BDG100. Mendengar namanya saja lutut sudah terasa mau copot. Race ini terkenal dengan elevasi yang menantang, tanjakan yang membuat meringis, dan pemandangan yang menyegarkan jiwa. Tahun ini saya memutuskan untuk ikut gila. Mengapa? Karena di balik setiap tantangan fisik yang berat selalu tersembunyi pelajaran mental yang berharga. 🙈
Buat saya, BDG Ultra ini adalah pendakian yang panjang dan melelahkan. Jaraknya merupakan yang paling jauh yang pernah saya tempuh. Bayangkan saja tantangan menaklukkan 64K dengan elevasi 3600m+. Angka ini sedikit di bawah BTR Ultra 55K yang memiliki 3700m+. Namun tetap saja, statistik itu cukup untuk membuat dengkul gemetar.
|
|
| BDG Ultra 64K |
Persiapan yang Absurd
Kunci menaklukkan BDG Ultra adalah persiapan matang. Idealnya memang begitu. Namun persiapan saya kali ini terasa agak absurd. Semua gara-gara marathon. Latihan saya sebelumnya fokus ke Pocari Sweat Run sebagai pacer dan Maybank Bali Marathon sebagai peserta. Masalahnya adalah jarak kedua event tersebut sangat dekat dengan BDG Ultra.
Saya hanya sempat sekali latihan trail run dalam acara hash di Karangasem, Bali. Lucunya, sesi itu malah membuat performa saya di Bali Marathon ambyar. Ternyata kegagalan itu justru membantu saya di Bandung. Setelah Bali Marathon, saya hanya fokus pada pemulihan. Saya percaya pada konsep supercompensation. Saya berharap bisa secara ajaib tampil prima di kedua race tersebut. Namanya juga usaha.
Jamuan ala Kondangan
Soal perlengkapan tidak ada yang istimewa. Saya kira Bandung bakal dingin sehingga saya memutuskan memakai legging. Ternyata saya malah kegerahan. Sisa perlengkapan lainnya standar, sama seperti saat saya mengikuti BTR Ultra.
Nah, ini bagian yang penting: nutrisi. Water station di BDG Ultra itu levelnya sudah seperti kondangan. Makanannya bejibun. Ada soto, sup ayam, bubur kacang hijau, hingga bandrek yang hangat. Relawannya juga juara. Mereka sangat sigap mengisi botol minum, memijat kaki yang rasanya mau copot, serta terus menerus meneriakkan kata-kata semangat yang membakar motivasi. Jika ada piala untuk manajemen water station terbaik, maka BDG Ultra adalah pemenang mutlaknya.
Strategi Pacing
Kembali ke jalannya race. Lari trail bukan cuma soal kecepatan, melainkan soal strategi. Kapan harus lari? Kapan harus jalan? Bagaimana caranya agar tidak menyerah saat otot mulai protes?
Tanjakan bukan musuh saya. Serius. Malah turunan yang membuat saya merasa insecure. Strategi awal saya adalah pacing secepat mungkin agar tidak terjebak antrean pendaki di jalur sempit. Saya mengebut dari titik start di Hotel Jayakarta, melewati Tahura, hingga akhirnya jalur terasa lancar jaya. Kalau tanjakan mulai curam, saatnya trekking pole keluar. Beban badan segera berpindah ke tangan. Hal ini lumayan membantu dengkul yang rasanya sudah mau protol.
Ujian mental terberat adalah panasnya siang bolong. Untungnya, pemandangan Bandung dengan jajaran pohon hijau menyegarkan mata. Walaupun jujur saja, saat itu saya hanya ingin nyebur ke kolam.
Start dimulai pagi hari dalam suasana heboh. Saya berlari melewati Tahura yang rindang sementara tanjakan demi tanjakan terus menghadang. Di sini relawan kembali menunjukkan kelasnya dengan makanan yang enak dan kesigapan yang luar biasa.
Menembus Gelap
Momen paling absurd terjadi saat saya sampai di Puncak Upas pas maghrib. Kondisi gelap gulita. Saya sendirian dengan headlamp yang redupnya minta ampun. Tiba-tiba ada dua pelari menyalip saya. Secara refleks saya mengikuti mereka sekuat tenaga, namun akhirnya tertinggal juga. Headlamp saya buruk dan saya lemah di turunan makadam. Benar-benar ngenes.
Turunan makadam di Puncak Upas itu terasa seperti neraka. Tumit kaki kanan saya langsung protes keras. Sampai sekarang rasa nyerinya masih sering muncul.
Saya akhirnya menyentuh garis finish sekitar jam 20:15. Total waktu lari mencapai 15 jam. Setelah menyelesaikan ultra trail kedua ini, tidak ada teman yang menyambut saya di garis finish. Ya sudahlah. Saya langsung pulang ke hotel dan melakukan hibernasi total sampai keesokan harinya.
Refleksi
BDG Ultra itu gila. Event ini menguji fisik dan mental hingga batas maksimal yang mungkin bisa dicapai oleh seorang manusia biasa. Saya belajar banyak tentang diri sendiri, tentang ketahanan, dan tentang pentingnya persiapan meskipun kali ini persiapan saya agak amburadul.
BDG Ultra ini semacam perjalanan spiritual yang dibalut dengan wisata kuliner sop ayam gratis. Tertarik mencoba BDG Ultra? Jangan takut dengan tanjakan dan jangan gentar dengan turunan. Di setiap langkah dan di setiap kilometer yang melelahkan, Anda akan menemukan kekuatan tersembunyi yang mungkin selama ini belum Anda sadari keberadaannya. Siap untuk menaklukkan diri sendiri? Sampai jumpa di BDG Ultra 2025.
No comments
Thank you for leaving a comment :)