Tujuh puluh lima tahun yang lalu Soekarno, Hatta, dan para pejuang lainnya
memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dengan adanya proklamasi tersebut
berarti bangsa Indonesia menyatakan diri sebagai bangsa yang bebas, melepaskan
diri dari penjajahan. Para pejuang kemerdekaan menyatakan untuk berdaulat atas
bangsa kita sendiri, mau membangun negara ini, tanpa campur tangan negara
lain. Kita bersama-sama bertekad untuk membawa Indonesia maju, menjadi bangsa
yang lebih baik daripada sebelumnya saat masih dijajah oleh bangsa lain.
Tahun ini acara 17-an di kantor cukup unik. Karena kita masih disarankan untuk
bekerja dari rumah, jadi semua acarapun diadakan secara virtual, termasuk
upacara bendera virtual. Tahun ini pula saya kali pertama diminta untuk
membawakan amanat pembina upacara. Saya jadi merenungi sebenarnya apa makna
kemerdekaan yang sesuai dengan konteks yang kita alami saat ini.
Tahun ini hampir seluruh negara di dunia mengalami permasalahan yang sama,
yaitu pandemi COVID-19, yang akhirnya menyebabkan perlambatan ekonomi.
Berdasarkan dampaknya terhadap kesehatan publik dan perekonomian, secara garis
besar saya membagi masa pandemi ini menjadi tiga fase, yaitu 3R:
Reaction, Resilience, dan Recovery.
Fase #1: Reaction – Awal krisis kesehatan
WHO menyatakan terjadi outbreak COVID-19 di bulan Januari dan kemudian
meningkatkan statusnya menjadi pandemi pada tanggal 11 Maret.
Perusahaan-perusahaan di Indonesia yang harus impor bahan baku atau bahan jadi
dari China pun mulai mengalami permasalahan supply chain karena China
sudah mengalami outbreak terlebih dahulu sejak Desember tahun lalu dan
bahkan harus melakukan lockdown salah satu kota terpadatnya selama
lebih dari 2 bulan.
Lalu, saat negara-negara besar lainnya, seperti US, mulai mengalami pandemi
COVID-19, perusahaan-perusahaan Indonesia yang mengandalkan ekspor ke pasar
negara-negara tersebut pun mulai mengalami permasalahan penurunan
demand secara signifikan.
Di Indonesia, BNPB sudah menyatakan status darurat bencana sejak 29 Februari
dan disusul konfirmasi kasus pertama pada awal Maret. Pemprov DKI Jakarta pun
akhirnya menerbitkan surat edaran untuk melakukan
social distancing, antara lain dengan meliburkan anak sekolah (belajar
dari rumah) dan menganjurkan semua warganya yang mampu untuk bekerja dari
rumah.
Hal ini secara perlahan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, mulai sektor
informal dan UMKM sampai ke sektor lainnya. Bahkan ada beberapa perusahaan
besar mulai menahan belanja investasinya sejak bulan Maret.
Mulai bulan April, dampak kesehatan dari pandemi COVID-19 mulai semakin
terdengar di seluruh segmen masyarakat. Jumlah korban yang meninggal dunia
terus meningkat. Pemerintah pun akhirnya menerapkan pembatasan sosial berskala
besar (PSBB), sambil terus melakukan tes massal dan penelusuran kontak.
Di sisi lain, dampak ekonomi dari pandemi mulai terasa, terutama di industri
yang melibatkan interaksi antar manusia yang tinggi, mengharuskan konsumen
melakukan perjalanan, atau merupakan kebutuhan sekunder/tersier yang bisa
ditunda atau dihilangkan.
Banyak perusahaan di industri tersebut akhirnya tidak bisa beroperasi dan
terpaksa merumahkan (furlough atau unpaid leave) pekerjanya.
Hanya sebagian kecil yang bisa melakukan inovasi model bisnisnya. Bisa
dipastikan perekonomian kita tumbuh negatif di Q2 tahun ini.
Rutinitas hari-hari ini: Bolak-balik mengurai darurat ekonomi dan darurat
kesehatan.
pic.twitter.com/PDSUIUr7ex
Sampai tulisan ini dibuat, Indonesia masih di fase ini, tanpa ada kejelasan
kapan krisis kesehatan dan perlambatan ekonomi akan benar-benar selesai. Bagi
yang optimistis, fase ini hanya disebut sebagai perlambatan ekonomi (economic slowdown) saja karena diharapkan bisa selesai paling lambat di Q3 tahun ini.
Sementara itu bagi yang pesimistis, fase ini disebut sebagai resesi ekonomi,
karena diprediksi akan terjadi pertumbuhan negatif selama lebih dari 2
kuartal, dan pemulihan ekonomi akan pulih paling cepat pertengahan tahun
depan.
Fase #3: Recovery – Pemulihan ekonomi
Hanya ada dua cara supaya krisis kesehatan akibat pandemi COVID-19 ini
berakhir, yaitu penghentian penyebaran atau kekebalan komunitas.
Cara pertama, penghentian penyebaran virus 2019-nCov hanya bisa terjadi jika
dilakukan kombinasi dari pembatasan sosial, tes massal, dan penelusuran
kontak. Namun, sayang sekali ketiga hal ini susah sekali dilakukan di
Indonesia. Kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tidak ditegakkan
secara tegas, tidak ada sanksi pidana atau denda. Tes massal pun dilakukan
dalam jumlah yang relatif sangat sedikit jika dibandingkan jumlah penduduk
yang berpotensi terpapar virus. Penelusuran kontak pun susah untuk akurat jika
tidak ada pembatasan jarak fisik di ruang publik.
Cara kedua, kekebalan komunitas, hanya bisa terjadi jika sudah ada vaksin atau
sebagian besar penduduk sudah terpapar virus dan sembuh sendiri. Vaksin
COVID-19 masih dalam tahap pengujian dan belum tau kapan bisa diproduksi
massal dan disuntikkan ke sebagian besar penduduk, mungkin tahun depan. Mau
tidak mau, kita hanya memiliki satu opsi terakhir, yaitu membiarkan sebagian
besar penduduk terpapar virus dan berharap semuanya sembuh sendiri. Lalu,
untuk meminimalisir jumlah korban, pemerintah akan memberikan petunjuk pola
hidup baru – yang semoga saja bisa diterapkan dan ditegakkan secara serius –
serta tetap melakukan pembatasan sosial pada segmen masyarakat yang relatif
lemah terhadap virus ini.
Untuk meminimalisir dampak ekonomi akibat pandemi, rencananya pemerintah
akan melakukan relaksasi PSBB mulai dari awal Juni dan dilaksanakan secara
berangsur sampai dengan akhir Juli. Bagi golongan yang optimistis, termasuk
saya, rencana pemerintah ini seharusnya bisa memulihkan kondisi perekonomian
nasional, paling lambat di bulan September, akhir Q3. Amin!
Secara makroekonomi, ada beberapa alternatif hasil pemulihan yang mungkin
terjadi, antara lain: V-shape, W-shape, U-shape, dan
L-shape. Masing-masing alternatif tersebut menggambarkan bentuk kurva
grafik pertumbuhan ekonomi saat terjadi pemulihan ekonomi.
V-shape : Ada penurunan tajam, tapi pemulihannya cepat,
biasanya berkisar antara 3-6 bulan. Ini merupakan alternatif terbaik yang
ada. Contohnya: manufaktur pasca lockdown di Wuhan.
W-shape: Variasi dari V-shape, ada penurunan tajam,
lalu pulih cepat untuk sesaat, tapi turun lagi, dan akhirnya benar-benar
pulih. Jumlah ups and downs bisa saja terjadi lebih dari dua kali.
U-shape : Ada penurunan secara perlahan untuk jangka waktu
yang cukup panjang, lalu pemulihannya pun membutuhkan waktu yang
setidaknya sama panjang dengan waktu penurunannya, biasanya berkisar
antara 1-2 tahun. Contohnya: krisis Amerika 2008, krisis Indonesia 1997.
L-shape : Terjadi depresi ekonomi atau resesi yang butuh
waktu sangat lama untuk pemulihannya, bisa berkisar antara 3-10 tahun.
Contohnya: krisis Yunani 2008, lost decade Jepang 1990-an,
great depression Amerika 1920-an.
Beberapa hari yang lalu saya membaca kembali tulisan lama saya di blog, yaitu
tentang cara
mencatat keuangan pribadi. Tulisan tersebut ditulis 8 tahun yang lalu, saat saya mulai belajar mengatur
keuangan pribadi, mencatat semua pengeluaran sehari-hari, serta mulai investasi
saham dan
reksa dana.
Saat itu saya belum belajar keuangan secara formal. Semuanya saya pelajari
secara otodidak, mulai dari baca buku
Intelligent Investor
dan literatur finance lainnya, belajar saham dari forum Kaskus dan berbagai
mailing list, sampai ambil cuti untuk ikut
sekolah pasar modal
di BEI tahun 2010.
Setelah baca lebih banyak referensi,
kuliah lagi, dan rutin menganalisis laporan keuangan, saya merasa perlu meng-update
beberapa hal terkait personal finance. Blog post kali ini sengaja ditulis dalam
bahasa Indonesia untuk memudahkan orang awam memahami pentingnya literasi
finansial.
#1 - Audit cash flow keuangan pribadi kita
Cara paling sederhana untuk meng-audit keuangan pribadi kita adalah dengan
membuat personal cash flow statement, yang intinya kita catat semua
pemasukan dan semua pengeluaran kita setiap bulan, mulai awal tahun ini. Lalu,
kita hitung selisihnya, apakah surplus sehingga bisa kita tabung dan
investasikan, atau malah defisit sehingga kita harus menguras tabungan atau
berhutang.
#2 - Tingkatkan active income dari pekerjaan utama
Kalau kita bekerja di perusahaan orang lain, coba bekerja lebih keras dan
pastikan kita menghasilkan value yang lebih tinggi untuk perusahaan. Kalau kita
memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perusahaan, pengusaha yang baik
akan menghargai kita sebelum perusahaan lain lebih menghargai kita.
Be so good, so they can't ignore you.
Kalau kita bekerja sendiri atau di perusahaan sendiri, coba bekerja lebih
cerdas, pastikan
growth dan profitability
nya meningkat dari tahun ke tahun. Kalau keuntungan perusahaan meningkat secara
konsisten, kita bisa memberikan kenaikan income bagi diri sendiri dan
orang-orang kunci di perusahaan.
#3 - Cari usaha sampingan (side gig)
Kalau kita bekerja di perusahaan orang lain, coba cari pekerjaan sampingan yang
terkait dengan hobi, tidak terkait dengan pekerjaan utama, bisa dilakukan di
luar jam kerja utama, dan tidak menggunakan resource yang dberikan perusahaan di
pekerjaaan utama kita. Buku-buku
Chris Guillebeau, seperti "The $100 Startup" atau "100 Side Hustles", bisa jadi bacaan bermanfaat.
Kalau kita bekerja sendiri atau di perusahaan sendiri, biasanya energi kita 24/7
untuk pekerjaan tersebut. Coba cari masalah-masalah lain yang bisa kita
selesaikan dengan business unit baru. More problems, more business
opportunities.
#4 - Tingkatkan passive income dari hasil investasi
Financial freedom (kebebasan finansial) itu bisa tercapai saat penghasilan kita
bisa membiayai semua kebutuhan kita tanpa kita harus bekerja lagi. Hal ini hanya
bisa dicapai kalau kita memiliki investasi yang konsisten memberikan imbal hasil
di atas biaya hidup kita.
Terkait cara memilih investasi di bisnis apa, saya banyak belajar dari Warren
Buffet & Charlie Munger. Prinsipnya adalah pilih yang punya long-term value
tinggi dan kita paham business model-nya, serta dikelola oleh orang-orang yang
memiliki integritas, kecerdasan, pengalaman, dan dedikasi tinggi. Prinsip yang
sama bisa diterapkan saat investasi di sektor riil.
#5 - Atur pengeluaran dengan bijak
Pengeluaran yang bijak itu sadar dan terencana, biasanya mencakup 5 kategori
sbb:
Kebutuhan Primer (60%) – bayar utang, pajak, tempat tinggal, makan,
komunikasi, kesehatan, pendidikan, transportasi, amal, dsb.
Dana Pensiun (10%) – iuran BPJS TK, DPLK, dsb.
Investasi (10%) – reksa dana, saham, surat utang, dsb.
Tabungan (10%) – dana darurat, liburan, hadiah, pernikahan, dsb.
Salah satu trik untuk memastikan bahwa pengeluaran kita tidak melebih budget itu
adalah dengan menerapkan sistem amplop anggaran. Jadi, setiap pos pengeluaran
hanya bisa diambil dari satu amplop saja sesuai dengan nama posnya. Jika ada
pengeluaran yang melebihi budget (dana di amplop tersebut sudah habis), terpaksa
kita harus mengambil dana dari amplop lain. Dengan demikian, cara ini bisa
menghindari kita dari kondisi defisit (pengeluaran > pemasukan).
Selain itu coba audit juga setiap pos pengeluaran, apakah ada yang bisa
dihilangkan atau dikurangi (baik itu downgrade, maupun negosiasi ulang).