atasnya. OSGX adalah bentuk kurasi kami terhadap bundel tersebut.


Identifikasi Masalah: Mengapa Kami Mengembangkan Distro Baru?

Pertanyaan strategisnya adalah: di tengah popularitas Ubuntu atau Fedora, mengapa kami memilih untuk membangun distribusi baru? Jawabannya berakar pada pengalaman personal kami terhadap hambatan infrastruktur di masa itu.

Pada awal perkenalan saya dengan Linux di tahun 2004, saya menyadari adanya hambatan adopsi (friction) yang signifikan. Distro arus utama seringkali tidak menyertakan codec multimedia atau compiler bahasa pemrograman (seperti Pascal atau Java) secara default. Untuk mendapatkannya, pengguna harus mengunduh dari repository daring. Namun, di tahun 2000-an, akses internet masih sangat terbatas (sering kali mengandalkan koneksi dial-up atau GPRS). Masalah "dependensi" perangkat lunak di Linux menjadikannya hampir mustahil bagi pengguna dengan keterbatasan bandwidth untuk membangun sistem yang fungsional.

Berangkat dari observasi tersebut, saya bersama Wisnu, Paul, dan Ahmy berinisiatif menciptakan distro yang sudah "pre-loaded" dengan seluruh aplikasi yang dibutuhkan. Dengan OSGX, pengguna tidak perlu lagi mengkhawatirkan proses pengunduhan aplikasi tambahan. Kami menjawab dua masalah utama: kurangnya literasi mengenai sistem repository dan keterbatasan infrastruktur internet.


Pengembangan Berbasis Data (User-Centric Design)

Dalam fase pengembangan, kami tidak hanya berasumsi. Kami melakukan survei kepada calon pengguna untuk memetakan kebutuhan utama mereka, yang kemudian kami kategorikan menjadi tiga pilar: Akademik, Hiburan, dan Internet. Berdasarkan data tersebut, kami menyusun tiga tingkatan produk (tiered offerings):

  • OSGX 1.0 Basic: Fokus pada kebutuhan umum dan dukungan multimedia.
  • OSGX 1.0 Informatics: Versi khusus Teknik Informatika yang dilengkapi dengan berbagai open source development tools.
  • OSGX 0.8 Full: Versi komprehensif yang mencakup kebutuhan lintas program studi di ITB.


Kami mendistribusikan OSGX melalui berkas .iso yang dapat diunduh maupun melalui pembagian DVD fisik secara gratis pada berbagai kesempatan seminar. Kami juga menyediakan fitur LiveCD, yang memungkinkan pengguna mencoba sistem operasi ini secara langsung tanpa harus melakukan instalasi permanen pada harddisk.




Penutup dan Refleksi

Pengembangan OSGX merupakan bukti nyata dari keunggulan model open source. Jika solusi yang ada di pasar tidak sesuai dengan kebutuhan spesifik kita, kita memiliki legalitas untuk memodifikasi dan membangun solusi yang lebih tepat guna. Fleksibilitas ini adalah nilai tambah yang tidak dimiliki oleh perangkat lunak proprietary.


[Update 2010]: Karena fokus dan kesibukan masing-masing pengembang di jalur profesional yang berbeda, proyek OSGX resmi dihentikan (discontinued). Namun, semangat inovasi dan kolaborasi yang kami bangun tetap menjadi fondasi penting dalam perjalanan karier kami selanjutnya.

Kenapa Linux? Keunggulan Strategis Sistem Operasi Open Source

Saat ini, Linux telah menjadi sistem operasi utama dalam alur kerja saya. Setiap kali saya menyalakan laptop, sistem operasi yang berjalan secara default adalah Ubuntu 8.10—dan tentu saja OSGX 1.0 Informatics untuk perangkat di rumah. 

Meskipun belum menjadi pilihan mayoritas, berikut adalah beberapa alasan strategis mengapa saya memilih Linux sebagai platform utama.


1. Efisiensi Biaya dan Integritas HAKI

Linux bersifat free dalam arti bebas biaya dan bebas lisensi. Kita dapat mengunduh, menduplikasi, dan mendistribusikannya tanpa kekhawatiran melanggar Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Dari perspektif ekonomi, hal ini memberikan dua manfaat utama:

  • Penghematan Devisa: Mengurangi ketergantungan pada perangkat lunak berbayar dari luar negeri, sehingga sumber daya finansial dapat berputar di dalam ekonomi domestik.
  • Kepatuhan Hukum: Menghormati HAKI dengan menjauhi praktik pembajakan perangkat lunak. Bagi saya, profesionalisme dimulai dari penggunaan alat kerja yang legal.

2. Fleksibilitas dan Kontrol Inovasi (Open Source)

Salah satu kekuatan utama Linux adalah sifatnya yang terbuka. Jika kita merasa distribusi yang ada belum memenuhi kebutuhan spesifik, kita memiliki legalitas penuh untuk memodifikasi dan membangun solusi sendiri. Kebebasan inilah yang melandasi lahirnya OSGX, distribusi Linux yang saya kembangkan bersama rekan-rekan untuk kebutuhan civitas akademika ITB.

3. Estetika dan User Experience (UX) yang Superior

Ada persepsi keliru bahwa Linux identik dengan layar hitam berisi baris kode yang membingungkan. Faktanya, dengan dukungan Desktop Environment seperti GNOME atau KDE, serta teknologi seperti Compiz Fusion, Linux menawarkan antarmuka yang sangat modern. Secara subjektif, saya menilai estetika dan fleksibilitas tampilan Linux saat ini mampu bersaing dengan sistem operasi komersial seperti Windows bahkan Mac OSX.







4. Keamanan Sistem dan Optimasi Sumber Daya

Masalah virus merupakan hambatan produktivitas yang signifikan, terutama saat menghadapi deadline. Arsitektur Linux memberikan perlindungan yang jauh lebih tangguh terhadap ancaman perangkat lunak berbahaya. Selain itu, dengan tidak diperlukannya antivirus yang berjalan secara konstan di latar belakang, konsumsi CPU dan memori menjadi jauh lebih optimal. Sistem dapat bekerja dengan performa maksimal untuk tugas-tugas yang benar-benar penting.

5. Identitas Profesional dan Domain Expertise

Meskipun bersifat subjektif, menggunakan Linux memberikan kesan tersendiri bagi seorang praktisi teknologi. Jika pengguna MacBook sering diidentikkan dengan sisi stylish, bagi saya, pengguna Linux merepresentasikan identitas sebagai seorang techie atau geek yang memiliki pemahaman mendalam terhadap sistem yang mereka gunakan. Ini adalah bentuk badge of honor bagi seorang insinyur.


Kesimpulan

Jika Anda tertarik untuk mengeksplorasi, Anda bisa memulainya dengan metode dual OS (menginstal dua sistem operasi dalam satu perangkat). Terlepas dari apa pun pilihannya, yang terpenting adalah memastikan bahwa semua perangkat lunak yang kita gunakan bersifat legal. Tulisan ini saya buat agar Linux dapat dipandang sebagai sistem operasi alternatif yang kompetitif dan patut diperhitungkan.

YM Bible

Ladies and gentlemen, let me introduce my simple project, YM Bible :)


YM Bible is Yahoo messenger bot for auto-replying Bible verse request. If you are online and want to read any verse from Bible, but you don't bring your Bible, just send a message to YM Bible, then it will give you the verse. And of course, this service is free to use :).

To use YM Bible,
  1. (Optionally) Add ym_bible as your friend on your Yahoo messenger.
  2. Send a message to ym_bible, for example: "Yohanes 3 : 16", then you'll receive the verse :)


Today it only supports bible in Bahasa Indonesia (Terjemahan Baru). I still gave "Beta" for its released version, so please give me feedback after you use it.

[Update 2009] Sorry.. since I graduated from my college, I have no access to any server for YM Bible hosting. This service is not available for now.

Graduation



And so we talked all night about the rest of our lives
Where we're gonna be when we turn 25
I keep thinking times will never change
Keep on thinking things will always be the same

But when we leave this year we won't be coming back
No more hanging out cause we're on a different track
And if you got something that you need to say
You better say it right now cause you don't have another day

Cause we're moving on and we can't slow down
These memories are playing like a film without sound
And I keep thinking of that night in June
I didn't know much of love, but it came too soon

And there was me and you, and then we got real blue
Stay at home talking on the telephone
We would get so excited and we'd get so scared
Laughing at ourselves thinking life's not fair
And this is how it feels

As we go on, we remember
All the times we had together
And as our lives change, come whatever
We will still be friends forever

So if we get the big jobs, and we make the big money
When we look back now, will our jokes still be funny?
Will we still remember everything we learned in school?
Still be trying to break every single rule

Will little brainy Bobby be the stockbroker man?
Can Heather find a job that won't interfere with her tan?
I keep, I keep thinking that it's not goodbye
Keep on thinking it's a time to fly
And this is how it feels

As we go on, we remember
All the times we had together
And as our lives change, come whatever
We will still be friends forever

La, la, la, la...
Yeah, yeah, yeah
La, la, la, la...
We will still be friends forever

Will we think about tomorrow like we think about now?
Can we survive it out there? Can we make it somehow?
I guess I thought that this would never end
And suddenly it's like we're women and men

Will the past be a shadow that will follow us 'round?
Will these memories fade when I leave this town
I keep, I keep thinking that it's not goodbye
Keep on thinking it's a time to fly

As we go on, we remember
All the times we had together
And as our lives change, come whatever
We will still be friends forever

ITB, 25 Oct 2008

Seminar Open Source: Langkah Awal di Panggung Publik

Pada Sabtu, 20 September 2008, HMIF menyelenggarakan seminar bertajuk "Open Source, a New Way for Education". Acara yang bertempat di Auditorium Campus Center Timur ITB ini dihadiri oleh sekitar 100 peserta. Saya bersama tim pengembang OSGX lainnya (Wisnu, Paul, dan Ahmy) mendapatkan kehormatan untuk menjadi pembicara dalam forum tersebut, bersanding dengan tokoh-tokoh senior seperti Dr. Benhard Sitohang (Kepala POSS ITB) dan Pak Rusmanto (Pemimpin Redaksi InfoLinux).



Seminar ini memiliki catatan sejarah tersendiri dalam perjalanan profesional saya. Ini adalah kali pertama saya didaulat sebagai pembicara dalam sebuah seminar umum. Berbeda dengan sesi pelatihan teknis yang biasa saya bawakan, menyampaikan materi dalam format seminar formal memberikan pengalaman baru dalam hal retorika dan penyampaian visi. 

Sesi tersebut dimoderatori oleh Dr.techn. Saiful Akbar (yang juga merupakan dosen penguji Tugas Akhir saya). Saya membawakan materi berjudul "Open Source Application in Education", yang pada intinya merupakan pemaparan mengenai implementasi OSGX. Meskipun sempat terjadi kendala teknis terkait pasokan listrik yang mengharuskan perpindahan lokasi, agenda tetap berjalan dengan lancar.

Momen spesial lainnya dalam acara ini adalah OSGX Release Party. Kami membagikan Live CD/DVD OSGX 1.0 versi Basic Edition dan Informatics Edition. Bagi rekan-rekan yang belum familiar, OSGX adalah distribusi Linux yang kami kembangkan khusus untuk kebutuhan civitas akademika, terutama di lingkungan ITB. Di dalamnya, kami telah memaketkan berbagai aplikasi esensial untuk menunjang kegiatan perkuliahan dan produktivitas harian. Kami mengundang siapa pun yang tertarik untuk bergabung dan berkolaborasi dalam OSGX Community.

Sebagai penutup, saya ingin menekankan pentingnya penggunaan perangkat lunak yang legal. Terlepas dari apakah kita menggunakan produk berbasis Proprietary (seperti Microsoft) atau Open Source, integritas dalam menghargai hak kekayaan intelektual adalah hal yang utama. Pilihan saya pribadi tetap konsisten pada ekosistem Open Source karena nilai transparansi dan semangat kolaborasinya.

Install MS Office 2007 di Ubuntu

Fiuh.. sempat-sempatnya ngeblog di saat deadline sidang TA semakin mendekat.. T_T

Ceritanya, Tugas Akhir saya tuh diimplementasikan di atas sistem operasi Ubuntu. Sayangnya, file laporan Tugas Akhir saya berekstensi docx karena dibuat di Word 2007. Nah, karena penasaran, saya coba saja install Office 2007 di Ubuntu 8.04 saya. :)


Caranya:

1. Install wine
$ sudo apt-get install wine
2. Ubah konfigurasi wine
$ winecfg
Lalu pada tab Applications, ubah Windows version ke Vista.

3. Download winetricks, lalu..
$ sh winetricks msxml3 dotnet20 gdiplus riched20 riched30 vcrun2005sp1
4. Hack rpcrt4.dll
  • Rename ~/.wine/drive_c/windows/system32/rpcrt4.dll menjadi rpcrt4.bak
  • Download rpcrt4.dll, letakkan di folder system32 tersebut.
  • Buka winecfg. Pada tab Libraries, masukkan rpcrt4.dll pada field New override for library. OK
5. Install MS Office 2007
$ wine /path/to/office2007installer/setup.exe
6. Kembalikan rpcrt4.dll
  • Hapus rpcrt4.dll di folder system32
  • Rename rpcrt4.bak ke rpcrt4.dll
  • Buka winecfg. Pada tab Libraries, hapus rpcrt4 yang tadi di-override. Pada tab Applications, kembalikan Windows version ke XP.
7. Buka menu Applications -> Wine -> Programs -> Microsoft Office

Selamat menikmati Office 2007 di Ubuntu...  :)
Saatnya ngoding TA lagi.. >_<

ps: jangan terlalu banyak berharap loh ya :P

[updated:10/09/08]
uninstall wine, install virtualbox.. >:) huahaha..

Pengalaman sebagai Trainer SSDK

"A PERSON IS ONLY AS BIG AS THE DREAM THEY DARE TO LIVE"

Kutipan di atas merupakan salah satu pesan inti yang saya sampaikan dalam pelatihan SSDK. Baru-baru ini, saya berkesempatan menjadi trainer motivasi untuk program “Strategi Sukses di Kampus” (SSDK). Sejak tahun 2004, ITB secara konsisten membekali mahasiswa baru dengan pelatihan motivasi agar mereka memiliki determinasi dalam mencapai cita-citanya. 

Meski saya telah beberapa kali menjadi instruktur di bidang IT—seperti pada rangkaian acara GCoE dan pelatihan Web Programming di Universitas Maranatha—peran sebagai motivator adalah tantangan baru yang sangat menarik bagi saya.



Untuk mempersiapkan diri, setiap calon trainer wajib mengikuti Training for Trainers (TFT) sebanyak tiga kali di bawah bimbingan motivator profesional, Arfiana Rafnialdi (Kang Arfi). Saya memperoleh banyak wawasan baru mengenai pengelolaan audiens dan bagaimana memastikan ide materi tersampaikan dengan efektif. Saya berharap keterampilan komunikasi ini dapat saya terapkan dalam berbagai forum publik di masa depan, termasuk dalam seminar-seminar teknologi.

Pelatihan SSDK ini berlangsung selama empat jam (13.00–17.00). Awalnya, saya sempat ragu apakah mampu mengelola waktu selama itu tanpa membuat peserta bosan. Namun, pada praktiknya, saya justru sedikit kelebihan waktu karena antusiasme dalam berbagi pengalaman hidup selama di kampus. Ternyata, berbagi perspektif yang relevan dan motivatif membuat durasi empat jam terasa berjalan sangat cepat. 

Berikut adalah lima poin utama yang saya sampaikan dalam pelatihan tersebut:


1. Makna Sukses

Prinsip utamanya adalah “SUCCESS IS A MINDSET”. Definisi sukses bersifat subjektif, bergantung pada parameter yang ditetapkan oleh masing-masing individu. Oleh karena itu, pencapaian seseorang sejatinya hanya ditentukan oleh dirinya sendiri dan Tuhan, bukan oleh opini orang lain. Saya juga menekankan bahwa sukses adalah ketika kita hidup selaras dengan rancangan spesifik sang Pencipta, atau yang sering disebut sebagai purpose-driven life.


2. Dunia Kampus

Dalam segmen ini, saya berbagi tentang dinamika kehidupan kampus yang tidak terbatas pada aspek akademis semata. Saya menekankan pentingnya berorganisasi untuk membangun jejaring, serta bagaimana mahasiswa bisa mulai melatih kemandirian finansial. Intinya, masa kuliah adalah waktu yang tepat untuk bereksplorasi secara holistik.


3. Membangun Cita-Cita

Tujuannya adalah agar peserta memiliki visi jangka panjang yang jelas, sesuai dengan pepatah: “Without a vision, the people perish.” Saya membagikan empat target pribadi saya beserta alasannya, termasuk impian saya untuk berkontribusi bagi negara sebagai Staf Ahli IT di KPK. Peserta kemudian diajak untuk memproyeksikan target 10 hingga 25 tahun ke depan, serta merenungkan legacy apa yang ingin mereka tinggalkan. Melihat keberanian mereka menyampaikan cita-cita di depan kelas adalah momen yang sangat inspiratif.


4. Nilai dan Cita-Cita

Pesan kuncinya adalah: “Kecerdasan intelektual saja tidak cukup; gunakan juga hati nurani.” Integritas merupakan fondasi utama dalam menggapai ambisi. Bagian ini saya bawakan dengan nada yang lebih serius karena saya percaya bahwa prinsip moral adalah "doktrin" terpenting yang harus dimiliki oleh setiap calon pemimpin bangsa.


5. Manajemen Waktu

Saya menutup sesi dengan berbagi refleksi pribadi tentang masa Tahap Persiapan Bersama (TPB) yang sempat kurang terarah karena terlalu banyak bermain game. Belajar dari kesalahan tersebut, saya membagikan bagaimana akhirnya saya bisa mendisiplinkan diri untuk mengatur waktu di tengah kesibukan organisasi dan akademik.


Semoga apa yang telah disampaikan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi para peserta. Saya teringat prinsip penting dari masa TFT: “Yang terpenting bukanlah apa yang disampaikan oleh trainer, melainkan apa yang berhasil diserap dan dibawa pulang oleh peserta.” Sangat menyenangkan bisa berinteraksi dengan calon-calon pemimpin masa depan.


HAPPINESS IS HAVING DREAMS, SUCCESS IS MAKING THOSE DREAMS COME TRUE.

Tips Internet GPRS

Internet sepertinya sudah menjadi kebutuhan primer sebagian masyarakat dunia termasuk saya. Saat sedang melakukan kesibukan di depan komputer, rasanya ada yang kurang kalau tidak bisa berkomunikasi dengan teman-teman melalui messenger. Apalagi di saat sedang coding mengerjakan suatu proyek sambil mengeksplorasi teknologinya, Google bisa menjadi rekan kerja yang sangat membantu. Karena itu, dengan bermodal Siemens C60 antik saya ^^' plus kabel datanya, saya coba menghubungkannya ke PC dan mengutak-atiknya, lalu tada.. connected! :) Saya pun resmi mempunyai koneksi internet di rumah meskipun berupa GPRS saja, yang penting kan kebutuhan terpenuhi. :D

Tips 1 : Volume-based atau Time-based

Seperti koneksi Internet lainnya, layanan GPRS yang disediakan provider GSM bisa dibagi menjadi 2 macam: volume-based dan time-based. Dengan layanan volume-based, kita akan dikenai biaya sesuai seberapa besar kita melakukan transfer data via Internet. Sedangkan dengan layanan time-based, kita akan dikenai biaya sesuai seberapa lama kita terhubung dengan internet. Jika operator GSM kamu mendukung keduanya, seperti IM3, silakan berganti-ganti jenis koneksi sesuai kebutuhan. :)

Pilih volume-based jika ingin: chatting atau browsing informasi tekstual. Pilih time-based jika ingin: download atau browsing informasi multimedia.

Tips 2 : Firewall

Firewall default bawaan sistem operasi saja (dalam hal ini, Windows) tidak cukup karena tidak mudah bagi kita untuk mengetahui daftar koneksi yang sedang bekerja pada komputer kita. Firewall ini kita perlukan untuk menyaring aplikasi mana saja (dan port mana saja) yang diperbolehkan atau dilarang untuk mengakses Internet. Selain untuk menghemat biaya, penggunaan firewall ini juga membantu kita mengamankan komputer kita dari bahaya spyware atau malicious program lainnya. Rekomendasi: Comodo Firewall

Tips 3 : Matikan auto-update

Kamu tentunya tidak ingin kan kalau pulsamu tiba-tiba habis karena Windows melakukan auto-update dengan mendownload berjuta-juta byte padahal kamu tidak menginginkannya. Setuju? :) 

Dari Control Panel buka Automatic Updates, lalu pilih saja "Notify me but don't automatically download or install them." Dengan demikian, koneksi yang dilakukan Windows (svchost -- ini harus allowed oleh firewall) hanya akan mengecek apakah sistem kita perlu diupdate atau tidak. Kalau ternyata memang penting untuk diupdate, catat saja linknya lalu pergi ke kampus atau warnet untuk mendownloadnya. ;D

Matikan fitur auto-update pada browser. Pada Firefox, kamu bisa menemukannya di Tools -> Options -> Advanced -> Update.

Tips 4 : Amati traffic jaringan

Dengan mengetahui traffic koneksi Internet, kita bisa tahu berapakah kecepatan akses Internet kita secara real time. Jika tiba-tiba ada lonjakan grafik traffic jaringan padahal aplikasi yang kamu buka harusnya tidak melibatkan data sebesar itu, segera cek daftar koneksi di firewall kamu, siapa tahu ternyata ada program lain yang tidak diinginkan sedang bekerja di belakang layar >.< Rekomendasi: GPRS Counter

Tips 5 : Messenger hemat bandwidth

Salah satu messenger paling populer saat ini adalah Yahoo! Messenger (YM). Sayangnya, YM kurang bersahabat bagi pengguna volume-based, karena mengandung iklan dan plugin gak penting, serta "polling rate"-nya cukup tinggi. Untungnya, ada messenger lain yang kompatibel dengan protokol YM dan tentunya lebih hemat. Rekomendasi: Pidgin, atau jika ingin lebih ekstrem hematnya gunakan Miranda. (tapi Pidgin tetap the best lah :)

Tips 6 : Optimalkan browser

Gunakan browser yang cepat dalam mendownload halaman Web. Rekomendasi: Firefox + plugin Fasterfox. Jika kamu hanya ingin mencari informasi yang sifatnya tekstual, disable saja fitur menampilkan images dari browser, sehingga browser tidak akan mendownload dan menampilkan images tersebut. Dengan demikian, data yang diterima akan jauuuh lebih hemat. Gunakan fitur "Work Offline" jika kamu akan membaca suatu halaman Web dalam waktu yang cukup lama, akibatnya fitur auto-refresh dari halaman Web tersebut (jika ada) tidak akan bekerja.

Tips 7 : Tarif termurah

Tips yang paling sederhana, cari mana operator GSM yang menyediakan layanan GPRS dengan tarif termurah. Saya rasa tidak susah untuk menentukan mana yang menawarkan tarif paling bersahabat. Namun, jika harus dibandingkan dengan kualitas layanannya terhadap kebutuhan kita, kita harus lebih jeli dalam menentukan pilihan. Rekomendasi: AXIS (Rp 0,1 /KB untuk 10MB per harinya, dan Rp 1 /KB untuk lebihnya)

Ok, demikian beberapa tips berinternet dengan GPRS dari saya. Punya ide lain yang lebih menarik, silakan tambahkan tips-tips baru :). Daripada pulsa Internet terbuang sia-sia untuk hal yang tidak diinginkan, mendingan kan dipakai untuk eksplorasi teknologi baru.

Cheers!

Install NS2 on Ubuntu 8.04 Hardy

This semester I got an assignment from Wireless/Mobile Computing lecture. It's all about NS2, the most popular network simulator. Today I tried to install it on my Ubuntu 8.04. And, here is the story :)

1. Download ns-allinone-2.33.tar from here.

2. Place it in somewhere, e.g. /home/programmer, then extract it.
$ cd /home/programmer
$ tar -xvf ns-allinone-2.33.tar

3. Download & install some packages from repository :)
$ sudo apt-get install build-essential autoconf automake libxmu-dev

4. Install the ns2
$ cd ns-allinone-2.33
$ ./install

5. Edit some paths ==a
$ gedit ~/.bashrc

Put these lines on that file. Off course, you might change /home/programmer for it depends on where you extract ns-allinone-2.33.tar.
# LD_LIBRARY_PATH
OTCL_LIB=/home/programmer/ns-allinone-2.33/otcl-1.13
NS2_LIB=/home/programmer/ns-allinone-2.33/lib
X11_LIB=/usr/X11R6/lib
USR_LOCAL_LIB=/usr/local/lib
export LD_LIBRARY_PATH=$LD_LIBRARY_PATH:$OTCL_LIB:$NS2_LIB:$X11_LIB:$USR_LOCAL_LIB

# TCL_LIBRARY
TCL_LIB=/home/programmer/ns-allinone-2.33/tcl8.4.18/library
USR_LIB=/usr/lib
export TCL_LIBRARY=$TCL_LIB:$USR_LIB

# PATH
XGRAPH=/home/programmer/ns-allinone-2.33/bin:/home/programmer/ns-allinone-2.33/tcl8.4.18/unix:/home/programmer/ns-allinone-2.33/tk8.4.18/unix
NS=/home/programmer/ns-allinone-2.33/ns-2.33/
NAM=/home/programmer/ns-allinone-2.33/nam-1.13/
export PATH=$PATH:$XGRAPH:$NS:$NAM

6. Validate it
$ cd ns-2.33
$ ./validate

7. (Optionally) Create a symlink, so that ns can be called from everywhere
$ sudo ln -s /home/programmer/ns-allinone-2.33/ns-2.33/ns /usr/bin/ns

8. Try to run it (and pray :)
$ ns

Cheers!

Amazing Race Informatika 2008

Setelah kesuksesan Amazing Race Informatika yang pertama pada tahun lalu, divisi Kekeluargaan HMIF kembali mengadakan sekuel untuk salah satu acara himpunan yang paling dinanti. Tema tahun ini adalah "Wisata Kuliner", sebuah konsep di mana peserta berkeliling Bandung mengunjungi titik-titik kuliner ikonik sambil memecahkan teka-teki logika. 

Pendaftaran mencapai kuota maksimal—12 kelompok dengan total 72 orang—hanya dalam tiga hari. Kebetulan, saat pendaftaran dibuka, saya dan rekan-rekan sesama Asisten Lab Programming sedang mengadakan sesi knowledge sharing. Kami segera mendaftarkan dua tim, yaitu KO dan DING, dengan ambisi menjadi tim terkompak dan tercepat di Amazing Race 2008.


Pos 0: Gerbang Ganesha

Petualangan dimulai dari Gerbang Ganesha ITB dengan antusiasme tinggi dari seluruh peserta. Identitas kelompok terlihat sangat beragam melalui dresscode unik mereka. Tim KO dan DING tampil dengan persiapan matang hasil analisis fungsi alat yang matang. Tim KO (Nico, Nio, Fitri, Sila, Bayu, Paul) mengenakan topi untuk perlindungan cuaca, dasi untuk identitas visual, dan tas pinggang untuk efisiensi membawa alat tulis. 



Sementara itu, tim DING (Hengky, Andrew, Shieny, Jimmy, Rangga, dan saya) membawa kacamata renang dan payung besar sebagai antisipasi terhadap kondisi cuaca ekstrem. 



Tantangan pertama dimulai dengan teka-teki berbasis layout keyboard QWERTY yang berhasil kami pecahkan dalam waktu kurang dari tiga menit, memungkinkan kami segera meluncur ke lokasi berikutnya menggunakan angkot.


<5>[7]<5>[7][4]
"1""8"[8][9]<6>"5"
"5"[9][4][10]"1""3""7""1""7""1"[4]"1"<6>

Hint: QWERTY


Pos 1: Bubur Akiong GOR Padjajaran

Setelah turun di perempatan Padjajaran-Cicendo, kami melakukan sprint menuju GOR Padjajaran. Di sana, tantangan pertama adalah menghabiskan semangkuk bubur panas menggunakan sedotan. Kami menerapkan optimasi proses dengan memotong sedotan menjadi dua agar aliran bubur lebih efisien—sebuah trik yang kami adaptasi dari tim kompetitor, Merah Tambun. Di dasar mangkuk, kami menemukan tantangan teknis berupa deretan kode ASCII dalam format bilangan heksadesimal. Berkat pemahaman dasar informatika yang kuat, kami berhasil mengonversi kode tersebut jauh lebih cepat daripada tim lain.



Pos 2: Es Krim Rasa Tamblong

Pos berikutnya terletak di samping kedai Es Krim Rasa, Jalan Tamblong. Di sini, ketahanan mental kami diuji melalui tantangan meminum jus dengan komposisi yang tidak lazim, ditentukan melalui putaran roda keberuntungan. Tim KO mendapatkan kombinasi jus jengkol dan petai yang cukup menantang, sementara tim DING mendapatkan jus sayuran organik dengan rasa yang menyerupai rumput. Setelah menyelesaikan tantangan fisik tersebut, kami diberikan teka-teki berupa resep makanan lotek yang mengarah pada sebuah lokasi di "Jalan Panthera tigris"—nama latin untuk macan.




Pos 3: Lotek Jalan Macan

Perjalanan dilanjutkan menuju Jalan Macan menggunakan dua kali sambungan angkot. Di lokasi ini, panitia sempat mengalami kendala koordinasi karena tidak menyangka tim KO dan DING akan tiba secepat itu, sehingga kami mengalami delay sekitar 15 menit. Tantangan utama di pos ini adalah aspek manajemen operasional, yaitu memasak nasi goreng untuk dinilai oleh panitia. Setelah sesi penilaian selesai, kami dihadapkan pada tantangan kriptografi berupa Vigenère Cipher. Sebagai mahasiswa informatika, penerapan kunci simetris ini merupakan tantangan yang sangat sistematis dan dapat kami selesaikan dengan efisien.




Plaintext: ___________________
Kunci: youllneverwalkalone
Ciphertext: lomtevqwicesesqzanl

(gambar bujur sangkar Vigenère)


Pos 4: Nasi Timbel Istiqomah

Pemberhentian berikutnya adalah lokasi nasi timbel yang melegenda di dekat Masjid Istiqomah. Di sini, kami berbagi peran: anggota perempuan fokus pada tantangan pembuatan sambal mangga dan terasi, sementara anggota laki-laki berusaha memecahkan teka-teki logika verbal yang diberikan panitia. Meskipun teka-tekinya terasa cukup sederhana, koordinasi tim tetap terjaga dengan baik. Di pos ini tidak ada teka-teki tertulis untuk lokasi berikutnya; petunjuk diberikan secara lisan oleh panitia pendamping setelah semua tantangan selesai.




Pos 5: Bakso Bakar Setiabudi

Menemukan lokasi tepat bakso bakar di Jalan Setiabudi merupakan tantangan tersendiri karena papan tandanya sempat terhalang oleh kendaraan umum. Setelah melakukan backtrack, kami akhirnya menemukan bendera pos. Tantangan di sini bersifat performatif, di mana satu perwakilan tim harus menirukan gaya Pak Bondan dari acara "Wisata Kuliner". Setelah itu, kami diberikan tantangan akademis berupa penyelesaian masalah Teori Graf menggunakan Algoritma Prim atau Kruskal. Ini merupakan materi mata kuliah Matematika Diskrit yang memaksa kami untuk memanggil kembali memori akademis dari dua tahun sebelumnya.




Pos 6: BMC (Bandoengsche Melk Centrale)

Petualangan berlanjut ke BMC di Jalan Aceh, yang berfungsi sebagai pos Ishoma (Istirahat, Sholat, Makan). Panitia menetapkan durasi istirahat minimal 20 menit untuk menjaga kondisi fisik peserta. Karena efisiensi perjalanan kami sebelumnya, kami tiba lebih awal dari jadwal dan memiliki waktu luang untuk mendokumentasikan kebersamaan tim. Setelah waktu istirahat berakhir, kami diberikan petunjuk berupa foto etalase toko dan papan reklame yang harus diidentifikasi lokasinya secara visual.



Pos 7: Es Cendol Elizabeth Cihampelas

Pos ketujuh terletak di gerobak es cendol pinggir jalan di daerah Cihampelas. Tantangan di sini sangat menarik karena menyentuh aspek kewirausahaan: kami wajib menjual 10 bungkus es cendol dalam waktu 15 menit. Melalui teknik persuasi dan strategi pemberian diskon, tim KO dan DING berhasil menjual total 20 bungkus. Setelah tantangan penjualan sukses, kami diberikan teka-teki berbasis Pohon Huffman. Terdapat dua jalur solusi, dan kami memilih jalur yang mengarah pada lokasi yang sudah kami kenal baik.




Pos 8: Bubur Mang Oyo Sulanjana

Kami memilih lokasi Bubur Mang Oyo di Jalan Sulanjana. Karena keterbatasan transportasi umum yang searah, kami memutuskan untuk berlari dari Cihampelas menuju Sulanjana untuk mengejar waktu. Kami menelusuri lembah di bawah jembatan Pasupati dan sempat menghadapi hambatan fisik berupa sungai, namun berhasil menemukan jembatan penyeberangan berkat informasi dari warga sekitar. Di pos ini, kami menyelesaikan tantangan riset kecil dengan mewawancarai pengunjung mengenai opini mereka terhadap hidangan tersebut serta melakukan sesi dokumentasi bersama pemilik kedai.




Pos 9: Dago Tea House

Lokasi terakhir adalah Dago Tea House, di mana tim KO dan DING berhasil menjadi tim tercepat yang tiba di tujuan. Namun, dalam sistem kompetisi ini, kecepatan perjalanan ternyata tidak berkorelasi langsung dengan hasil akhir karena adanya mekanisme taruhan poin (trivia para petaruh) di tahap final. Meskipun kami secara konsisten memimpin dari awal hingga akhir, faktor keberuntungan pada sesi taruhan ini membuat kami menempati peringkat kedua dan ketiga. Sebagai catatan kritis, saya merasa desain sistem penilaian di pos terakhir ini bisa ditingkatkan agar lebih menghargai efisiensi dan keterampilan logika yang telah diuji di setiap pos sebelumnya.



Penutup

Acara ditutup pada pukul 17.00 WIB dan semua peserta kembali dengan pengalaman yang menyenangkan. Ini kemungkinan besar adalah Amazing Race terakhir yang bisa saya ikuti sebelum lulus dari ITB tahun ini. Saya berharap HMIF dapat terus mempertahankan kreativitasnya dan terus mempererat rasa kekeluargaan di dalamnya. God b135s coder!