"A PERSON IS ONLY AS BIG AS THE DREAM THEY DARE TO LIVE"
Kutipan di atas merupakan salah satu pesan inti yang saya sampaikan dalam pelatihan SSDK. Baru-baru ini, saya berkesempatan menjadi trainer motivasi untuk program “Strategi Sukses di Kampus” (SSDK). Sejak tahun 2004, ITB secara konsisten membekali mahasiswa baru dengan pelatihan motivasi agar mereka memiliki determinasi dalam mencapai cita-citanya.
Meski saya telah beberapa kali menjadi instruktur di bidang IT—seperti pada rangkaian acara GCoE dan pelatihan Web Programming di Universitas Maranatha—peran sebagai motivator adalah tantangan baru yang sangat menarik bagi saya.
Untuk mempersiapkan diri, setiap calon trainer wajib mengikuti Training for Trainers (TFT) sebanyak tiga kali di bawah bimbingan motivator profesional, Arfiana Rafnialdi (Kang Arfi). Saya memperoleh banyak wawasan baru mengenai pengelolaan audiens dan bagaimana memastikan ide materi tersampaikan dengan efektif. Saya berharap keterampilan komunikasi ini dapat saya terapkan dalam berbagai forum publik di masa depan, termasuk dalam seminar-seminar teknologi.
Pelatihan SSDK ini berlangsung selama empat jam (13.00–17.00). Awalnya, saya sempat ragu apakah mampu mengelola waktu selama itu tanpa membuat peserta bosan. Namun, pada praktiknya, saya justru sedikit kelebihan waktu karena antusiasme dalam berbagi pengalaman hidup selama di kampus. Ternyata, berbagi perspektif yang relevan dan motivatif membuat durasi empat jam terasa berjalan sangat cepat.
Berikut adalah lima poin utama yang saya sampaikan dalam pelatihan tersebut:
1. Makna Sukses
Prinsip utamanya adalah “SUCCESS IS A MINDSET”. Definisi sukses bersifat subjektif, bergantung pada parameter yang ditetapkan oleh masing-masing individu. Oleh karena itu, pencapaian seseorang sejatinya hanya ditentukan oleh dirinya sendiri dan Tuhan, bukan oleh opini orang lain. Saya juga menekankan bahwa sukses adalah ketika kita hidup selaras dengan rancangan spesifik sang Pencipta, atau yang sering disebut sebagai purpose-driven life.
2. Dunia Kampus
Dalam segmen ini, saya berbagi tentang dinamika kehidupan kampus yang tidak terbatas pada aspek akademis semata. Saya menekankan pentingnya berorganisasi untuk membangun jejaring, serta bagaimana mahasiswa bisa mulai melatih kemandirian finansial. Intinya, masa kuliah adalah waktu yang tepat untuk bereksplorasi secara holistik.
3. Membangun Cita-Cita
Tujuannya adalah agar peserta memiliki visi jangka panjang yang jelas, sesuai dengan pepatah: “Without a vision, the people perish.” Saya membagikan empat target pribadi saya beserta alasannya, termasuk impian saya untuk berkontribusi bagi negara sebagai Staf Ahli IT di KPK. Peserta kemudian diajak untuk memproyeksikan target 10 hingga 25 tahun ke depan, serta merenungkan legacy apa yang ingin mereka tinggalkan. Melihat keberanian mereka menyampaikan cita-cita di depan kelas adalah momen yang sangat inspiratif.
4. Nilai dan Cita-Cita
Pesan kuncinya adalah: “Kecerdasan intelektual saja tidak cukup; gunakan juga hati nurani.” Integritas merupakan fondasi utama dalam menggapai ambisi. Bagian ini saya bawakan dengan nada yang lebih serius karena saya percaya bahwa prinsip moral adalah "doktrin" terpenting yang harus dimiliki oleh setiap calon pemimpin bangsa.
5. Manajemen Waktu
Saya menutup sesi dengan berbagi refleksi pribadi tentang masa Tahap Persiapan Bersama (TPB) yang sempat kurang terarah karena terlalu banyak bermain game. Belajar dari kesalahan tersebut, saya membagikan bagaimana akhirnya saya bisa mendisiplinkan diri untuk mengatur waktu di tengah kesibukan organisasi dan akademik.
Semoga apa yang telah disampaikan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi para peserta. Saya teringat prinsip penting dari masa TFT: “Yang terpenting bukanlah apa yang disampaikan oleh trainer, melainkan apa yang berhasil diserap dan dibawa pulang oleh peserta.” Sangat menyenangkan bisa berinteraksi dengan calon-calon pemimpin masa depan.
HAPPINESS IS HAVING DREAMS, SUCCESS IS MAKING THOSE DREAMS COME TRUE.
