Pada Sabtu, 6 Desember 2008, tim kami—saya, Wisnu, dan Paul (mewakili HMIF ITB)—mendapat kesempatan untuk mempresentasikan hasil penelitian kami dalam babak final Lomba Karya Ilmiah antar-himpunan mahasiswa ITB yang disponsori oleh Tanoto Foundation. Kompetisi ini merupakan perjalanan panjang yang dimulai sejak April hingga September tahun tersebut.
Dari 17 proposal yang diajukan oleh berbagai himpunan mahasiswa, hanya 7 yang berhasil lolos seleksi ketat untuk mendapatkan pendanaan penelitian. Para finalis berasal dari disiplin ilmu yang beragam, mulai dari Informatika dan Elektro hingga Arsitektur dan Teknik Kimia.
Karya ilmiah yang kami ajukan berjudul "Pembangunan Distro Linux untuk Pendidikan di Indonesia (Studi Kasus: ITB)", yang merupakan landasan teoritis dan praktis di balik pengembangan OSGX. Motivasi utama kami mengikuti kompetisi ini adalah untuk mengamankan pendanaan strategis.
Kami menyadari bahwa distribusi Linux yang sukses di tingkat global selalu memiliki model pendanaan yang kuat; misalnya Ubuntu oleh Canonical, Fedora oleh Red Hat, atau BlankOn oleh YPLI. Melalui dana hibah dari LPKM ini, kami dapat mengeksekusi rencana produksi, publikasi, dan sosialisasi OSGX secara lebih profesional.
Presentasi Final
Dalam sesi presentasi final, saya memfokuskan narasi pada tiga masalah fundamental yang coba kami pecahkan: tingginya angka pembajakan perangkat lunak, hambatan akses aplikasi pada sistem operasi Linux, serta keterbatasan infrastruktur internet untuk mengunduh dari repository pusat.
Solusi kami adalah menyediakan distro yang siap pakai (ready-to-use) dengan aplikasi yang sudah terkurasi untuk kurikulum ITB. Kami sengaja memilih strategi target pasar yang spesifik (niche strategy) daripada mencoba bersaing di level nasional dengan distro seperti Nusantara atau BlankOn. Kami percaya bahwa semakin fokus target penggunanya, semakin tepat guna solusi yang dihasilkan.
Meskipun telah dipersiapkan dengan matang, sesi presentasi tidak berjalan tanpa kendala teknis. Perangkat lunak OpenOffice Impress gagal ditampilkan saat laptop terhubung ke proyektor. Namun, sebagai langkah mitigasi (contingency plan), saya telah menyiapkan dokumen dalam format PDF. Presentasi akhirnya dijalankan menggunakan Evince (Document Viewer) dengan lancar.
Sesi tanya jawab menjadi bagian yang paling menantang karena dewan juri terdiri dari para ahli kompetisi ilmiah tingkat nasional, termasuk Ketua Dewan Juri Pimnas. Saya memandang kritik tajam mereka sebagai bentuk penggemblengan mental untuk meningkatkan kualitas karya ilmiah kami.
Hasil Akhir
Setelah seluruh finalis memaparkan penelitian mereka, dewan juri segera menentukan pemenang. Berdasarkan observasi saya terhadap latar belakang dewan juri yang sangat berorientasi pada dampak nasional yang luas, saya memprediksi tim kami akan bersaing ketat namun mungkin tidak menempati posisi pertama. Saya sangat mengapresiasi inovasi tim HME dengan teknologi lampu hemat energi berbasis LED yang memiliki potensi implementasi industri yang besar.
Hasil akhir mengumumkan urutan juara sebagai berikut:
- Himatika (Optimasi penempatan wireless access point)
- HMIF (Pengembangan Distro Linux OSGX)
- HME (Lampu hemat energi berbasis LED)
Kami sangat bersyukur dapat meraih posisi kedua dalam kompetisi bergengsi ini. Meskipun saya memiliki catatan kritis terhadap penelitian juara pertama terkait aspek realitas implementasi—khususnya mengenai faktor perambatan sinyal non-line-of-sight—saya tetap menghormati keputusan juri.
Pencapaian ini menjadi validasi penting bagi kerja keras tim OSGX dan kontribusi kami bagi komunitas akademik ITB. Teruslah berkarya!