Cosplay Temu Akrab

Pada 25 November 2007, kami mengikuti acara Temu Keakraban (Mukrab) Informatika ITB. Sebagai informasi, Mukrab adalah agenda tahunan yang dirancang untuk mempererat hubungan antar-mahasiswa di lingkungan Informatika ITB. Bagi angkatan 2004, tahun ini kemungkinan menjadi Mukrab terakhir yang kami ikuti sebagai mahasiswa aktif. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk tampil maksimal sebagai bentuk apresiasi terhadap perjalanan kami selama ini. Saya merasa sangat bangga menjadi bagian dari identitas IF2004.

Sesuai tradisi, setiap angkatan diwajibkan memberikan sebuah persembahan. Tahun ini, kami menyajikan pertunjukan kabaret yang menggabungkan parodi film, nostalgia masa muda, dan koreografi tari. Pertunjukan ini tergolong ambisius; alurnya dimulai dari empat orang anak yang bermain papan permainan Jumanji, di mana mereka kemudian terlempar ke berbagai adegan film dengan misi yang berbeda-beda.

Struktur Pertunjukan:

  • Scene 1: Heroes & Prison Break
  • Scene 2: Avatar
  • Scene 3: Nostalgia era 80-an
  • Scene 4: Pirates of the Caribbean vs 300

Setelah semua misi terpenuhi, kami menampilkan video nostalgia perjalanan IF2004, yang dilanjutkan dengan aksi boyband dan cheerleaders, serta ditutup dengan tarian massal "We Go Together". Ini adalah momen kolaborasi yang luar biasa.


Segmen Cosplay: Avatar

Salah satu daya tarik utama adalah kualitas kostum dan totalitas para pemerannya. Pada segmen Avatar, beberapa rekan tampil sangat meyakinkan sebagai penghuni Pandora, di antaranya adalah Zamak, Abie, Indri, Tyo, Tania, Ahmy, dan Stepz. Masih banyak rekan lain yang terlibat, termasuk tim efek di balik layar, namun sayangnya keterbatasan dokumentasi tidak memungkinkan saya untuk menampilkan semuanya di sini.


Zamak


Abie


Indri


Tyo


Tania


Ahmy


Stepz


Segmen Cosplay: Pirates

Segmen berikutnya yang tidak kalah menarik adalah Pirates vs 300, terutama karena saya terlibat langsung dalam adegan ini. Mengenakan kostum bajak laut bersama Anne dan Reyhan memberikan pengalaman panggung yang sangat berkesan. Dalam salah satu cuplikan adegan, ada momen ikonik di mana karakter saya melamar tokoh Elizabeth Swan. Namun, demi menjaga citra profesional saya sebagai Koordinator Asisten (Kordas), detail adegan tersebut mungkin lebih baik disimpan sebagai memori internal kelompok saja.


Anne


Anggri B-)


Reyhan


Ragam Karakter dan Kreativitas

Musuh utama kami dalam segmen Pirates adalah Raja Sparta, yang diperankan dengan sangat baik oleh Simon. Keragaman kostum IF2004 tidak berhenti di situ; ada yang memerankan tokoh-tokoh dari serial Heroes (seperti Peter Petrelli dan Hiro Nakamura), Darth Vader dari Star Wars, hingga ikon budaya populer seperti John Travolta dan Michael Jackson. Kami bahkan memasukkan unsur lokal seperti Trio Warkop (Dono, Kasino, Indro) dan karakter horor legendaris, Suzanna.

Sayangnya, saya belum mendapatkan dokumentasi lengkap untuk semua pemeran tersebut. Jika ada rekan yang memilikinya, saya akan sangat menghargai jika bisa dibagikan untuk melengkapi arsip digital ini.


Simon


IF 2004 @ Temu Akrab 2007


Catatan Akhir

Sebagai penutup, apresiasi setinggi-tingginya saya sampaikan kepada tim kreatif yang telah bekerja keras membuat kostum dan berbagai aksesori pendukung lainnya. Untuk rekan-rekan IF2004, terima kasih atas kebersamaan dan memori yang luar biasa ini. Meskipun acara ini tampak santai, pengalaman ini memberikan penyegaran pikiran di tengah padatnya jadwal akademik di ITB.

251144: Simbol Sebuah Ambisi

Adakah yang tahu signifikansi dari angka di atas? Bagi banyak calon mahasiswa pada masanya, 251144 bukan sekadar deretan angka; itu adalah kode jurusan Teknik Informatika ITB di SPMB. Kode ini melambangkan ambisi, prestise, sekaligus antisipasi mendalam bagi siswa SMA yang melihatnya di katalog seleksi perguruan tinggi. Tiga tahun telah berlalu sejak saya melewati masa-masa tersebut, dan hari ini, pengumuman SPMB 2007 membawa kembali kenangan tentang momen yang menentukan arah masa depan saya.

Baru saja, seorang adik kelas mengirimkan kabar bahagia bahwa ia diterima di STEI ITB. Kabar tersebut membawa rasa sukacita yang familiar—perasaan yang saat ini mungkin tengah dirasakan oleh ribuan orang di seluruh Indonesia. Bagi mereka yang belum berhasil, penting untuk diingat bahwa hasil ujian hanyalah satu titik dalam perjalanan panjang; rencana Tuhan seringkali bekerja dengan cara yang melampaui ekspektasi kita saat ini.

Mengenang kembali persiapan saya di SPMB 2004, saya mengambil pendekatan yang mungkin tergolong tidak konvensional. Di saat rekan-rekan lain mengikuti bimbingan belajar (bimbel) intensif, saya memilih untuk belajar secara mandiri di rumah. Saya menggunakan kumpulan soal dari dekade sebelumnya sebagai referensi utama dan mengelola kejenuhan dengan bermain PlayStation. Aktivitas seperti bermain Winning Eleven atau DDR menjadi mekanisme saya untuk menjaga keseimbangan mental agar tetap tajam saat belajar. Meskipun hasil try-out awal sempat mengecewakan, hal tersebut justru menjadi katalisator bagi saya untuk meningkatkan intensitas belajar demi mencapai target pilihan pertama.

Tentu saja, keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan jaringan pertemanan. Saya ingat betapa terbatasnya pengetahuan geografis saya saat itu; saya bahkan tidak tahu lokasi pasti Sabuga atau daerah Solontongan. Beruntung, ada rekan-rekan yang bersedia membantu secara logistik untuk mengantar saya mengembalikan formulir dan menuju lokasi ujian. Tanpa dukungan kolektif tersebut, perjalanan menuju 251144 mungkin akan jauh lebih sulit. Pengalaman ujian sendiri memberikan dinamika tersendiri, di mana saya merasa sangat percaya diri pada subjek Matematika, namun harus berjuang ekstra pada subjek Biologi.

Masa penantian hasil ujian adalah periode refleksi yang cukup emosional. Pada hari pengumuman, saya mencoba mengakses hasil melalui internet, namun sistem saat itu gagal menampilkan data. Saya menduga infrastruktur server SPMB saat itu belum cukup tangguh (robust) untuk menangani lonjakan beban trafik dari ratusan ribu pengunjung secara bersamaan. Akhirnya, kepastian baru saya dapatkan keesokan harinya melalui koran Pikiran Rakyat. Melihat nama saya bersanding dengan kode 251144 memberikan rasa syukur yang luar biasa—saya berhasil menembus jurusan idaman nomor satu di Indonesia saat itu.

Dalam menentukan pilihan jurusan, saya menerapkan prinsip yang konsisten: mengutamakan minat dan passion di atas perhitungan peluang semata. Bagi saya, lebih baik mengambil risiko untuk mengejar Informatika di perguruan tinggi pilihan utama daripada bermain aman di bidang yang tidak sepenuhnya saya minati. Pendekatan ini mungkin terlihat berisiko, namun bagi saya, dedikasi pada bidang yang tepat adalah investasi jangka panjang yang terbaik. Meskipun kini kode 251144 telah bertransformasi seiring dengan penggabungan menjadi STEI ITB, nilai-nilai keunggulan yang diusungnya tetap sama.

Selamat kepada rekan-rekan yang berhasil menembus STEI ITB 2007 dan perguruan tinggi lainnya. Manfaatkan peluang ini dengan tanggung jawab penuh. Bagi yang belum berhasil, jangan biarkan kekecewaan menghambat langkah kalian. Kegagalan dalam satu seleksi bukanlah akhir dari segalanya; masih banyak jalur lain untuk membangun masa depan yang gemilang. Teruslah melangkah dengan semangat. God Bless You.

Amazing Race Informatika 2007

Sabtu, 3 Februari 2007, HMIF mengadakan sebuah acara kekeluargaan berjudul “The Amazing Race Informatika”. Acara ini dikemas mirip TV show “The Amazing Race” yang populer saat itu. Bedanya, versi Informatika dibuat jauh lebih sederhana; tidak sampai keliling dunia, hanya berkeliling kota Bandung. Meskipun demikian, acara ini menjadi sarana refreshing yang menarik bagi mahasiswa Informatika ITB sebelum memasuki hari pertama perkuliahan semester baru.

Awalnya saya tertarik ikut setelah diajak Paul. Tadinya saya ingin mengajak teman-teman dari clan ProG (para gamers Labdas 2004) sebagai alternatif hiburan selain bermain DotA. Namun, ajakan saya kurang mendapat respon positif. Saya sempat berpikir tidak akan ikut, sampai akhirnya saya tahu bahwa nama saya sudah didaftarkan di kelompok lain tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Saya tergabung dalam kelompok Tangos, yang beranggotakan 7 orang, namun hanya 5 orang yang hadir: Heri, Zamakh, Ido, Paul, dan saya. Sehari sebelumnya, saya cukup kaget saat membaca pesan singkat yang menyebutkan bahwa dresscode kelompok kami adalah baju batik. “Baju batik? Memangnya mau ke undangan?” pikir saya saat itu. Saya tidak punya kemeja batik sendiri, dan meskipun bisa meminjam milik orang tua, saya khawatir akan rusak karena acara ini melibatkan banyak aktivitas fisik. Akhirnya, saya memutuskan memakai kaos batik santai. Pada hari-H, kami berlima tetap nekat memakai batik; empat orang berkemeja, dan saya berkaos. Yang penting temanya tetap batik.



Permainan dimulai dari Gerbang Ganesha sekitar jam 8 pagi. Tiap kelompok didampingi oleh seorang panitia pendamping. Clue pertama adalah sebuah foto patok kilometer yang biasa ditemui di pinggir jalan:

BDG

X
---------
CLN | PDL
18 | 18


Lalu ada secarik kertas berisi soal aritmatika yang terlihat cukup rumit jika dihitung manual. 


Awalnya kami menebak-nebak, tapi tidak ada yang masuk akal. Akhirnya, kami menggunakan kalkulator ponsel untuk menghitungnya secara presisi, dan hasilnya adalah X = 0. Saya langsung teringat titik Bandung Nol Kilometer di Jl. Asia Afrika. Kami pun segera bergerak ke arah Jl. Dago. Karena salah naik angkot, kami harus berjalan cukup jauh di sepanjang Jl. Braga. Sesampainya di Jl. Asia Afrika, tantangannya ternyata sederhana: meminta orang asing untuk berfoto bersama. Di sana, kami juga sempat membaca prasasti yang menceritakan asal-usul titik Nol Kilometer tersebut.


Clue 2: “Jalan +/- 270 langkah ke barat!”

Setelah berjalan sesuai instruksi, kami tiba di depan sebuah bangunan. Ternyata itu adalah Museum KAA. Cukup ironis, saya sudah hampir 7 tahun di Bandung namun baru menyadari lokasi persis museum ini. Di sini, kami diberi tantangan menjawab pertanyaan seputar sejarah Konferensi Asia Afrika. Soal pertama cukup sulit karena menggunakan penggalan aksara asing yang mirip aksara Jawa. Tim kami tidak mendapat nilai maksimal di bagian ini, namun pengalaman ini memberikan perspektif sejarah yang menarik.


Clue 3: Anagram RAMEN JAGUNG DIASEM

Tim kami berhasil memecahkan anagram ini dalam hitungan detik: ”Menara Mesjid Agung”. Kami segera berlari menuju Masjid Raya Bandung. Meskipun menara ini ikonik, ini adalah kali pertama saya naik ke puncaknya (sekitar 19 lantai). Untungnya tersedia lift, sehingga kami tidak perlu naik lewat tangga. Di puncak menara, tantangannya adalah menyusun jigsaw puzzle yang potongannya merupakan foto dari lokasi berikutnya. Lokasi itu ternyata adalah sebuah pemakaman.


kecapekan di atas menara


Tempat tersebut adalah makam pendiri kota Bandung di daerah Dalem Kaum. Setelah mendapatkan penjelasan sejarah tentang makam tersebut, kami menerima tantangan seputar dunia perfilman yang mengharuskan kami mencari informasi di daerah Pasar Kembang. Semua pertanyaan berhasil kami jawab dengan cepat sebelum batas waktu berakhir.



Clue 5 & 6: Strategi dan Enkripsi

Setelah istirahat sejenak, kami membuka clue kelima berupa peta yang menunjukkan lokasi di sekitar pertokoan Jalan Banceuy. Ternyata tempat tersebut adalah Tugu Bung Karno, lokasi sel penjara tempat beliau pernah ditahan.

Di titik ini, panitia memberikan clue ke-6 berupa ciphertext dengan metode pergeseran (Caesar Cipher). Sebagai mahasiswa Informatika, ini seharusnya menjadi keahlian kami. Namun, kami sempat kesulitan dan baru berhasil memecahkan kodenya tepat saat waktu habis. Jawabannya adalah:

JALAN DIPONEGORO NO 63 BANDUNG JAWA BARAT INDONESIA

Kami memutuskan naik bus Damri menuju lokasi tersebut. Menggunakan batik dan membawa tas di dalam bus kota memberikan pengalaman yang unik. Kami sempat mengira tujuannya adalah Gedung Sate, namun ternyata nomor tersebut merujuk pada gedung Pusdai. Di sanalah perjalanan kompetisi berakhir.


Penutupan di Puncak Gedung Sate

Setelah makan siang dan sesi tanya jawab trivia (yang lebih mirip permainan tebak-tebakan daripada uji pengetahuan), acara ditutup dengan kunjungan ke Gedung Sate. Kami berkesempatan masuk ke dalam dan naik hingga ke puncaknya. Arsitektur peninggalan Belanda dan interiornya yang kental dengan aura Jawa Barat sangat memukau. Angin sepoi-sepoi di puncak gedung cukup untuk menghilangkan rasa lelah setelah seharian berkeliling kota.





Meskipun tim kami tidak keluar sebagai juara, hadiah bukanlah tujuan utama. Acara "The Amazing Race Informatika" ini berhasil menyegarkan pikiran di penghujung liburan semester. Ini adalah "bekal" mental yang cukup sebelum menghadapi tantangan Semester 6 yang sudah menanti dengan jadwal yang padat. Keep smiling and semangat!