Amazing Race Informatika 2008

Setelah kesuksesan Amazing Race Informatika yang pertama pada tahun lalu, divisi Kekeluargaan HMIF kembali mengadakan sekuel untuk salah satu acara himpunan yang paling dinanti. Tema tahun ini adalah "Wisata Kuliner", sebuah konsep di mana peserta berkeliling Bandung mengunjungi titik-titik kuliner ikonik sambil memecahkan teka-teki logika. 

Pendaftaran mencapai kuota maksimal—12 kelompok dengan total 72 orang—hanya dalam tiga hari. Kebetulan, saat pendaftaran dibuka, saya dan rekan-rekan sesama Asisten Lab Programming sedang mengadakan sesi knowledge sharing. Kami segera mendaftarkan dua tim, yaitu KO dan DING, dengan ambisi menjadi tim terkompak dan tercepat di Amazing Race 2008.


Pos 0: Gerbang Ganesha

Petualangan dimulai dari Gerbang Ganesha ITB dengan antusiasme tinggi dari seluruh peserta. Identitas kelompok terlihat sangat beragam melalui dresscode unik mereka. Tim KO dan DING tampil dengan persiapan matang hasil analisis fungsi alat yang matang. Tim KO (Nico, Nio, Fitri, Sila, Bayu, Paul) mengenakan topi untuk perlindungan cuaca, dasi untuk identitas visual, dan tas pinggang untuk efisiensi membawa alat tulis. 



Sementara itu, tim DING (Hengky, Andrew, Shieny, Jimmy, Rangga, dan saya) membawa kacamata renang dan payung besar sebagai antisipasi terhadap kondisi cuaca ekstrem. 



Tantangan pertama dimulai dengan teka-teki berbasis layout keyboard QWERTY yang berhasil kami pecahkan dalam waktu kurang dari tiga menit, memungkinkan kami segera meluncur ke lokasi berikutnya menggunakan angkot.


<5>[7]<5>[7][4]
"1""8"[8][9]<6>"5"
"5"[9][4][10]"1""3""7""1""7""1"[4]"1"<6>

Hint: QWERTY


Pos 1: Bubur Akiong GOR Padjajaran

Setelah turun di perempatan Padjajaran-Cicendo, kami melakukan sprint menuju GOR Padjajaran. Di sana, tantangan pertama adalah menghabiskan semangkuk bubur panas menggunakan sedotan. Kami menerapkan optimasi proses dengan memotong sedotan menjadi dua agar aliran bubur lebih efisien—sebuah trik yang kami adaptasi dari tim kompetitor, Merah Tambun. Di dasar mangkuk, kami menemukan tantangan teknis berupa deretan kode ASCII dalam format bilangan heksadesimal. Berkat pemahaman dasar informatika yang kuat, kami berhasil mengonversi kode tersebut jauh lebih cepat daripada tim lain.



Pos 2: Es Krim Rasa Tamblong

Pos berikutnya terletak di samping kedai Es Krim Rasa, Jalan Tamblong. Di sini, ketahanan mental kami diuji melalui tantangan meminum jus dengan komposisi yang tidak lazim, ditentukan melalui putaran roda keberuntungan. Tim KO mendapatkan kombinasi jus jengkol dan petai yang cukup menantang, sementara tim DING mendapatkan jus sayuran organik dengan rasa yang menyerupai rumput. Setelah menyelesaikan tantangan fisik tersebut, kami diberikan teka-teki berupa resep makanan lotek yang mengarah pada sebuah lokasi di "Jalan Panthera tigris"—nama latin untuk macan.




Pos 3: Lotek Jalan Macan

Perjalanan dilanjutkan menuju Jalan Macan menggunakan dua kali sambungan angkot. Di lokasi ini, panitia sempat mengalami kendala koordinasi karena tidak menyangka tim KO dan DING akan tiba secepat itu, sehingga kami mengalami delay sekitar 15 menit. Tantangan utama di pos ini adalah aspek manajemen operasional, yaitu memasak nasi goreng untuk dinilai oleh panitia. Setelah sesi penilaian selesai, kami dihadapkan pada tantangan kriptografi berupa Vigenère Cipher. Sebagai mahasiswa informatika, penerapan kunci simetris ini merupakan tantangan yang sangat sistematis dan dapat kami selesaikan dengan efisien.




Plaintext: ___________________
Kunci: youllneverwalkalone
Ciphertext: lomtevqwicesesqzanl

(gambar bujur sangkar Vigenère)


Pos 4: Nasi Timbel Istiqomah

Pemberhentian berikutnya adalah lokasi nasi timbel yang melegenda di dekat Masjid Istiqomah. Di sini, kami berbagi peran: anggota perempuan fokus pada tantangan pembuatan sambal mangga dan terasi, sementara anggota laki-laki berusaha memecahkan teka-teki logika verbal yang diberikan panitia. Meskipun teka-tekinya terasa cukup sederhana, koordinasi tim tetap terjaga dengan baik. Di pos ini tidak ada teka-teki tertulis untuk lokasi berikutnya; petunjuk diberikan secara lisan oleh panitia pendamping setelah semua tantangan selesai.




Pos 5: Bakso Bakar Setiabudi

Menemukan lokasi tepat bakso bakar di Jalan Setiabudi merupakan tantangan tersendiri karena papan tandanya sempat terhalang oleh kendaraan umum. Setelah melakukan backtrack, kami akhirnya menemukan bendera pos. Tantangan di sini bersifat performatif, di mana satu perwakilan tim harus menirukan gaya Pak Bondan dari acara "Wisata Kuliner". Setelah itu, kami diberikan tantangan akademis berupa penyelesaian masalah Teori Graf menggunakan Algoritma Prim atau Kruskal. Ini merupakan materi mata kuliah Matematika Diskrit yang memaksa kami untuk memanggil kembali memori akademis dari dua tahun sebelumnya.




Pos 6: BMC (Bandoengsche Melk Centrale)

Petualangan berlanjut ke BMC di Jalan Aceh, yang berfungsi sebagai pos Ishoma (Istirahat, Sholat, Makan). Panitia menetapkan durasi istirahat minimal 20 menit untuk menjaga kondisi fisik peserta. Karena efisiensi perjalanan kami sebelumnya, kami tiba lebih awal dari jadwal dan memiliki waktu luang untuk mendokumentasikan kebersamaan tim. Setelah waktu istirahat berakhir, kami diberikan petunjuk berupa foto etalase toko dan papan reklame yang harus diidentifikasi lokasinya secara visual.



Pos 7: Es Cendol Elizabeth Cihampelas

Pos ketujuh terletak di gerobak es cendol pinggir jalan di daerah Cihampelas. Tantangan di sini sangat menarik karena menyentuh aspek kewirausahaan: kami wajib menjual 10 bungkus es cendol dalam waktu 15 menit. Melalui teknik persuasi dan strategi pemberian diskon, tim KO dan DING berhasil menjual total 20 bungkus. Setelah tantangan penjualan sukses, kami diberikan teka-teki berbasis Pohon Huffman. Terdapat dua jalur solusi, dan kami memilih jalur yang mengarah pada lokasi yang sudah kami kenal baik.




Pos 8: Bubur Mang Oyo Sulanjana

Kami memilih lokasi Bubur Mang Oyo di Jalan Sulanjana. Karena keterbatasan transportasi umum yang searah, kami memutuskan untuk berlari dari Cihampelas menuju Sulanjana untuk mengejar waktu. Kami menelusuri lembah di bawah jembatan Pasupati dan sempat menghadapi hambatan fisik berupa sungai, namun berhasil menemukan jembatan penyeberangan berkat informasi dari warga sekitar. Di pos ini, kami menyelesaikan tantangan riset kecil dengan mewawancarai pengunjung mengenai opini mereka terhadap hidangan tersebut serta melakukan sesi dokumentasi bersama pemilik kedai.




Pos 9: Dago Tea House

Lokasi terakhir adalah Dago Tea House, di mana tim KO dan DING berhasil menjadi tim tercepat yang tiba di tujuan. Namun, dalam sistem kompetisi ini, kecepatan perjalanan ternyata tidak berkorelasi langsung dengan hasil akhir karena adanya mekanisme taruhan poin (trivia para petaruh) di tahap final. Meskipun kami secara konsisten memimpin dari awal hingga akhir, faktor keberuntungan pada sesi taruhan ini membuat kami menempati peringkat kedua dan ketiga. Sebagai catatan kritis, saya merasa desain sistem penilaian di pos terakhir ini bisa ditingkatkan agar lebih menghargai efisiensi dan keterampilan logika yang telah diuji di setiap pos sebelumnya.



Penutup

Acara ditutup pada pukul 17.00 WIB dan semua peserta kembali dengan pengalaman yang menyenangkan. Ini kemungkinan besar adalah Amazing Race terakhir yang bisa saya ikuti sebelum lulus dari ITB tahun ini. Saya berharap HMIF dapat terus mempertahankan kreativitasnya dan terus mempererat rasa kekeluargaan di dalamnya. God b135s coder!


Cosplay Temu Akrab

Pada 25 November 2007, kami mengikuti acara Temu Keakraban (Mukrab) Informatika ITB. Sebagai informasi, Mukrab adalah agenda tahunan yang dirancang untuk mempererat hubungan antar-mahasiswa di lingkungan Informatika ITB. Bagi angkatan 2004, tahun ini kemungkinan menjadi Mukrab terakhir yang kami ikuti sebagai mahasiswa aktif. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk tampil maksimal sebagai bentuk apresiasi terhadap perjalanan kami selama ini. Saya merasa sangat bangga menjadi bagian dari identitas IF2004.

Sesuai tradisi, setiap angkatan diwajibkan memberikan sebuah persembahan. Tahun ini, kami menyajikan pertunjukan kabaret yang menggabungkan parodi film, nostalgia masa muda, dan koreografi tari. Pertunjukan ini tergolong ambisius; alurnya dimulai dari empat orang anak yang bermain papan permainan Jumanji, di mana mereka kemudian terlempar ke berbagai adegan film dengan misi yang berbeda-beda.

Struktur Pertunjukan:

  • Scene 1: Heroes & Prison Break
  • Scene 2: Avatar
  • Scene 3: Nostalgia era 80-an
  • Scene 4: Pirates of the Caribbean vs 300

Setelah semua misi terpenuhi, kami menampilkan video nostalgia perjalanan IF2004, yang dilanjutkan dengan aksi boyband dan cheerleaders, serta ditutup dengan tarian massal "We Go Together". Ini adalah momen kolaborasi yang luar biasa.


Segmen Cosplay: Avatar

Salah satu daya tarik utama adalah kualitas kostum dan totalitas para pemerannya. Pada segmen Avatar, beberapa rekan tampil sangat meyakinkan sebagai penghuni Pandora, di antaranya adalah Zamak, Abie, Indri, Tyo, Tania, Ahmy, dan Stepz. Masih banyak rekan lain yang terlibat, termasuk tim efek di balik layar, namun sayangnya keterbatasan dokumentasi tidak memungkinkan saya untuk menampilkan semuanya di sini.


Zamak


Abie


Indri


Tyo


Tania


Ahmy


Stepz


Segmen Cosplay: Pirates

Segmen berikutnya yang tidak kalah menarik adalah Pirates vs 300, terutama karena saya terlibat langsung dalam adegan ini. Mengenakan kostum bajak laut bersama Anne dan Reyhan memberikan pengalaman panggung yang sangat berkesan. Dalam salah satu cuplikan adegan, ada momen ikonik di mana karakter saya melamar tokoh Elizabeth Swan. Namun, demi menjaga citra profesional saya sebagai Koordinator Asisten (Kordas), detail adegan tersebut mungkin lebih baik disimpan sebagai memori internal kelompok saja.


Anne


Anggri B-)


Reyhan


Ragam Karakter dan Kreativitas

Musuh utama kami dalam segmen Pirates adalah Raja Sparta, yang diperankan dengan sangat baik oleh Simon. Keragaman kostum IF2004 tidak berhenti di situ; ada yang memerankan tokoh-tokoh dari serial Heroes (seperti Peter Petrelli dan Hiro Nakamura), Darth Vader dari Star Wars, hingga ikon budaya populer seperti John Travolta dan Michael Jackson. Kami bahkan memasukkan unsur lokal seperti Trio Warkop (Dono, Kasino, Indro) dan karakter horor legendaris, Suzanna.

Sayangnya, saya belum mendapatkan dokumentasi lengkap untuk semua pemeran tersebut. Jika ada rekan yang memilikinya, saya akan sangat menghargai jika bisa dibagikan untuk melengkapi arsip digital ini.


Simon


IF 2004 @ Temu Akrab 2007


Catatan Akhir

Sebagai penutup, apresiasi setinggi-tingginya saya sampaikan kepada tim kreatif yang telah bekerja keras membuat kostum dan berbagai aksesori pendukung lainnya. Untuk rekan-rekan IF2004, terima kasih atas kebersamaan dan memori yang luar biasa ini. Meskipun acara ini tampak santai, pengalaman ini memberikan penyegaran pikiran di tengah padatnya jadwal akademik di ITB.

251144: Simbol Sebuah Ambisi

Adakah yang tahu signifikansi dari angka di atas? Bagi banyak calon mahasiswa pada masanya, 251144 bukan sekadar deretan angka; itu adalah kode jurusan Teknik Informatika ITB di SPMB. Kode ini melambangkan ambisi, prestise, sekaligus antisipasi mendalam bagi siswa SMA yang melihatnya di katalog seleksi perguruan tinggi. Tiga tahun telah berlalu sejak saya melewati masa-masa tersebut, dan hari ini, pengumuman SPMB 2007 membawa kembali kenangan tentang momen yang menentukan arah masa depan saya.

Baru saja, seorang adik kelas mengirimkan kabar bahagia bahwa ia diterima di STEI ITB. Kabar tersebut membawa rasa sukacita yang familiar—perasaan yang saat ini mungkin tengah dirasakan oleh ribuan orang di seluruh Indonesia. Bagi mereka yang belum berhasil, penting untuk diingat bahwa hasil ujian hanyalah satu titik dalam perjalanan panjang; rencana Tuhan seringkali bekerja dengan cara yang melampaui ekspektasi kita saat ini.

Mengenang kembali persiapan saya di SPMB 2004, saya mengambil pendekatan yang mungkin tergolong tidak konvensional. Di saat rekan-rekan lain mengikuti bimbingan belajar (bimbel) intensif, saya memilih untuk belajar secara mandiri di rumah. Saya menggunakan kumpulan soal dari dekade sebelumnya sebagai referensi utama dan mengelola kejenuhan dengan bermain PlayStation. Aktivitas seperti bermain Winning Eleven atau DDR menjadi mekanisme saya untuk menjaga keseimbangan mental agar tetap tajam saat belajar. Meskipun hasil try-out awal sempat mengecewakan, hal tersebut justru menjadi katalisator bagi saya untuk meningkatkan intensitas belajar demi mencapai target pilihan pertama.

Tentu saja, keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan jaringan pertemanan. Saya ingat betapa terbatasnya pengetahuan geografis saya saat itu; saya bahkan tidak tahu lokasi pasti Sabuga atau daerah Solontongan. Beruntung, ada rekan-rekan yang bersedia membantu secara logistik untuk mengantar saya mengembalikan formulir dan menuju lokasi ujian. Tanpa dukungan kolektif tersebut, perjalanan menuju 251144 mungkin akan jauh lebih sulit. Pengalaman ujian sendiri memberikan dinamika tersendiri, di mana saya merasa sangat percaya diri pada subjek Matematika, namun harus berjuang ekstra pada subjek Biologi.

Masa penantian hasil ujian adalah periode refleksi yang cukup emosional. Pada hari pengumuman, saya mencoba mengakses hasil melalui internet, namun sistem saat itu gagal menampilkan data. Saya menduga infrastruktur server SPMB saat itu belum cukup tangguh (robust) untuk menangani lonjakan beban trafik dari ratusan ribu pengunjung secara bersamaan. Akhirnya, kepastian baru saya dapatkan keesokan harinya melalui koran Pikiran Rakyat. Melihat nama saya bersanding dengan kode 251144 memberikan rasa syukur yang luar biasa—saya berhasil menembus jurusan idaman nomor satu di Indonesia saat itu.

Dalam menentukan pilihan jurusan, saya menerapkan prinsip yang konsisten: mengutamakan minat dan passion di atas perhitungan peluang semata. Bagi saya, lebih baik mengambil risiko untuk mengejar Informatika di perguruan tinggi pilihan utama daripada bermain aman di bidang yang tidak sepenuhnya saya minati. Pendekatan ini mungkin terlihat berisiko, namun bagi saya, dedikasi pada bidang yang tepat adalah investasi jangka panjang yang terbaik. Meskipun kini kode 251144 telah bertransformasi seiring dengan penggabungan menjadi STEI ITB, nilai-nilai keunggulan yang diusungnya tetap sama.

Selamat kepada rekan-rekan yang berhasil menembus STEI ITB 2007 dan perguruan tinggi lainnya. Manfaatkan peluang ini dengan tanggung jawab penuh. Bagi yang belum berhasil, jangan biarkan kekecewaan menghambat langkah kalian. Kegagalan dalam satu seleksi bukanlah akhir dari segalanya; masih banyak jalur lain untuk membangun masa depan yang gemilang. Teruslah melangkah dengan semangat. God Bless You.