Libur Akhir Tahun: Solo & Jogja

"Vacation is what you take when you can't take what you've been taking any longer."

Setelah beberapa bulan bekerja ekstra, akhirnya liburan akhir tahun yang ditunggu-tunggu tiba. Beruntung, saya mendapat libur dari kantor selama 4 hari kerja, sehingga totalnya saya bisa beristirahat selama 10 hari, 25/12 - 3/1. Pada kesempatan itu saya sempatkan diri untuk berlibur selama 3 hari di Solo dan Jogja, tempat kelahiran dan kota di mana saya menghabiskan masa kecil.

Stasiun Bandung

Berangkat seorang diri dari stasiun Bandung (Senin 28/12) jam 8 malam, saya menghabiskan malam itu di dalam kereta api Lodaya. Di masa liburan akhir tahun seperti itu, harga tiket ternyata sangat tergantung hari keberangkatan, tidak peduli itu untuk kelas dan jurusan yang sama. Sembilan jam kemudian tibalah saya di stasiun Solo Balapan.. jadi inget lagunya Didi Kempotning setasiun balapan, kuto solo sing dadi kenangan, kowe karo akuuu.. halah.. XD

(Selasa 29/12) Setelah makan nasi liwet khas Solo, kami, saya dan dua saudara yang menjemput saya, langsung beranjak ke rumah Oma, bersilaturahmi dengannya selama beberapa jam, kemudian dilanjutkan dengan nyekar ke makam Eyang. Setelah itu, saatnya berkuliner makan siang dengan Tahu Kupat, makanan khas Solo lainnya.

Tahu Kupat

Monopoly Money

The Psychology of Spending: Insights from 'Monopoly Money'


Recently, I came across an intriguing journal article published by the American Psychological Association titled "Monopoly Money: The Effect of Payment Coupling and Form on Spending Behavior," authored by Priya Raghubir and Joydeep Srivastava, both esteemed professors in the field of marketing.



Through their research, Raghubir and Srivastava shed light on the concept of the "pain of paying" – the discomfort individuals feel when parting with a significant sum of money. They conducted comparative studies to examine how different forms of payment affect shopping behavior, including cash payments versus credit card transactions and cash payments versus shopping vouchers.


Their findings revealed that people tend to spend more when using credit cards or shopping vouchers compared to cash, even for habitual purchases. The shift in payment method seemingly trivializes money, akin to playing with Monopoly money, making it easier to overspend.


This research offers valuable insights from both producer and consumer perspectives. For sellers, strategies to enhance sales include promoting credit/debit card logos, offering shopping vouchers instead of direct discounts, partnering with banks to provide exclusive credit card promotions for specific items, and facilitating electronic payments. Ultimately, making payment methods less transparent, such as avoiding cash transactions, can reduce the "pain of paying" and boost sales.


As consumers, it's essential to exercise caution when encountering market promotions. Maintaining control over credit card or debit card usage is crucial, ensuring awareness of current balances before making purchases. Additionally, it's vital to recognize and eliminate any inclination to treat alternative payment methods as Monopoly money.


Reflecting on this research, I can't help but feel nostalgic for a game of Monopoly. Perhaps it's time to dust off the board and enjoy a round of strategic fun once again.

Perpanjangan SIM

Pengalaman mengurus perpanjangan Surat Izin Mengemudi (SIM) secara mandiri merupakan studi kasus yang menarik dalam memahami efisiensi birokrasi di tingkat daerah. Menjelang masa berlaku SIM saya berakhir, saya memutuskan untuk menjalani prosedur resmi di Samsat Cimahi tanpa melibatkan jasa perantara (calo).


Efisiensi Birokrasi: Prosedur Perpanjangan SIM Mandiri

Banyak persepsi publik yang menganggap pengurusan dokumen kepolisian rumit dan memakan waktu. Namun, pengalaman saya membuktikan bahwa proses ini cukup lugas jika kita mengikuti prosedur yang ditetapkan. Secara total, saya menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam dengan biaya akumulatif sebesar Rp80.000.


Berikut adalah rincian tahapan operasional dan analisis biaya yang saya lalui:


1. Persiapan Dokumen dan Waktu

  • Siapkan dua salinan (fotokopi) KTP dan SIM lama, serta bawa identitas asli. Pastikan membawa alat tulis pribadi untuk mempercepat pengisian formulir.
  • Datanglah saat jam operasional dimulai (pukul 08.00 WIB). Khusus hari Sabtu, pastikan hadir sebelum pukul 10.00 WIB karena loket biasanya hanya melayani setengah hari kerja.

2. Alur Prosedur Operasional (Step-by-Step)

Proses di Samsat Cimahi melibatkan perpindahan antar-gedung, yang memerlukan proaktifitas dalam mencari informasi karena minimnya papan petunjuk visual.

  1. Identifikasi Sidik Jari (Biaya: Rp5.000): Tahap awal dimulai dengan pengambilan formulir dan perekaman sidik jari secara manual di loket pelayanan sidik jari.
  2. Pemeriksaan Kesehatan (Biaya: Rp15.000): Prosedur ini mencakup pemeriksaan tekanan darah, tinggi badan, dan tes buta warna. Meskipun bersifat standar, ini adalah syarat wajib untuk memastikan kelaikan fisik pengemudi.
  3. Registrasi dan Administrasi: Menyerahkan berkas dari tahap sebelumnya ke loket pendaftaran perpanjangan SIM untuk diverifikasi dan dimasukkan ke dalam map resmi.
  4. Pembayaran (Biaya: Rp60.000): Pembayaran dilakukan melalui loket perbankan (Bank BRI) yang terintegrasi di dalam area Samsat. Sebagai perbandingan, biaya pembuatan SIM baru saat itu adalah Rp75.000.
  5. Entri Data dan Biometrik Final: Setelah data diinput ke dalam sistem basis data pusat kepolisian, pemohon akan diarahkan ke ruang foto untuk pengambilan citra digital dan sidik jari elektronik. Di tahap ini, saya mencatat adanya redundansi prosedur, di mana sidik jari diambil kembali meskipun sudah dilakukan secara manual di tahap awal.
  6. Penerbitan Kartu: Kartu SIM baru dicetak dan diserahkan dalam waktu singkat setelah proses biometrik selesai.


Evaluasi dan Rekomendasi

Dari kacamata optimasi proses, pelayanan perpanjangan SIM sudah menunjukkan kinerja yang cukup baik dalam hal kecepatan transaksi. Namun, terdapat beberapa area yang memerlukan perbaikan untuk mencapai standar service excellence:

  1. Eliminasi Redundansi: Perekaman sidik jari manual di awal sebaiknya diintegrasikan langsung dengan sistem digital untuk mengurangi pengulangan langkah yang tidak efisien (lean process).
  2. Transparansi Informasi: Pengadaan papan informasi prosedur yang jelas di area publik sangat krusial agar pemohon tidak perlu terus bertanya kepada petugas (self-service guidance).
  3. Digitalisasi Infrastruktur: Penggunaan alat scanning sidik jari yang lebih modern di semua lini akan meningkatkan akurasi dan kecepatan layanan.


Sebagai penutup, pengalaman ini memperkuat keyakinan saya bahwa sistem publik akan membaik jika warga secara sadar memilih jalur resmi. Seperti kutipan yang saya temukan di salah satu sudut kantor Samsat: "Kejahatan akan tumbuh jika orang-orang baik tidak bertindak." Integritas dalam hal-hal kecil adalah fondasi bagi perubahan sistemik yang lebih besar.